Peneliti: Kajian Ulang Batas Limbah Cair Sawit 100 mg/l Diperlukan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Pakar: Wacana standar pemisah limbah sawit 100 mg/l perlu dikaji ulang.

, JAKARTA, – Peneliti dari Pusaka Kalam, Gunawan Djajakirana, menekankan pentingnya kajian ulang terhadap rencana standar pemisah Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) dan Biological Oxygen Demand (BOD) di bawah 100 mg/l. Menurutnya, kebijakan tersebut perlu ditinjau agar tetap berdasarkan pendekatan ekologi tanah dan praktik agronomi berkelanjutan.

Gunawan menjelaskan bahwa kebijakan nan mengharuskan industri sawit mengolah LCPKS hingga tingkat BOD sangat rendah sebelum dibuang ke sungai bisa menyia-nyiakan potensi limbah sebagai pupuk organik alami. "Lingkungan tidak otomatis kondusif hanya lantaran BOD rendah. Kaji ulang draf Permen LH agar tidak mengabaikan potensi baik LCPKS," ujarnya.

Potensi LCPKS sebagai Pupuk Organik

Pakar pengetahuan tanah lulusan Goettingen Universitat itu mengungkapkan bahwa LCPKS dapat menjadi pupuk organik nan baik untuk meningkatkan produktivitas pohon sawit secara berkelanjutan. Parameter nan selama ini digunakan, seperti BOD dan pH, sering kali mengabaikan unsur hara lain seperti nitrogen, fosfor, kalsium, magnesium, dan kalium.

Berdasarkan kajian lapangan, LCPKS dengan BOD rendah tetap mengandung hara tinggi nan dapat menyebabkan eutrofikasi jika dibuang ke sungai, nan berpotensi memicu ledakan pertumbuhan alga dan merusak ekosistem perairan.

Gunawan menilai paradigma pembuangan limbah merupakan pendekatan lama nan tidak relevan. Sebaliknya, LCPKS semestinya dimanfaatkan untuk memperbaiki kegunaan tanah, terutama dalam menghadapi krisis bahan organik tanah di Indonesia akibat penggunaan pupuk sintetis nan berlebihan.

Pengelolaan LCPKS untuk Agronomi Berkelanjutan

Gunawan menggarisbawahi pentingnya pengaturan dosis dalam prinsip agronomi. LCPKS dengan konsentrasi tinggi tetap kondusif jika digunakan dalam volume mini dan langsung diaplikasikan ke tanah sebagai nutrisi mikroorganisme. Sebaliknya, limbah dengan konsentrasi rendah tetap bisa rawan jika dibuang dalam jumlah besar ke sungai.

Konten ini diolah dengan support AI.

sumber : antara

Selengkapnya
Sumber Republika Nasional
Republika Nasional