Peneliti Estimasi Kasus Ebola di Kongo Tembus 800 Kasus, Lampaui Data Resmi

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Peneliti Estimasi Kasus Ebola di Kongo Tembus 800 Kasus, Lampaui Data Resmi Ilustrasi.(Magnific)

ANALISIS terbaru dari para peneliti di Imperial College London dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan kebenaran mengejutkan mengenai pandemi Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC). Jumlah jangkitan diperkirakan melampaui 800 kasus, jauh lebih tinggi daripada nomor nan dilaporkan secara resmi oleh otoritas terkait.

Analisis nan didasarkan pada info kasus hingga Sabtu (16/5) ini menemukan bahwa skala pandemi kemungkinan besar jauh lebih besar daripada nan terdeteksi secara resmi. Kekhawatiran ini diperkuat setelah Uganda mengonfirmasi ada jangkitan pada pelancong nan berasal dari Provinsi Ituri, wilayah timur Kongo.

"Secara kolektif, perihal ini menunjukkan bahwa epidemi ini lebih besar daripada nan dipastikan saat ini. Namun, besaran pastinya tetap belum pasti," tulis para peneliti dalam laporan tersebut.

Ancaman Virus Bundibugyo

Kelompok peneliti nan dipimpin oleh Anne Cori, master pemodelan matematika dan statistik dari Medical Research Council Centre for Global Infectious Disease Analysis, Imperial College, memberikan perkiraan nomor nan mengkhawatirkan.

Tim peneliti memperkirakan bahwa sekitar 400 hingga 800 kasus ebola nan disebabkan oleh virus Bundibugyo kemungkinan telah terjadi di Kongo hingga 17 Mei 2026. Namun, mereka tidak menutup kemungkinan nomor tersebut bisa menembus 1.000 kasus mengingat ketidakpastian info saat ini.

Hingga saat ini, lebih dari 540 kasus suspek dan puluhan kematian dilaporkan sejak pandemi dimulai pada akhir April, dengan pusat penyebaran utama di Provinsi Ituri. Karakteristik virus Bundibugyo nan berbeda dari strain Zaire menambah tantangan dalam proses diagnostik dan penanganan medis di lapangan. (Bloomberg/I-2)

Status Darurat Internasional

Merespons situasi nan kian genting, WHO pada hari Minggu telah menetapkan status pandemi ini sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat nan Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC). Ini merupakan tingkat sirine tertinggi dalam protokol kesehatan global.

Penetapan status ini dilakukan lantaran adanya akibat penyebaran lintas pemisah nan nyata, seperti nan telah terdeteksi di Uganda. Para mahir memperingatkan bahwa tanpa intervensi nan lebih masif dan pencarian kontak nan lebih agresif, nomor jangkitan riil bakal terus menjauh dari nomor nan sukses didata oleh sistem kesehatan di Kongo.

Kondisi keamanan di wilayah Ituri nan tetap naik turun juga menjadi halangan besar bagi tim medis untuk menjangkau daerah-daerah terpencil, nan diduga menjadi kantong-kantong penyebaran virus nan belum terpetakan.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia