Pelatih Afrika Selatan Hugo Broos mengkritik stadion tertutup di Atlanta setelah laga melawan Republik Ceko. (AFP)
PELATIH tim nasional Afrika Selatan, Hugo Broos, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi arena pertandingan setelah timnya bermain seri 1-1 melawan Republik Ceko di Atlanta. Menurut Broos, kemegahan stadion tertutup tersebut tidak mencerminkan atmosfer sepak bola nan sesungguhnya.
Laga nan berjalan di bawah genting tertutup stadion modern markas tim NFL Atlanta Falcons dan tim MLS Atlanta United, Kamis (18/6), itu sempat membikin Bafana-Bafana tertinggal lebih dulu melalui gol sigap Michal Sadilek pada menit keenam.
Namun, kerja keras Afrika Selatan menyamakan kedudukan membuahkan hasil pada menit ke-83 berkah eksekusi penalti Teboho Mokoena setelah Pavel Sulc melakukan pelanggaran handball di kotak terlarang.
Kondisi stadion futuristik di Atlanta ini sangat kontras, dengan laga perdana Afrika Selatan saat takluk 0-2 dari tuan rumah Meksiko di Estadio Azteca nan bersejarah. Broos pun tidak bisa menyembunyikan preferensinya terhadap stadion tradisional nan terbuka.
"Jika saya boleh jujur, ini bukan stadion sepak bola. Ini stadion nan bagus, stadion nan fantastis, semua nan Anda inginkan ada. Namun hanya rumputnya nan mencerminkan sepak bola. Sisanya tidak," ujar Broos dikutip dari AFP.
"Ini adalah stadion tertutup. Saya lebih suka bermain di stadion terbuka. Saya tidak betul-betul merasakan atmosfer di stadion seperti ini. Ketika Anda membandingkannya dengan Azteca, sebagai contoh, itu baru stadion sepak bola!," lanjutnya.
Broos mengakui kehebatan akomodasi tersebut bagi kenyamanan penonton, namun dia tetap bersikeras pada pandangannya.
"Stadion-stadion ini memang dahsyat untuk penonton. Saya pikir mereka bisa memandang segalanya di stadion itu. Tidak ada area nan terhalang alias semacamnya. Namun, sekali lagi, saya lebih menyukai stadion sepak bola nan sebenarnya," tegasnya.
Selain masalah infrastruktur, Broos juga merasa terganggu oleh patokan jarak minum (drinks break) di tengah-tengah setiap babak. Ia menilai jarak tersebut tidak diperlukan mengingat suhu di dalam stadion sudah diatur oleh kendali iklim.
"Ketika pada momen itu Anda sedang menjadi tim nan lebih baik dan mendominasi, tiba-tiba kekuasaan Anda terhenti selama lima menit alias entah berapa lama, di stadion ini, kami tidak perlu minum setelah 20 menit," kata Broos.
Hasil seri itu menjaga asa Afrika Selatan untuk pertama kalinya lolos dari fase grup sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.
Kemenangan pada laga pamungkas Grup A melawan Korea Selatan kemungkinan besar bakal mengamankan tiket ke babak 32 besar, setidaknya sebagai salah satu tim ranking ketiga terbaik.
"Jika kami bisa menunjukkan performa lain seperti hari ini, saya pikir kami mempunyai kesempatan untuk melaju ke babak kedua. Saya sangat bangga dengan tim saya, dan inilah Bafana Bafana nan sebenarnya," tutup Broos. (AFP/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·