Dokter Spesialis Patologi menekankan pentingnya pengobatan komprehensif dan skrining awal bagi penderita thalasemia.(Dok. Magnific)
PENGATURAN pola hidup dan pengobatan komprehensif bagi penderita thalasemia menjadi keharusan absolut guna mencegah keparahan penyakit genetik nan memicu anemia kronis. Dokter Spesialis Patologi RSJD Atma Husada Kalimantan Timur, Dewi Paramita, menekankan pentingnya penanganan nan tepat untuk menghindari kerusakan organ vital.
Dewi menjelaskan bahwa thalasemia disebabkan oleh kerusakan pada kromosom 11 dan 16 nan menghalang produksi protein globin. Kondisi ini membikin sel darah merah menjadi lebih kecil, rapuh, dan mudah hancur saat melewati pembuluh darah.
"Penderita thalasemia dilarang keras mengonsumsi suplemen unsur besi, lantaran transfusi berulang memicu penumpukan besi berlebih nan rawan bagi organ dalam seperti jantung dan ginjal," ujar Dewi Paramita.
"Sebagai langkah pencegahan, lantaran penyakit ini belum bisa disembuhkan, setiap calon pasangan suami istri sangat diwajibkan untuk menjalani skrining awal guna mendeteksi apakah mereka membawa sifat genetik bawaan sebelum melangsungkan sebuah pernikahan," tambahnya.
Detail Penyakit dan Risiko:
Penyakit ini terbagi menjadi tiga kategori berasas tingkat keparahannya:
- Thalasemia Mayor: Membutuhkan transfusi darah seumur hidup.
- Thalasemia Intermedia: Gejala lebih ringan.
- Thalasemia Minor: Sering kali tidak menunjukkan indikasi klinis.
Secara medis, jika sesama pembawa sifat (carrier) menikah, terdapat akibat 50% anak lahir sebagai pembawa sifat dan 25% menderita thalasemia mayor nan mematikan. Diagnosis dilakukan melalui pertimbangan darah lengkap, gambaran darah tepi, pemeriksaan status besi, hingga elektroforesis hemoglobin.
BPJS Kesehatan telah menanggung sepenuhnya biaya pengobatan thalasemia di wilayah Kaltim. Fasilitas penunjang tersedia memadai di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda dan Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.
Dewi mengimbau para orang tua untuk peka terhadap indikasi awal pada anak, seperti tubuh nan mudah lesu, sigap capek saat beraktivitas fisik, dan wajah nan tampak pucat. (Ant/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·