Pendamping Korban Ceritakan Kekejian Peristiwa Perkosaan Massal Mei 1988

Sedang Trending 5 bulan yang lalu
Pendamping Korban Ceritakan Kekejian Peristiwa Perkosaan Massal Mei 1988 Ilustrasi(Dok Istimewa)

PENDAMPING korban perkosaan Mei 1998, Ita Fatia Nadia, menceritakan pengalamannya dalam menangani para wanita nan menjadi korban perkosaan massal Mei 1998. Salah satu kisah kudu nan dia ungkapnya terjadi pada seorang wanita berumur 11 tahun. 

“Di tangan saya ada 15 korban dari nan terkecil berjulukan Fransiska di Tangerang Selatan nan diperkosa dan meninggal. Mayatnya saya bawa berbareng tim relawan ke Cilincing untuk dikremasi. 11 tahun umurnya nan dihancurkan perangkat kelaminnya. Anda bisa membayangkan. Dikremasi dan kami menunggu sampai jam 4 pagi menotok satu demi satu tulangnya kami bungkus. Saya dekap abunya, saya bawa ke Cilincing dan saya taburkan abunya lantaran ibu dan kakaknya meninggal duluan. 11 tahun,” ungkapnya dalam konvensi pers di Kantor Komnas Perempuan, Rabu (22/4). 

Korban lainnya adalah Ita Martadinata, di mana seminggu sebelum dibunuh, Ita Fatia mengatakan bahwa dirinya tetap duduk berbareng Ita Martadinata dan bercerita gimana antusiasmenya dia bakal berangkat ke PBB di New York untuk bercerita. 

“Tapi sebelum itu, saya mengantar Ita Martadinata untuk menemui seorang master di RSCM. Ketika kita bertemu, sebelum dia dibunuh, dia diperiksa dan vaginanya sudah hancur mengalami infeksi. Saya cerita ini lantaran saya sudah marah. Ita Martadinata diperkosa dua kali pada akhir Mei 1998 dan sebelum dia dibunuh di kamarnya. 45 menit setelah dia dibunuh, saya datang di kamarnya, lehernya dibuka sampai sini (dahi), darahnya tetap hangat. Bayangkan,” ujar Ita Fatia. 

“Belum lagi seorang anak umur 13 tahun nan disuruh minum baygon oleh keluarganya sendiri lantaran malu dia sudah diperkosa. Dia disuruh bunuh diri oleh keluarganya. Anak umur 13 tahun,” sambungnya. 

Tim relawan untuk kemanusiaan dan tim relawan untuk kekerasan terhadap wanita menurutnya telah menyimpan sejumlah arsip dan arsip nan valid. Terdapat nama, alamat, dan family secara jelas. 

“Semua etnis Tionghoa. Seorang ibu di Cengkareng nan vaginanya ditusuk dengan batang sapu. Kami bawa dengan seorang haji, kami naik motor butut malam-malam jam 2 sampai kami kudu diikat dengan pendarahan nan terus menerus. Kami bawa ke RS Siloam di Kebon Jeruk. Itu semua nan disangkal oleh Fadli Zon dan dinegasikan oleh PTUN. Ini kebenaran sejarah,” tegas Ita Fatia. 

Saat ini, menurutnya tubuh dan seksualitas wanita telah dijadikan perangkat perubahan politik di Indonesia nan dijadikan perangkat untuk meneror masyarakat. 

“Masih ada di Surabaya saya menerima wanita umur 19 tahun nan diperkosa di lemari. Belum lagi mahasiswa kedokteran Atma Jaya berumur 18 tahun nan dipotong payudaranya dan berdarah-darah. Apakah ini bukan kebenaran dan bakal disangkal serta dinegasikan? Saya bakal mengatakan tidak,” tegasnya. 

“Saya tidak bakal berakhir menuntut Fadli Zon dan saya tidak bakal berakhir memihak mereka. Saya bakal tetap berjuang lantaran tubuh dan bunyi mereka sekarang sudah dihilangkan dan dinegasikan oleh negara ini. Negara ini kudu bertanggung jawab, negara ini telah melakukan teror dan kekerasan terhadap perempuan. Jika kita membiarkan impunitas dari pejabat negara, seluruh tubuh dan seksualitas kita sebagai wanita Indonesia bakal menjadi objek dari kekerasan berikutnya,” lanjut Ita Fatia. 

Dia pun menekankan bahwa dirinya sampai detik ini melawan militerisme lantaran seluruh arsip dan arsip nan dicatat olehnya menunjukkan gimana para militer itu melakukan kekerasan. 

“Tidak hanya pada Mei 1998, tapi juga pada 1965 terhadap mereka nan dituduh sebagai Gerwani. Saya seorang sejarahwan dan saya mengumpulkan seluruh arsip dari para wanita nan dituduh sebagai Gerwani dan gimana mereka diperkosa dan dihancurkan seksualitasnya,” urainya. 

“Kita sebagai wanita berpotensi menjadi korban kekerasan seksual oleh negara ini lantaran negara ini melakukan impunitas dan menegasikan tubuh dan seksualitas perempuan. Negara ini telah menghilangkan wanita sebagai manusia dengan menjadikannya sebagai objek kekerasan. Saya bakal melawan dan saya tidak takut,” tandas Ita Fadia. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑