Pelajaran Penting untuk AS: Tak Semudah Itu Tundukkan Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Berakhirnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum berfaedah jalan menuju perdamaian telah aman. Kesepakatan awal nan dicapai pekan lampau justru mulai menghadapi beragam tantangan serius, mulai dari ancaman baru Presiden Donald Trump hingga ketegangan mengenai Lebanon dan Selat Hormuz.

Nota kesepahaman (MoU) nan ditandatangani Trump di Prancis menghentikan pertempuran, membuka kembali Selat Hormuz, serta menawarkan insentif ekonomi kepada Iran sebagai hadiah atas komitmen Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Namun, beragam rumor krusial, termasuk masa depan program nuklir Iran dan stok uranium nan telah diperkaya, tetap kudu dirundingkan dalam negosiasi selama 60 hari ke depan.

Meski demikian, berakhirnya permusuhan langsung antara Washington dan Teheran dianggap sebagai pencapaian terbesar dari kesepakatan tersebut. Kenapa?

"Ada kesempatan nan cukup baik bahwa gencatan senjata ini memperkuat lantaran memang sesuai dengan kepentingan kedua pihak," kata Philip Gordon, mantan pejabat senior keamanan nasional AS, dilansir CNN International, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, Iran mempunyai kepentingan mempertahankan kesepakatan lantaran dapat kembali memperoleh pendapatan besar dari ekspor minyak. Sementara AS tidak mau kembali terlibat perang.

Qatar dan Pakistan selaku mediator berbareng juga melaporkan kemajuan dalam perundingan. Dalam pernyataan bersama, keduanya menyebut pembicaraan berjalan dalam "suasana nan positif dan konstruktif" serta menghasilkan "kemajuan nan menggembirakan".

Kedua negara mengatakan peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari telah disepakati. 

Namun, rapuhnya kerangka perdamaian mulai terlihat hanya beberapa hari setelah kesepakatan diumumkan.

Iran mengeklaim kembali menutup Selat Hormuz, langkah nan memicu respons keras dari Trump. Presiden AS itu apalagi menakut-nakuti bakal mengambil alih jalur pelayaran strategis tersebut jika Teheran tidak membukanya kembali.

Iran tampaknya memahami bahwa Trump sedang berpacu dengan waktu untuk memperoleh faedah politik dan ekonomi dari perdamaian sebelum pemilu sela AS pada November mendatang.

Menanggapi ancaman Washington, kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menulis di platform X, "Apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa jika ancaman mereka betul-betul berhasil, mereka tidak bakal sampai pada tingkat keputusasaan seperti sekarang?". Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran tidak beriktikad memberikan kemenangan diplomatik sigap kepada Trump.

Selain itu, Iran juga berupaya memanfaatkan pengaruh nan diperolehnya setelah bisa memperkuat dari perang. Klaim penutupan Selat Hormuz dipandang sebagai upaya menekan Trump agar memaksa Israel menghentikan operasi militernya di Lebanon terhadap Hizbullah nan didukung Iran.

Langkah tersebut sekaligus menguji keahlian Trump dalam mengendalikan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Trump pun membalas dengan memperingatkan bahwa AS bakal menghantam Iran "sangat keras" jika negara itu tidak mengendalikan Hizbullah.

Faktor Lebanon menjadi salah satu ancaman terbesar terhadap proses perdamaian. Israel diketahui tetap melancarkan serangan terhadap target-target nan disebutnya mengenai Hizbullah pada Jumat dan Sabtu, meski situasi relatif mereda saat pembicaraan di Swiss dimulai.

Di tengah beragam ketegangan tersebut, Wakil Presiden AS JD Vance tetap mencoba menawarkan hubungan baru dengan Iran.

"Jika para pemimpin Anda bersedia berakhir menjadi pendorong ketidakstabilan kawasan, jika mereka bersedia meninggalkan ambisi senjata nuklir untuk jangka panjang, maka Amerika Serikat bersedia mengubah secara esensial hubungan kami dengan negara itu," kata Vance.

Namun, banyak pengamat meragukan kemungkinan perubahan besar itu. Selama nyaris 50 tahun, para pemimpin revolusioner Iran membangun identitas politik mereka sebagai penentang AS.

Kesepakatan tersebut juga memicu kontroversi di Washington. Banyak politisi mempertanyakan keputusan pemerintahan Trump memberikan pelonggaran hukuman terhadap ekspor daya dan farmasi Iran selama proses negosiasi berlangsung.

Para pengkritik menilai Trump telah mengorbankan posisi tawar AS demi membuka kembali Selat Hormuz. Meski demikian, Senator Partai Republik Lindsey Graham memihak pendekatan diplomatik tersebut.

"Jika Anda tidak mempunyai jalur diplomatik melalui MoU, maka Anda kudu bertempur alias menggunakan corak pemaksaan lainnya. Mari kita coba ini. Mari kita coba solusi diplomatik," kata Graham.

Namun dia juga mengakui keraguannya terhadap keberhasilan proses tersebut dengan menambahkan, "Saya pikir ini bakal gagal".

Dari kubu Demokrat, Senator Cory Booker melontarkan kritik nan lebih keras. Ia menyebut kesepakatan itu sebagai "kegagalan katastrofik nan diciptakan sendiri oleh Trump" dan sebuah "penyerahan diri total".

Menurut Booker, Iran mendapatkan seluruh manfaatnya, secara harfiah miliaran dan miliaran dolar. Sementara Amerika terus menanggung kerugian.

Perkembangan beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa visi Trump untuk menciptakan Iran tanpa senjata nuklir dan Timur Tengah nan lebih stabil tetap menghadapi jalan panjang. Jika perang kandas mencapai seluruh tujuan Washington, maka proses membangun perdamaian saat ini tampaknya juga tidak bakal melangkah mudah.

(luc/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News