Anggie Ariesta
, Jurnalis-Minggu, 11 Oktober 2026 |10:25 WIB

Pemerintah Tarik Utang Baru Rp494,3 Triliun hingga September 2026 (Foto: Okezone)
JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi penarikan pembiayaan utang baru Rp494,3 triliun hingga akhir September 2026. Capaian ini setara 59,4 persen dari total sasaran pembiayaan utang nan ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp832,2 triliun.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara memastikan pembiayaan utang negara tetap melangkah terukur dan sesuai tenggat perencanaan (on track), dengan terus mencermati kesiapan kas negara serta dinamika pasar finansial global.
“Pembiayaan APBN, pembiayaan utang terjaga on track,” tegas Suahasil dalam konvensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Komposisi pembiayaan utang hingga akhir kuartal III-2026 ditopang utama oleh publikasi Surat Berharga Negara (SBN) secara neto sebesar Rp497,5 triliun. Realisasi instrumen SBN ini telah memenuhi 62,2 persen dari plafon sasaran sepanjang tahun 2026 nan sebesar Rp799,5 triliun.
Sementara itu, pilar pembiayaan dari pos pinjaman secara neto tercatat minus Rp3,2 triliun, berbanding dari sasaran APBN 2026 nan mengalokasikan pinjaman neto sebesar Rp32,7 triliun.
Bila dibandingkan dengan realisasi periode nan sama pada tahun lampau (Januari–September 2025) nan mencapai Rp502,9 triliun, total pembiayaan utang hingga September 2026 terpantau lebih rendah. Namun unik instrumen SBN neto, pencapaian tahun ini lebih tinggi daripada September 2025 nan saat itu sebesar Rp471,4 triliun.
Suahasil menekankan bahwa pemerintah menerapkan prinsip kehati-hatian nan tinggi serta mempertimbangkan momentum pasar sebelum mengeksekusi publikasi surat utang.
“Kita sangat memperhatikan kondisi pasar SBN dan juga kondisi ekonomi global. Karena menerbitkan SBN ini kudu dilakukan dengan sangat hati-hati, memandang kondisi pasar, tapi juga kudu oportunistik,” jelas Suahasil.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·