Pemerintah Diminta Perluas Layanan Kesehatan Gratis di Tengah Pelemahan Rupiah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Pemerintah Diminta Perluas Layanan Kesehatan Gratis di Tengah Pelemahan Rupiah Petugas kesehatan memeriksa seorang pasien lanjut usia di Puskesmas Batang 2, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (19/5/2026).(ANTARA/Harviyan Perdana Putra)

MELEMAHNYA nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai tidak hanya berakibat pada sektor ekonomi, tetapi juga berpotensi memicu gangguan kesehatan masyarakat, terutama kesehatan mental. Kenaikan nilai peralatan dan jasa akibat depresiasi rupiah disebut dapat meningkatkan tekanan psikologis masyarakat, khususnya golongan pelaku upaya dan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansah menilai bahwa pelemahan rupiah berakibat langsung terhadap meningkatnya nilai kebutuhan, termasuk obat-obatan dan layanan kesehatan nan tetap berjuntai pada produk impor.

"Rumah sakit sekarang obat-obat mahal semua lantaran sebagian besar bahan dasarnya impor. Akibatnya, ada masyarakat nan kesulitan mendapatkan pengobatan lantaran aspek ekonomi," kata Trubus saat dihubungi, Selasa (9/6).

Menurutnya, tekanan ekonomi nan terus meningkat dapat memicu stres berkepanjangan dan berakibat pada kondisi kesehatan masyarakat. Ia menyebut, dalam beberapa kasus, seseorang bisa mengalami penurunan kondisi kesehatan bukan semata lantaran penyakit fisik, melainkan akibat tekanan mental nan dialami.

"Bisa saja seseorang sakit lampau kondisinya memburuk lantaran stres akibat tekanan ekonomi. Jadi akibat pelemahan rupiah terhadap kesehatan masyarakat cukup signifikan," ujarnya.

Trubus menjelaskan, kenaikan nilai peralatan dan jasa nan mencapai sekitar 30 hingga 40 persen turut membebani masyarakat. Kondisi tersebut diperparah dengan kenaikan beragam pajak dan biaya hidup nan dinilai membikin masyarakat kehilangan rasa kondusif dan nyaman secara ekonomi.

"Pendapatan nan diterima masyarakat tidak sebanding dengan beban pengeluaran nan kudu ditanggung. Itu nan membikin tekanan mental semakin besar," ucapnya.

Karena itu, Trubus mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, untuk memperluas jasa kesehatan cuma-cuma bagi masyarakat terdampak tekanan ekonomi. Menurutnya, program cek kesehatan cuma-cuma perlu diperkuat, termasuk jasa konsultasi dan penanganan gangguan kesehatan mental.

"Pemerintah kudu membuka jasa kesehatan cuma-cuma bagi masyarakat, terutama nan mengalami tekanan mental akibat kondisi ekonomi saat ini," jelasnya.

Ia juga mengusulkan agar jasa kesehatan masyarakat diperluas hingga 24 jam untuk mengakomodasi keluhan masyarakat nan mengalami gangguan kesehatan akibat tekanan psikologis.

"Secara bentuk mungkin terlihat sehat, tetapi lantaran tekanan mental mereka menjadi mudah sakit, meriang, alias merasa tidak nyaman," tuturnya.

Selain itu, Trubus menilai pemerintah perlu mempertimbangkan penyediaan obat-obatan dan perangkat kesehatan secara lebih maksimal melalui support negara agar masyarakat tidak semakin terbebani oleh mahalnya biaya kesehatan.

"Kalau obat-obatan semakin mahal, sebaiknya negara datang menyediakan sehingga masyarakat tidak perlu lagi menanggung seluruh biaya sendiri," pungkasnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia