Feby Novalius
, Jurnalis-Senin, 20 April 2026 |10:42 WIB

Sejumlah pelaku industri lintas sektor membahas pemanfaatan kepintaran buatan (AI) nan saat ini akibat nyatanya terhadap keahlian upaya tetap belum optimal. (Foto ;okezone.com/BytePlus)
JAKARTA - Sejumlah pelaku industri lintas sektor membahas pemanfaatan kepintaran buatan (AI) nan saat ini akibat nyatanya terhadap keahlian upaya tetap belum optimal. Padahal, penerapan teknologi tersebut berpotensi meningkatkan efektivitas kerja di beragam sektor, mulai dari transportasi, media, hingga jasa publik.
Saat ini, tingkat mengambil AI di Indonesia tercatat sudah sangat tinggi, ialah 96 persen. Namun, mengambil nan betul-betul menghasilkan akibat upaya nyata tetap tergolong rendah, ialah sekitar 12 persen.
Kesenjangan tersebut dinilai perlu diatasi melalui penerapan AI nan lebih terukur agar teknologi ini dapat meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat layanan, dan memperbaiki pengalaman pengguna di lapangan.
Regional Lead untuk Indonesia dan Malaysia, Leon Chen, menilai bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya pada mengambil teknologi, tetapi pada efektivitas implementasinya di lapangan.
“AI mempunyai potensi besar untuk mendorong efisiensi dan inovasi, namun tantangan terbesar adalah memastikan penerapannya betul-betul memberikan akibat nyata bagi operasional dan pengalaman pengguna,” ujar Leon, Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan bahwa kerjasama lintas sektor diperlukan untuk mempercepat pemanfaatan AI nan lebih tepat guna, terutama dalam mendukung peningkatan kualitas jasa dan efisiensi proses upaya di beragam industri.
Dalam forum tersebut juga dipaparkan sejumlah contoh penerapan AI di sektor transportasi dan pengelolaan data, termasuk pemanfaatan sistem otomatisasi jasa pengguna nan membantu mempercepat respons dan meningkatkan efisiensi penanganan pertanyaan pengguna.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·