Jakarta, CNBC Indonesia - Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menilai kebijakan pembatasan produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) oleh Pemerintah Indonesia belum berakibat besar bagi kenaikan nilai global. Hal itu disinyalir imbas dari tingginya tingkat inventori di luar negeri.
Tingkat stok nikel nan tetap melimpah di pasar dunia menahan akibat dari pengetatan pasokan nan dilakukan pemerintah.
Merujuk info Trading Economics pada Kamis (15/10/2026) nilai nikel berada di level US$15.137 per ton, melanjutkan tren penurunan setelah sempat mendekati US$20.000 per ton pada Mei 2026.
Trading Economics mencatat nilai nikel telah melemah sekitar 5,4% dalam empat pekan terakhir. Tekanan nilai terutama dipicu melimpahnya pasokan, sementara prospek permintaan belum cukup kuat untuk menyerap peningkatan produksi global.
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menyampaikan bahwa kebijakan pasokan nan lebih ketat secara teoritis telah sukses menyeimbangkan kembali pasar domestik. Namun, dia menyebut akumulasi stok nikel di pasar Tiongkok dan London Metal Exchange (LME) tetap menjadi pemicu utama tertahannya penguatan nilai nikel di tingkat global.
"Akan tetapi inventori di LME dan China, nan mana tahun ini bisa mencapai di atas 600 ribu ton, tetap menjadi masalah bagi pasar dan berpotensi membatasi kenaikan harga, ketidakpastian mengenai kebijakan/ peraturan domestik dan dunia serta kondisi geopolitik juga tetap menjadi perhatian," ujar Arif kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (16/10/2026).
FINI mencatat jumlah inventori nikel di LME dan Tiongkok pada tahun ini diperkirakan dapat menembus nomor di atas 600 ribu ton. Kondisi penumpukan stok tersebut membentengi pasar dunia di tengah upaya pemerintah menekan kelebihan pasokan nan terjadi dari tahun-tahun sebelumnya.
"Keseimbangan pasokan dan permintaan nikel sebenarnya telah berubah secara drastis sejak akhir tahun 2025. Kebijakan pasokan nan lebih ketat nan diterapkan Pemerintah Indonesia secara teoritis telah menyeimbangkan kembali pasar - mengurangi kelebihan pasokan/ over supply nan besar nan terjadi di tahun-tahun sebelumnya," imbuhnya.
Meskipun lonjakan nilai tetap terganjal stok global, pengetatan pasokan nasional telah memicu peningkatan biaya marginal di tingkat produsen. Perubahan biaya tersebut memberikan dorongan pada prospek nilai nikel berada di tingkat nan lebih tinggi dibanding perkiraan awal.
"Akibat biaya marginal nan lebih tinggi memicu prospek nilai sekarang berada di tingkat nan lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya," jelasnya.
Pengetatan pasokan tersebut juga berakibat pada penurunan produksi nikel olahan Indonesia pada 2026 nan diperkirakan berkurang 3,5% hingga 4% dibanding realisasi 2025 nikel nan sebesar 2,5 juta ton. Kendati demikian, Indonesia tetap menjadi pemain kunci dengan menguasai sekitar 60% pasokan nikel dunia.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·