Pemerintah Pantau Harga Minyak usai Selat Hormuz Memanas Lagi

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti terlihat dari Musandam, Oman, 14 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah bakal memantau perubahan nilai minyak mentah usai perang Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas dan Selat Hormuz diblokade kembali.

Airlangga mengatakan, nilai minyak mentah terlalu bergejolak, setelah sempat menurun lantaran melandainya tensi perang, saat ini kembali merangkak naik.

"Ya kan kita monitor saja, kan setiap minggu up and down (naik dan turun)," ungkapnya kepada awak media saat ditemui di kantornya, Senin (13/7).

Airlangga mengatakan, nilai minyak mentah tergantung kondisi Selat Hormuz nan ditutup Iran sebagai langkah retaliasi negara tersebut atas serangan AS dan Israel.

"Harga minyak tergantung Selat (Hormuz)," imbuh Airlangga.

Harga minyak melonjak setelah AS melanjutkan gelombang serangan baru terhadap Iran. Selain itu, kedua negara juga saling berbeda mengenai status Selat Hormuz nan menjadi jalur pelayaran daya strategis dunia.

Harga minyak mentah referensi dunia Brent naik menembus level USD 79 per barel setelah menguat lebih dari 5 persen sepanjang pekan lalu. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati USD 74 per barel.

Pada Minggu (12/7), Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup “hingga pemberitahuan lebih lanjut”. Pernyataan itu disampaikan setelah pasukan Iran melancarkan serangan jawaban menggunakan drone dan rudal terhadap sekutu-sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Yordania dan Qatar.

video story embed

Lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz nan biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) bumi nyaris terhenti pada Senin (13/7). Hal itu memperpanjang perlambatan nan telah terjadi sejak ketegangan meningkat pekan lalu.

Analis senior daya MST Marquee, Saul Kavonic, menilai eskalasi terbaru memang meningkatkan ketegangan, tetapi tetap belum mengarah pada perang terbuka secara penuh.

Serangan terhadap akomodasi pengeboran minyak di Kuwait pada akhir pekan lampau menjadi serangan langsung pertama terhadap prasarana daya dalam beberapa pekan terakhir. Menurut Kavonic, andaikan bentrok meluas hingga menyasar lebih banyak prasarana energi, nilai minyak berpotensi melonjak hingga mencapai USD 100 per barel.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan