Masjid Al-Aqsa.(Al Jazeera)
KELOMPOK nasionalis Israel memadati jalan-jalan sempit di Kota Tua Jerusalem pada Kamis (14/5), meneriakkan slogan-slogan provokatif seperti, "Mati bagi Arab" dan "Semoga desa kalian terbakar". Aksi ini terjadi dalam pawai tahunan Hari Jerusalem yang memaksa banyak penduduk Palestina memilih untuk tetap mengunci diri di dalam rumah.
Setiap tahun, puluhan ribu penduduk Israel--mayoritas remaja dan dewasa muda--melakukan parade untuk merayakan sesuatu yang disebut otoritas Israel sebagai reunifikasi Jerusalem. Perayaan ini menandai penaklukan dan aneksasi Jerusalem Timur oleh Israel dalam Perang Arab-Israel 1967.
Namun, aneksasi Jerusalem Timur, nan dihuni kebanyakan masyarakat Palestina, tidak diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dianggap terlarangan menurut norma internasional.
Ketegangan di Tengah Konflik Regional
Pawai tahun ini berjalan di bawah bayang-bayang ketegangan perang dengan Iran dan gencatan senjata di Gaza nan terus diwarnai pelanggaran harian. Selama bertahun-tahun, aktivitas ini kerap berujung pada kekerasan, ialah golongan ultranasionalis menyasar penduduk Palestina dengan intimidasi, serangan fisik, dan ujaran rasis.
Laporan koresponden AFP menunjukkan bahwa sejak menjelang siang, sebagian besar pedagang Palestina di Kota Tua menutup toko mereka dan meninggalkan lorong-lorong batu nan biasanya ramai. Hanya segelintir toko nan tetap buka di bawah perlindungan aktivis dari aktivitas akar rumput lintas etnis, Standing Together.
Video nan beredar di media sosial memperlihatkan para aktivis didorong dan dikepung oleh golongan pemuda nan mengenakan kaus putih berslogan Jerusalem. Dalam satu insiden, massa melemparkan bangku plastik ke arah seorang pedagang Palestina sembari meneriakkan makian rasis.
Catatan Lapangan:
Massa melakukan tindakan provokatif dengan memukul pintu-pintu besi toko Palestina nan tertutup rapat di bawah pengawasan polisi Israel nan berjaga di seluruh area.
Upaya Solidaritas dan Perdamaian
Di tengah atmosfer nan memanas, upaya perdamaian tetap terlihat. Di tangga Gerbang Damaskus, puluhan aktivis perdamaian Israel berpakaian putih membagikan kembang kepada pejalan kaki sebagai corak simpati.
"Penting bagi saya untuk datang guna menunjukkan solidaritas kepada organisasi lokal. Sebagai seorang Yahudi dan Zionis, saya mau mereka menjadi bagian dari bangsa ini dengan kewenangan nan setara," ujar Ilan Perez, 52, seorang pekerja industri teknologi dari Raanana.
Namun, Rula Daoud, kepala pendamping Standing Together, mencatat bahwa pawai ini menjadi semakin keras setiap tahun, terutama setelah serangan 7 Oktober. Ia menuduh polisi tidak melakukan intervensi nan cukup untuk meredam kekerasan.
"Ribuan pemukim dan golongan sayap kanan berkeliaran meneriakkan hal-hal rasis, mencoba merusak properti milik penduduk Palestina, dan meneror seluruh tempat ini," tegas Daoud. Selain menyasar penduduk lokal, peserta pawai juga dilaporkan mengonfrontasi jurnalis, mendorong mereka, dan menghalangi proses peliputan di letak kejadian.
Pawai berhujung di Tembok Ratapan, situs suci tempat umat Yahudi diizinkan berdoa, nan merupakan sisa dari Bait Suci Kedua nan dihancurkan oleh Romawi pada tahun 70 Masehi. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·