Pembelajaran Tak Lagi Sekadar Hafalan, Inkuiri Kian Didorong

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Pembelajaran Tak Lagi Sekadar Hafalan, Inkuiri Kian Didorong Saat ini semakin banyak sekolah dan orang tua mencari pendekatan pembelajaran nan dapat mempersiapkan siswa menghadapi bumi nan semakin saling terhubung.(Dok. IB World Schools)

PENDEKATAN pembelajaran nan mendorong siswa aktif bertanya, menyelidiki persoalan, dan mengembangkan pemikiran secara berdikari mulai mendapat perhatian lebih besar di tengah perubahan kebutuhan pendidikan. Sekolah dan orang tua tidak hanya mempertimbangkan capaian akademik, tetapi juga keahlian siswa berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Perkembangan tersebut antara lain terlihat dari bertambahnya sekolah nan menerapkan program International Baccalaureate (IB) di Indonesia. Hingga saat ini, jumlah IB World Schools di Indonesia telah mencapai 80 sekolah, meningkat dari sebelumnya nan berada di kisaran 70 sekolah.

Senior IB World Schools Manager, Asia Pacific, Florian Baciu, mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan perubahan nan lebih luas dalam bumi pendidikan. Menurut dia, semakin banyak sekolah dan orang tua mencari pendekatan pembelajaran nan dapat mempersiapkan siswa menghadapi bumi nan semakin saling terhubung.

"Pertumbuhan ini menunjukkan adanya pergeseran menuju pendekatan pembelajaran nan mempersiapkan siswa untuk bumi nan semakin terkoneksi, tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada keahlian berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi," ujar Florian.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan komunikasi telah membikin pemisah geografis semakin mengecil. Karena itu, siswa memerlukan kompetensi nan lebih luas daripada sekadar penguasaan materi pelajaran.

Komunitas sekolah di beragam negara, termasuk Indonesia, mulai mengangkat pendekatan nan membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan pola pikir untuk melanjutkan pendidikan sekaligus menghadapi kehidupan di luar sekolah.

Salah satu karakter pendidikan IB adalah pendekatan inquiry-based learning alias pembelajaran berbasis inkuiri. Dalam pendekatan ini, siswa didorong untuk aktif bertanya, menyelidiki beragam gagasan, serta berpikir secara berdikari dan kritis terhadap lingkungan di sekitarnya.

"Alih-alih hanya menghafal informasi, siswa didorong untuk berkolaborasi, mengomunikasikan ide-ide mereka, dan menerapkan pembelajaran dalam konteks bumi nyata," kata Florian.

Pendekatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk membangun fondasi akademik, tetapi juga memberikan pengalaman belajar nan berangkaian dengan persoalan di lingkungan sekitar.

Pada jenjang Primary Years Programme (PYP), misalnya, siswa menyelesaikan PYP Exhibition sebagai proyek akhir. Mereka memilih rumor nan dianggap krusial dan mengambil tindakan nyata di masyarakat. Sementara pada Middle Years Programme (MYP) terdapat Personal Project dan Community Project. Pada Diploma Programme (DP), siswa menjalankan Creativity, Activity, Service (CAS).

"Kami sengaja membangun tahapan pembelajaran nan mendorong tindakan dan akibat di luar sekolah. Tujuannya agar siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga bisa membikin perubahan di organisasi mereka," jelas Florian.

Ia mengatakan banyak sekolah IB di Indonesia mengintegrasikan program IB dengan kurikulum nasional. Ia memandang adanya keselarasan antara tujuan pendidikan nasional, khususnya Profil Pelajar Pancasila, dengan profil pembelajar IB. Keduanya sama-sama menekankan keahlian berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, serta pemahaman terhadap keberagaman global.

"Pendekatan pembelajaran berbasis inkuiri membantu siswa memahami tantangan bumi nyata secara lebih mendalam. Justru melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar, siswa dapat mencapai prestasi akademik nan tinggi," ujarnya.

Menurut Florian, pembelajaran nan berpusat pada siswa juga krusial lantaran setiap anak mempunyai langkah belajar nan berbeda. Pendekatan tersebut memberikan ruang agar setiap perseorangan dapat mengembangkan potensi akademiknya secara optimal.

Capaian akademik tetap menjadi salah satu pertimbangan dalam pendidikan. Florian mengatakan IB Diploma merupakan salah satu kualifikasi nan diakui secara internasional untuk masuk perguruan tinggi.

Namun, dia menekankan tujuan pendidikan IB tidak semata-mata mengarahkan seluruh siswa menuju universitas bergengsi. Dengan jaringan lebih dari 6.000 sekolah di 160 negara, program IB memberikan elastisitas bagi sekolah untuk menyesuaikan penerapannya dengan visi dan kebutuhan organisasi masing-masing.

"Ada sekolah nan berfokus pada akses ke universitas-universitas terbaik di dunia, tetapi ada juga nan menitikberatkan pada rumor lingkungan, pengabdian masyarakat, pendidikan berbasis nilai, alias pelestarian budaya lokal," katanya.

Kompetensi nan dibutuhkan di era AI
Perkembangan kepintaran buatan (AI) menjadi salah satu tantangan baru dalam bumi pendidikan. Teknologi dapat menyediakan info dalam hitungan detik, sehingga keahlian siswa dalam menilai dan menggunakan info secara tepat menjadi semakin penting.

Florian menilai keahlian berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, fleksibilitas, dan keahlian belajar sepanjang kehidupan bakal semakin dibutuhkan.

"Yang tidak dapat dilakukan AI adalah human judgment. Karena itu, siswa memerlukan lebih dari sekadar pengetahuan. Mereka perlu bisa berpikir mandiri, menghadapi tantangan nyata, dan menggunakan teknologi secara bijaksana," ujarnya.

Florian mengatakan IB terus mengembangkan pendekatan pembelajarannya agar tetap relevan dengan perubahan zaman, sembari mempertahankan pendidikan karakter sebagai bagian krusial dari proses pembelajaran.

Hampir lima dasawarsa di Indonesia
IB telah datang di Indonesia sejak 1978 dan terus memperluas jangkauannya ke beragam kategori sekolah. Pertumbuhan jumlah IB World Schools menjadi salah satu perkembangan dalam penerapan pendekatan pendidikan tersebut di Indonesia.

Florian menegaskan, pengembangan IB di Indonesia tidak hanya berangkaian dengan capaian akademik, tetapi juga upaya mempersiapkan generasi muda agar bisa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

"Yang krusial bagi kami adalah keberagaman, pengetahuan, dan potensi nan dibawa siswa ke sekolah dapat dimanfaatkan untuk masa depan Indonesia. Kami mau terus bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Indonesia agar para siswa dapat membantu menciptakan masyarakat nan lebih baik dan lebih damai," pungkasnya. (E-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia