Pengamat Optimistis Harga Pertamax Diproyeksikan Turun Bertahap, Ini Alasannya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Pengamat Optimistis Harga Pertamax Diproyeksikan Turun Bertahap, Ini Alasannya Antrean panjang kendaraan bermotor mengisis bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertalite di SPBU Kramat, Senen, Jakarta, Rabu (10/6/2026). Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian nilai jual BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dari Rp12.300(Usman Iskandar/MI)

DOSEN ekonomi daya Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyaki memproyeksikan nilai bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax turun secara berjenjang dari Rp16.250 per liter pada Juni, menuju kisaran Rp12.100-Rp13.500 per liter pada Desember 2026.

Ia berdasar bahwa penurunan nilai BBM nonsubsidi sudah terbuka seperti Dexlite dan Pertamina Dex.

Adapun besaran nilai nan diproyeksikan ialah Pertamx bisa urun ke level Rp15.228 per liter pada Juli, kemudian Rp14.557 per liter pada Agustus, Rp14.112 per liter pada September, Rp13.814 per liter pada Oktober, Rp13.614 per liter pada November, lampau Rp13.479 per liter pada Desember dengan perkiraan  Minyak Mentah Indonesia/ICP berangsur turun menuju level 90,6 dolar AS per barel pada Desember 2026 dan kurs nan berangsur menguat dari Rp17.927 menjadi Rp16.959 pada Desember 2026.

Yayan menyampaikan dinamika bentrok antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran memang dinamis. 

Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 117 dolar AS per barel pada April, lampau terkoreksi sigap ke kisaran 78 dolar AS per barel setelah kerangka tenteram AS-Iran nan mulanya bakal ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6).

Kemudian, nilai minyak mentah Brent naik kembali di atas 80 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta) per barel pada Jumat (19/6), seiring penanammodal mempertimbangkan meningkatnya akibat geopolitik setelah dibatalkannya perundingan nan direncanakan antara Amerika Serikat dan Iran, serta serangan baru Israel di Lebanon.

Harga minyak dunia, sambung dia, turut mempengaruhi nilai minyak mentah rata-rata Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) nan digunakan untuk menentukan nilai BBM nonsubsidi. Dalam APBN 2026, dugaan makro mematok ICP berada di level 70 dolar AS per barel.

"Pemerintah perlu menyiapkan simulasi skenario, misalkan ICP 70-90 dolar AS per barel,"ucap dia. (Ant/H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia