PDIP: PSI Pansos Elektoral

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus menanggapi Ketua DPP PSI Bestari Barus nan mengaku heran PDIP terus mengomentari Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), padahal sudah tak lagi menjadi kadernya. Deddy menilai PSI hanya sibuk membawa-bawa PDIP.

"Perasaan nggak pernah kedengaran tuh bunyi PSI (kritisi rumor rakyat), sibuk nyeret-nyeret PDI Perjuangan saja. Rakyat sudah jenuh dengan gimmick PSI," kata Deddy kepada wartawan, Minggu (5/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deddy menilai PSI lebih sering membikin pernyataan nan berkarakter sensasional. Dia pun menantikan bunyi kritis PSI terhadap rumor rakyat.

"Sudahlah rakyat juga tahu mereka hanya bikin sensasi buat pansos elektoral," ujarnya.

"Ditunggu suaranya soal tuntutan mahasiswa, kasus suap Bupati Kuansing dan soal-soal lain nan mengenai dengan rakyat," sambungnya.

Politikus PDIP Minta PSI Jangan Sombong

Sementara itu, Politikus PDIP Guntur Romli menanggapi PSI nan siap memastikan kepada Jokowi jika Jawa Tengah bakal menjadi kandang gajah. Guntur menilai PSI tak perlu bersikap terlalu sombong.

"PSI jangan terlalu sombong, Jokowi memaksakan keliling artinya PSI sangat lemah, jika PSI kuat Jokowi pastinya hanya rehat dan santai-santai saja. Safari politik itu juga pengalihan rumor dari Sekjen PSI nan mengaku menerima duit dari Bupati Kuansing nan baru dikembalikan 10 hari kemudian," kata Guntur kepada wartawan, Minggu (5/7).

"KPK kudu jangan tebang pilih masa butuh 10 hari baru dikembalikan, itu tidak menggugurkan peristiwa pidana, juga terhadap Ketua Harian PSI Ahmad Ali nan rumahnya sudah digeledah, duit miliaran disita tapi sampai saat ini aman-aman saja," imbuhnya.

Guntur menilai pernyataan PSI mengenai sasaran politik di Jawa Tengah tak perlu dikhawatirkan. Dia mengatakan capaian PSI pada Pemilu 2024 belum menunjukkan kekuatan signifikan.

"Itu corak kesombongan saja, bukan pernyataan nan perlu ditanggapi, apalagi dikhawatirkan, jika PSI itu parpol nomor dua di 2024, terus bilang mau rebut kandang Banteng, itu lebih masuk akal," katanya.

"PSI 2024 aja kandas masuk parlemen, meski didukung penuh oleh Jokowi nan waktu itu tetap presiden, dengan tagline PSI Partai Jokowi, pasang foto Jokowi di semua baliho, jadi presiden saja Jokowi kandas meloloskan PSI, apalagi tidak jadi presiden. PSI jangan sombong," imbuh dia.

Sebelumnya, Bestari Barus mengaku heran dengan PDIP nan terus-terusan mengomentari Jokowi, padahal sudah tidak lagi menjadi kadernya. Bestari menanggapi komentar Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira nan meminta Jokowi membawa piagam saat safari.

"Iya, minta maklum saja. Saya juga heran gitu. Kenapa para personil DPR RI PDIP ini lebih senang mengomentari PSI dan Pak Jokowi daripada bekerja untuk rakyat, gitu. Dan berapa personil majelis tuh Hugua, Deddy Sitorus. Apa di PDIP tuh enggak ada kerjaan lain apa ya?" kata Bestari kepada wartawan saat dihubungi, Sabtu (4/7).

Bestari menyinggung PDIP nan telah mengeluarkan Jokowi sebagai kader. Namun, sampai saat ini tetap saja terus dikomentari.

"Selain menanggap-nanggapi nan katanya mereka sudah keluarkan dari PDIP, sudah enggak peduli tapi bohong, gitu. Dan masyarakat umum melihatnya sebagai ya, lawak-lawak saja ini partai PDI Perjuangan ini," ujarnya.

"Makin ke sini makin jadi tukang lawak, gitu. Ya, seperti itu ya dimaklumi sajalah buat meramai-ramaikan mereka agar terlihat ada omongan kan, gitu. Kita sih udah enggak berambisi mereka mengomentari. Iya toh? Ya nan disampaikan juga aneh," lanjutnya.

(amw/idh)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News