angdam Kalimantan Tengah Kodam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin (kanan) dan Menhut Raja Antoni mengecek langsung sejumlah titik penanganan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di area Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Kamis (1(dok.istimewa)
MENHUT Raja Antoni berbareng Pangdam Kalimantan Tengah Kodam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin mengecek langsung sejumlah titik penanganan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di area Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Dari hasil peninjauan, pemerintah menyiapkan pembukaan jalur darat dan sumur bor.
Diketahui, peninjauan dilakukan setelah sebelumnya dilakukan pemetaan sejumlah titik api menggunakan drone thermal. Pesalat menjadi salah satu letak prioritas lantaran titik api di area tersebut dinilai paling dekat dengan area inti Taman Nasional Tanjung Puting.
Menhut Raja Antoni berbareng Pangdam Kalimantan Tengah Kodam XXII/Tambun Bungai Mayor Jenderal TNI Zainul Arifin, turun langsung mengecek penanganan karhutla di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting, Kamis (15/10). Menhut dan Pangdam menggunakan kelotok, menyusuri sungai Sekonyer menuju salah satu titik kepala api.
Kondisi lapangan sendiri diketahui menghadapi hambatan akses lantaran jalur sungai sangat berjuntai pada pasang surut. Oleh lantaran itu diputuskan pembukaan jalur darat sekitar 1,5 kilometer serta pembangunan sumur bor untuk mempercepat pemadaman di titik api Pesalat.
“Daripada kita mengandalkan jalur sungai nan pasang surut itu, tadi Pak Pangdam sudah ambil keputusan. Insyaallah kita bakal justru bakal kita tembus jalur darat. Sudah dihitung sekitar 1,5 kilometer,” kata Raja Antoni.
Jalur darat tersebut bakal dirintis dengan melibatkan masyarakat setempat, TNI, Polri, Manggala Agni Kemenhut, Masyarakat dan relawan. Akses ini diharapkan dapat mendekatkan personel dan peralatan ke letak kebakaran sehingga penanganan tidak sepenuhnya berjuntai pada kondisi pasang surut.
Selain membuka akses, pemerintah menyiapkan sekitar 30 hingga 40 sumur bor di sekitar jalur menuju titik api. Air dari sumur tersebut nantinya dapat ditampung dalam tandon untuk mendukung pemadaman hingga mendekati letak kebakaran.
“Kalau dibangun sekitar ada nan 50 meter, ada nan per 100 meter, mungkin kita butuh sekitar 30 sampai 40 sumur bor. Tapi tadi membayangkan jika 1,5 kilometer mungkin juga bisa kelak pakai air dari sini, kelak kita buat tandon penampung untuk mendekati ke arah nan 1,5 kilometer itu,” ujarnya.
Selain Pesalat, pemerintah juga memetakan beberapa letak lain sebagai medan penanganan karhutla, di antaranya Teluk Pulai, Sungai Baung, serta Tanjung Rengas dan Sungai Perlu. Penguatan pasukan darat, pembangunan sumur bor, pembuatan sekat bakar jika diperlukan, hingga water bombing disiapkan sesuai kondisi masing-masing lokasi.
Menhut Raja Antoni menegaskan penanganan karhutla di Tanjung Puting dilakukan dengan menggabungkan kekuatan operasi darat dan udara. Pemerintah bakal terus mengoptimalkan TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, relawan, serta support operasi modifikasi cuaca dan water bombing untuk mengendalikan kebakaran dan mencegah api meluas ke area inti taman nasional. (Cah/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·