Ilustrasi(Magnific.com)
KONSULTAN pendidikan dan pegiat aktivitas keayahan Indonesia Rizky Tajuddin mengingatkan bahwa peran ayah sebagai teladan mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan karakter dan keahlian anak mengelola emosi.
Menurutnya, anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat nan diberikan orang tua, tetapi terutama dari perilaku nan mereka saksikan setiap hari.
"Anak itu merekam apa nan mereka lihat dan dengar. Mereka memperhatikan nada bunyi ayah, ekspresi wajah, langkah ayah menegur, langkah ayah memperlakukan ibu, hingga langkah ayah meminta maaf," kata Rizky dalam aktivitas kelas Gerakan Ayah Teladan, Senin (22/6).
Ia mencontohkan, banyak orang tua nan meminta anak tidak berteriak alias tidak marah-marah, namun justru menyampaikan larangan tersebut dengan nada tinggi dan penuh kemarahan.
Kondisi itu membikin anak lebih mudah meniru perilaku dibandingkan mengikuti nasihat nan disampaikan.
Menurut Rizky, menjadi panutan berfaedah memperagakan langsung perilaku nan mau diajarkan kepada anak.
Anak mungkin melupakan nasihat orang tua, tetapi bakal mengingat gimana ayah menghadapi kemarahan, kekecewaan, konflik, maupun kegagalan.
Ia juga menegaskan bahwa semua emosi pada dasarnya berkarakter wajar dan manusiawi. Seorang ayah boleh merasa marah, kecewa, sedih, alias lelah.
Namun, nan terpenting adalah gimana emosi tersebut diekspresikan tanpa menyakiti anak.
"Ayah boleh marah, ayah boleh kecewa, ayah boleh lelah. Tapi anak tetap perlu mendapatkan rasa aman. Ayah sedang emosi, tetapi tidak bakal menyakiti," ujarnya.
Rizky mengingatkan agar anak tidak dijadikan pelampiasan tekanan nan dialami orang tua, misalnya setelah menghadapi masalah di tempat kerja. Sebaliknya, rumah kudu menjadi ruang nan kondusif bagi anak untuk berinteraksi dengan ayah.
Ia juga menyoroti pentingnya respons orang tua ketika anak melakukan kesalahan. Menurutnya, kesalahan merupakan bagian dari proses belajar nan semestinya diperbaiki, bukan dijadikan argumen untuk menghina alias merendahkan anak.
"Tegas itu jelas dan bermaksud memperbaiki. Kasar itu melukai. Dua perihal ini berbeda," katanya.
Selain itu, Rizky menilai perbedaan pendapat dan bentrok antara ayah dan ibu merupakan perihal nan wajar.
Namun, langkah orang tua menyelesaikan bentrok bakal menjadi pelajaran berbobot bagi anak mengenai hubungan nan sehat dan saling menghormati.
"Anak laki-laki belajar gimana memperlakukan wanita dari langkah ayah memperlakukan ibunya. Anak wanita juga belajar standar perlakuan nan layak dia terima dari sana," ujarnya.
Rizky menambahkan, ayah tidak perlu takut kehilangan wibawa ketika mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada anak.
Justru sikap tersebut mengajarkan tanggung jawab, keberanian mengakui kesalahan, dan pentingnya menjaga hubungan dibanding mempertahankan gengsi.
Ia membujuk para ayah melakukan refleksi terhadap perilaku sehari-hari di rumah. Salah satunya dengan bertanya kepada diri sendiri apakah mereka rela jika anak meniru langkah mereka marah, berbincang kepada pasangan, alias menghadapi masalah.
"Emosi apa nan paling sering saya wariskan di rumah? Aman alias tegang?" ujarnya.
Rizky menegaskan bahwa ayah merupakan pembimbing pertama bagi anak dalam memahami dan mengelola emosi.
"Ayah adalah kurikulum emosi pertama bagi anak. Sebelum anak belajar mengelola emosi dari sekolah, dia lebih dulu belajar dari wajah, suara, dan respons ayahnya di rumah," kata Rizky.(H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·