Kenaikan nilai BBM solar non subsidi dinilai bukan sekadar gejolak sementara, melainkan berpotensi menjadi momentum perubahan besar di pasar otomotif nasional. Selama ini, kendaraan diesel dikenal mempunyai daya tahan tinggi dan efisiensi biaya nan membuatnya digemari masyarakat.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai kondisi saat ini bisa menjadi titik kembali bagi eksistensi mobil diesel di Indonesia.
“Kenaikan nilai ini bisa jadi titik kembali alias tipping point bagi diesel di Indonesia. Selama 20 sampai 30 tahun diesel mendominasi segmen SUV & MPV berkah kombinasi performa hingga biaya rendah,” kata Yannes, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, selama puluhan tahun gambaran irit menjadi fondasi utama daya tarik kendaraan diesel. Namun dengan kenaikan nilai nan cukup drastis, persepsi tersebut mulai berubah di mata konsumen.
“Sekarang salah satu pilar utamanya ialah biaya rendah, runtuh. Jika kenaikan nilai ini permanen, pamor diesel kemungkinan besar bakal menurun dalam 1–3 tahun ke depan, terutama di kalangan konsumen pribadi dan armada ringan,” katanya.
Menurutnya, perubahan ini tidak hanya berakibat pada keputusan pembelian, tetapi juga pada langkah pandang masyarakat terhadap teknologi diesel. Konsumen nan sebelumnya loyal sekarang mulai membuka opsi lain nan dinilai lebih efisien.
“Citra irit nan selama puluhan tahun jadi fondasi worldview diesel sekarang sudah goyah berat, perlahan digantikan hybrid,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, kendaraan diesel diprediksi bakal menghadapi tantangan besar ke depan. Selain tekanan nilai BBM, kehadiran teknologi elektrifikasi seperti hybrid dan PHEV juga semakin mempersempit ruang pertumbuhan segmen ini di pasar otomotif Indonesia.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·