Pendidikan di Yogyakarta bersiap memasuki arah baru. Bukan sekadar soal capaian akademik, tetapi gimana siswa bersikap, berbicara, dan membawa dirinya dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai Mei mendatang, Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) bakal diluncurkan sebagai bagian dari penguatan pendidikan berbasis budaya di semua jenjang pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dari PAUD hingga perguruan tinggi.
”Akan diluncurkan 4 Mei oleh Bapak Gubernur (Sultan HB X). Akan diterapkan di semua lembaga pendidikan di DIY dari tingkat PAUD, sekolah dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi,” ujar Ketua Dewan Pendidikan DIY sebagai inisiator PKJ, Sutrisna Wibawa, saat dihubungi Pandangan Jogja, Kamis (23/4).
Sutrisna Wibawa menjelaskan bahwa pendekatan nan ditawarkan dalam PKJ tidak dimulai dari konsep besar nan abstrak, melainkan dari hal-hal nan sangat dekat dengan keseharian.
Cara meminta izin, mengucapkan terima kasih, hingga gimana menghormati orang lain menjadi pintu masuk. Hal-hal sederhana itu justru dipandang sebagai fondasi utama pembentukan karakter, bukan sekadar etika tambahan nan diajarkan sesekali.
”Dalam PKJ, perihal itu diajarkan dalam konsep “Ngajeni”, ialah Ngapurancang, Jempol, Nuwun Sewu/Ndherek Langkung, Matur Nuwun, Mangga, dan Injih,” jelasnya.
Meski baru bakal diluncurkan bulan depan, namun PKJ sudah diujicobakan di nyaris 100 lebih lembaga pendidikan di DIY, dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi.
”Ada empat kitab tentang PKJ nan sudah kami buat sebagai pedoman penerapan PKJ di sekolah maupun kampus, dan semua kitab ini sudah ada e-booknya dan bisa diunduh gratis,” ujar Sutrisna Wibawa.
3 Filosofi, 5 Nilai
Menurut Sutrisna, pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi. Ia kudu tumbuh melalui pembiasaan. Dalam PKJ, siswa tidak hanya diperkenalkan pada nilai, tetapi diajak untuk menerima, menanggapi, hingga menginternalisasikannya dalam perilaku sehari-hari.
Ada tiga filosofi nan menjadi jiwa Pendidikan Khas Kejogjaan, ialah Hamemayu-hayuning Bawana nan menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, Sangkan-paraning Dumadi nan membujuk manusia memahami asal-usul dan tujuan hidupnya, dan Manunggaling Kawula-Gusti.
Tiga filosofi ini lampau dijabarkan menjadi lima nilai utama, ialah Hamengku, Hamangku Hamengkoni; Mangasah-mingising budi; Memasuh-malaning bumi; Sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh; Pamenthangin gandhewa, pamenthenging cipta; dan Golong gilig.
”PKJ berparadigma karyenak tyasaning sasama, nan berfaedah harmoni dengan tujuan membentuk jalma kang utama, ialah manusia utama, insan-insan nan pandai namun mempunyai kepribadian budaya Ngayogyakarta Hadiningrat,” jelas Sutrisna Wibawa.
PKJ juga tidak datang sebagai mata pelajaran baru nan berdiri sendiri. Ia dirancang sebagai penguat dari sistem pendidikan nan sudah ada.
“Nantinya PKJ ini bisa diajarkan melalui mata pelajaran intrakurikuler maupun ekstrakurikuler,” jelasnya.
Belajar dari Jepang dan China
Sutrisna Wibawa menjelaskan bahwa penyusunan PKJ juga belajar dari praktik di sejumlah negara maju seperti Jepang dan China. Di dua negara tersebut, pendidikan tentang kearifan lokal menurutnya sudah diterapkan sejak usia awal sehingga membentuk manusia-manusia nan tidak hanya cerdas, tapi juga mempunyai karakter nan kuat.
”Kita lihat di Jepang dan China, mereka kan luar biasa budaya menghormati orang lainnya misalnya. Jadi pendidikan mereka tidak hanya menciptakan manusia nan cerdas, begitu juga dengan Pendidikan Khas Kejogjaan ini,” ujar Sutrisna Wibawa.
Nantinya, kurikulum nasional tetap berjalan, namun bakal diperkaya dengan konteks budaya Yogyakarta. Dalam pedoman PKJ disebutkan bahwa pendidikan di DIY merupakan “Pendidikan Nasional Plus”, ialah pendidikan nasional nan dipadukan dengan nilai-nilai budaya lokal.
Ada banyak langkah menerapkan PKJ di sekolah, misalnya dengan menerapkan konsep “Ngajeni”, memasang petuah-petuah dan atribut tentang Jogja di ruang sekolah, hingga pembelajaran luar kelas seperti tur di Sumbu Filosofi Jogja.
Dengan langkah ini, proses belajar tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk langkah berpikir, bersikap, dan berinteraksi.
“Harapannya, siapa pun nan pernah mengenyam pendidikan di Yogyakarta tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga membawa nilai dan langkah hidup nan khas. Nilai-nilai itu diharapkan tetap melekat, apalagi ketika mereka berada di luar Yogyakarta,” jelasnya.
Penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan di Sekolah
Tahun ini, PKJ sudah mulai diujicobakan di 100 lembaga pendidikan, salah satunya di SD Negeri Jetisharjo, Kota Yogyakarta, nan memanfaatkan ruang kosong menjadi ruangan berisi wayang dan kelirnya, dolanan anak-anak, hingga kerajinan topeng nan mendukung keberlangsungan PKJ.
Setiap hari sebelum pembelajaran dimulai, para siswa bakal diajarkan tembang-tembang unik Jogja hingga mengenal dolanan anak-anak.
Koordinator PKJ SD Negeri Jetisharjo, Ardika Adiputra Ramadhansyah, mengatakan bahwa PKJ nyaris sama dengan Bahasa Jawa alias muatan lokal mata pelajaran reguler, namun PKJ menekankan nilai filosofi dari pengetahuan pengetahuan itu sendiri.
“Di PKJ tidak ada aksara jawa, di kurikulum (muatan lokal alias mapel bahasa jawa) ada. Di PKJ tidak ada wayang, tapi nan diajarkan filosofi wayangnya,” kata Ardika ditemui Pandangan Jogja di kantornya, Jumat (24/4).
Siswa juga diajarkan sopan santun dalam bertindak seperti, membungkukkan badan jika melewati orang nan lebih tua, menunjuk sesuatu menggunakan jempol, hingga menggunakan bahasa krama alus.
Salah satu pembimbing nan telah menerapkan PKJ ini, Sri Anjarningsih, mengatakan PKJ menjadi sarana pembelajaran menyenangkan. Selama 3 tahun lebih PKJ ini diterapkan, etika para siswa kian berubah.
“Sekarang anak-anak jika jalan mendahului itu sungkan. Kalau ada pembimbing alias orang nan lebih tua duduk, mau lari mereka ditahan dulu, mereka menunduk dulu. Kemudian jika ada tamu meskipun dia enggak kenal itu salam, salim,” katanya.
Senada dengan SD Negeri Jetisharjo, Kepala TK Negeri 2 Yogyakarta, Kitri Sawitri, mengatakan bahwa PKJ ini selalu diajarkan kepada siswa setiap 30 menit sebelum pembelajaran reguler dimulai.
Para siswa mendapatkan materi mengenai lagu-lagu Jawa, dolanan (mainan), hingga seputar budaya istiadat Yogyakarta. Rencananya, dia juga bakal kembali mengaktifkan pembelajaran menabuh gamelan.
“Setiap 30 menit pra pembelajaran itu kota ada pembelajaran outdoor, unik Kejogjaan kita masukkan di situ. Permainan seperti cublak-cublak suweng kita ajarkan. Setiap jumat kita kudu menggunakan bahasa Jawa,” kata Kitri ditemui di kantornya, Jumat (24/4).
“Gamelan kita sudah punya, insyaallah tahun depan bakal kita kenalkan lagi untuk nabuh,” ujarnya.
Apa Indikator Keberhasilan Pendidikan Khas Kejogjaan?
Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Disdikpora DIY, R Suci Rohmadi, menjelaskan bahwa ada beberapa parameter keberhasilan PKJ, parameter pertama mengenai perilaku siswa.
”Ketika perilaku siswanya kelak menjadi lebih santun, etikanya bagus, kemudian terjadi penurunan kasus bullying, tidak ada kekerasan nan terjadi di satuan pendidikan, itu satu perihal nan menunjukkan bahwa PKJ ini sukses,” ujar Suci Rohmadi dalam obrolan Rembag Kaistimewan nan digelar Paniradya Kaistimewan, Jumat (24/4).
Indikator kedua adalah tentang terbentuknya lingkungan sekolah nan berbudaya sesuai dengan nan diajarkan dalam PKJ.
”Indikator lingkungan sekolah adalah kolaborasi. PKJ tidak mungkin bakal sukses jika tidak ada kerjasama antara sekolah, masyarakat, orang tua, tokoh masyarakat, dan nan lainnya. Semua kudu saling mendukung, tidak hanya bisa diserahkan kepada satuan pendidikan saja,” ujar Suci Rohmadi.
Pelaksanaan Pendidikan Khas Kejogjaan selama ini didukung oleh Dana Keistimewaan (Danais) DIY.
Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan DIY, Nugraha Wahyu Winarna, menjelaskan bahwa support Danais untuk PKJ sudah dimulai sejak 2022 untuk menyusun empat kitab tentang PKJ.
”Secara berturut-turut kitab itu juga dicetak dari Dana Keistimewaan. Saat ini semua sekolah di DIY sudah mempunyai kitab Pendidikan Khas Kejogjaan,” ujar Nugraha
Selain pembuatan buku, beragam training alias pengarahan teknis (bimtek) juga telah dilaksanakan untuk para pembimbing dari tingkat dasar hingga menengah atas.
“Dan launching nan Insyaallah bakal dilaksanakan pada 4 Mei juga dari Dana Keistimewaan bakal ikut support. Dan selanjutnya kelak kami juga bakal selalu melaksanakan monev, kita evaluasi, kita monitoring, kebutuhan apa nan tetap dibuhkan,” pungkasnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·