Presiden Prabowo Subianto (kiri)(dok.istimewa)
KETUA DPP PDI Perjuangan, Said Abdullah menjelaskan makna momen kebersamaan Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang berdampingan tangan pada Peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni kemarin. Ia menyebut momen kehangatan tersebut merupakan manifestasi dari hubungan mendalam kedua tokoh nan sudah melampaui sekat politik praktis.
Menurut Said, hubungan antara Megawati dan Prabowo tidak dapat dilihat dari kacamata politik sesaat, melainkan kudu dibedakan ke dalam tiga aspek esensial nan kokoh.
Aspek pertama, kata Said, adalah pertemanan lama nan telah terjalin selama puluhan tahun. Keduanya apalagi pernah maju berbareng sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2009 silam.
Meski kontestasi politik terus berubah, termasuk saat PDI Perjuangan mengusung Joko Widodo pada Pilpres 2014 dan 2019 untuk berhadapan dengan Prabowo, silaturahmi kedua tokoh bangsa ini dinilai tidak pernah pudar.
"Persahabatan kedua beliau ini kokoh, bukan hanya sebatas pertemanan nasi goreng nan seringkali dilihat oleh publik. Pertemanan kedua beliau ini tulus, tak ada cela," ujar Said melalui keterangan tertulisnya, Selasa (2/6/2026).
Aspek kedua berangkaian dengan posisi Megawati saat ini sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Said menekankan, meski terjadi transisi kepemimpinan nasional dan PDI Perjuangan berada di luar pemerintahan, Presiden Prabowo tetap mempercayakan kedudukan strategis tersebut kepada Megawati.
Langkah ini dinilai sebagai bukti nyata bahwa baik Prabowo maupun Megawati sama-sama menempatkan urusan ideologi negara di atas kepentingan politik kepartaian.
"Kedua beliau mempunyai pandangan nan sama, lembaga negara seperti BPIP memang kudu dijabat oleh negarawan, sekaligus (melihat) kegigihan seorang tokoh dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila. Urusan Pancasila ini melampaui segala-galanya," jelas Said.
Aspek ketiga adalah landasan politik kebangsaan. Said menegaskan bahwa pilihan PDI Perjuangan untuk menjadi partai penyeimbang (oposisi) tidak membikin Presiden Prabowo memandang mereka sebagai musuh.
Ia kemudian mencontohkan pidato Presiden Prabowo di Gedung DPR pada 20 Mei lalu, di mana kepala negara secara terbuka menghormati dan mengapresiasi beragam masukan serta kritik nan dilontarkan oleh kader-kader PDI Perjuangan di parlemen.
"Bagi saya, sosok kedua beliau ini sudah pada level political beyond, berpolitik untuk bangsa dan negara, bukan semata-mata kekuasaan. Karena ketiga fondasi hubungan inilah kenapa hubungan Ibu Mega dan Presiden Prabowo awet, tidak ternoda, meski berbeda hadapan politik," tutur Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI tersebut.
Said berambisi keteladanan nan ditunjukkan oleh Megawati dan Prabowo dapat ditiru oleh seluruh jejeran partai bawahannya, terutama antarfraksi di DPR RI. Hubungan cair nan dicontohkan di tingkat atas diharapkan bisa menciptakan suasana komunikasi nan sehat di parlemen.
"Kedua fraksi (PDI Perjuangan dan Gerindra) bisa cair saling berdiskusi, berganti pandangan dalam membahas kebijakan dan program-program pemerintah. Meskipun dalam beberapa perihal terjadi perbedaan pandangan, keduanya tetap memahami posisi masing-masing dan saling menghargai sebagai sahabat politik nan tetap bisa bersinergi," pungkas Said. (Faj/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·