Ilustrasi(Dok. Anadolu)
MENTERI Energi Amerika Serikat (AS), Chris Wright, menyatakan bahwa kesepakatan nuklir dengan Iran belum tentu dapat terwujud dalam waktu dekat. Wright mengisyaratkan bahwa AS mungkin kudu mengambil langkah ekstrem dengan mengandalkan penghancuran keahlian nuklir Teheran guna mencegah negara tersebut memperoleh senjata nuklir.
"Mungkin tidak ada kesepakatan nuklir. Mungkin caranya hanya dengan menghancurkan keahlian mereka untuk melakukannya. Kesepakatan itu mungkin menunggu pemerintahan berikutnya di Iran. Kami betul-betul tidak tahu," ujar Wright dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu (6/9).
Strategi Militer dan Infrastruktur Rudal
Pernyataan Wright muncul di tengah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa kepemimpinan Iran telah berubah secara mendasar sejak dimulainya serangan AS-Israel pada akhir Februari. Meski demikian, struktur pemerintahan Iran dilaporkan tetap memperkuat di bawah kepemimpinan pemimpin tertinggi nan baru.
Wright menegaskan bahwa pemboman berkepanjangan terhadap prasarana strategis Iran tampaknya menjadi strategi nan diperlukan. Fokus utama adalah melumpuhkan keahlian produksi rudal Iran nan selama ini menjadi ancaman di kawasan.
"Anda kudu menghancurkan keahlian mereka. Mereka membangun prasarana rudal besar untuk memproduksi rudal, nan sekarang Anda lihat mereka tembakkan, tetapi mereka tidak mempunyai keahlian untuk membikin lebih banyak rudal (jika prasarana dihancurkan)," tegasnya.
Rekor Arus Minyak di Selat Hormuz
Selain rumor nuklir, Wright menyoroti stabilitas daya global, khususnya arus minyak melalui Selat Hormuz. Jalur strategis ini mencatatkan volume pengiriman nan sangat tinggi di tengah ketegangan geopolitik.
| Rata-rata 7 Hari di Selat Hormuz | > 9 Juta |
| Total Arus (Termasuk Pipa Arab Saudi & UEA) | 13 Juta - 14 Juta |
Angka 9 juta barel per hari tersebut merupakan rata-rata tujuh hari tertinggi nan pernah tercatat. Wright sebelumnya telah menyampaikan info serupa pada awal Agustus, menunjukkan konsistensi beban jalur pelayaran tersebut.
Ketegangan di Jalur Pelayaran Internasional
Meskipun Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar, penerapan di lapangan menemui jalan buntu. Kedua belah pihak saling menuduh kandas menjalankan komitmen mengenai penghentian permusuhan dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh.
Hingga saat ini, status keamanan Selat Hormuz tetap menjadi perdebatan:
- Versi AS: Jalur pelayaran internasional telah dibersihkan dari ranjau Iran dan puluhan kapal melintas setiap hari dengan aman.
- Versi Teheran: Selat tetap berada di bawah kendali penuh Iran dan belum sepenuhnya terbuka alias kondusif dari ancaman ranjau bagi pelayaran komersial.
Situasi ini menempatkan pasar daya dunia dalam posisi waspada, mengingat Selat Hormuz merupakan titik nadi utama bagi pengedaran minyak dunia. (Anadolu/Ant/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·