Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membagikan 2.026 piagam peserta didik dalam program pemutihan tahap pertama sekaligus melepas 561 alumni SMK untuk bekerja ke luar negeri.
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat menjadi pengawas upacara Hari Pendidikan Nasional di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/5).
“Pertama, melalui program pemutihan piagam bekerja sama dengan BAZNAS BAZIS DKI Jakarta. Pada tahun 2026, tahap pertama bakal dibagikan piagam kepada 2.026 peserta didik, mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, SMK, hingga PKBM, dengan total anggaran sebesar nyaris Rp 4 miliar,” ujar Rano.
Ia menegaskan makna program tersebut lebih dari sekadar pengedaran dokumen.
“Ini bukan sekadar pembagian dokumen, ini adalah pengembalian martabat, nilai diri. Ini adalah pembukaan kembali pintu kesempatan. Sebab bagi orang, selembar piagam bukan hanya kertas, dia adalah kunci untuk bekerja, melanjutkan pendidikan, mengangkat keluarga, dan menatap masa depan dengan kepala tegak,” katanya.
Ia menambahkan, program ini juga menjadi pesan bahwa pemerintah datang untuk membuka kembali kesempatan nan sempat tertutup.
“Kita mau mengatakan kepada mereka nan sempat tertunda langkahnya, hari ini pintu itu dibuka kembali. Beban masa lampau kita ringankan, mimpi nan sempat terhenti kita hidupkan kembali,” ucap Rano.
Selain itu, Pemprov DKI juga melepas ratusan lulusan SMK untuk bekerja ke luar negeri, antara lain ke Jepang, Malaysia, dan Jerman. Program ini disebut sebagai bagian dari penguatan pendidikan vokasi agar bisa bersaing secara global.
“Kedua, pada hari ini kita melepas 561 alumni SMK di Jakarta nan siap bekerja menuju Jepang, Malaysia, dan Jerman, membawa semangat, keterampilan, disiplin, serta nama baik Jakarta dan Indonesia. Inilah wajah baru pendidikan vokasi Jakarta. Inilah semangat SMK naik kelas nan mendunia,” ungkap Rano.
Ia menekankan lulusan SMK sekarang tidak lagi dipandang sebagai pilihan kedua, melainkan mempunyai kesempatan besar di pasar kerja internasional.
“Mereka membawa pesan bahwa pendidikan vokasi bukan pilihan kedua, melainkan jalan terhormat untuk menguasai keahlian, membangun kemandirian, dan mengharumkan nama bangsa,” ucapnya.
Selain dua program itu, Rano juga membahas kebijakan lain, seperti ekspansi akses pendidikan melalui sekolah swasta cuma-cuma di ratusan sekolah di Jakarta.
“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memperluas akses pendidikan melalui program sekolah swasta gratis. Pada tahun aliran 2026/2027, program ini menyasar 103 sekolah swasta di Jakarta,” kata dia.
Program tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan seluruh anak mendapatkan pendidikan nan layak.
“Program ini adalah langkah Jakarta memotong garis ketidakberuntungan. Sebab kita tahu kemiskinan sering diwariskan bukan lantaran anak-anak tidak punya kemampuan, tetapi lantaran mereka tidak diberi kesempatan,” ujarnya.
Tak hanya itu, Pemprov DKI juga menyalurkan support pendidikan untuk wilayah terdampak musibah di Sumatera.
“Keempat, melalui aktivitas Distrik Peduli, para kepala sekolah berbareng PGRI DKI Jakarta mengirimkan bantuan sebesar 2,2 miliar rupiah untuk membantu pemulihan satuan pendidikan pascabencana,” kata Rano.
Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh terhenti dalam kondisi apa pun.
“Pendidikan tidak boleh berakhir lantaran bencana. Kelas boleh rusak, tetapi angan tidak boleh roboh. Buku boleh hilang, tetapi semangat belajar kudu tetap menyala,” ujarnya.
Rano menekankan bahwa Hardiknas kudu menjadi momentum untuk memperkuat komitmen membangun sistem pendidikan nan setara dan inklusif.
“Hari Pendidikan Nasional kudu menjadi momentum untuk memperkuat janji kita. Menjadikan Jakarta sebagai kota nan bukan hanya maju secara ekonomi, tetapi juga matang secara kemanusiaan,” kata dia.
Salah satu lulusan SMK nan bakal ke luar negeri, Navela Dwita Purnama, mengaku bakal berangkat ke Jerman melalui program Ausbildung.
“Sebenarnya itu kayak program Ausbildung namanya. Dia itu program ke Jerman. Kebetulan saya dapat di bidang Restaurantfachfrau, dia kerja sekaligus sekolah. Jadi dia jika di sini bisa disebut semacam magang ya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program tersebut memungkinkan peserta bekerja sekaligus belajar dengan support finansial.
“Dan itu kita juga dapat duit saku dari sananya lantaran kita juga kerja dan kelak kita itu dapat sekolah nan mana sama seperti jurusannya, sama kayak kerjanya,” ungkapnya.
Navela menambahkan, setelah menyelesaikan program selama tiga tahun, peserta bakal memperoleh sertifikat berlisensi internasional.
“Iya, betul. Nanti dari program Ausbildung ini kita itu dapat sertifikat nan mana dia tuh udah berlisensi ke seluruh dunia,” katanya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·