
BEI (Foto: Okezone)
JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal berupaya menemui pihak S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) pasca rilis laporan nan menyebut potensi pasar modal Indonesia turun kelas dari emerging market ke frontier market, dalam Country Classification-2026/2027 Watchlist.
Direktur Pengembangan dan Pengawasan Perdagangan BEI, Irvan Susandy menyatakan bahwa pihaknya telah mengusulkan permohonan obrolan kepada S&P DJI untuk memberikan penjelasan serta pembaruan mengenai reformasi pasar nan tengah berjalan.
"Atas pengumuman S&P, kita sudah minta waktu untuk obrolan dengan S&P. Jadi pada dasarnya sebenarnya kita sudah deliver seperti teman-teman ketahui ya, kita sudah deliver granularity jenis investor, kita sudah deliver pemegang saham di atas 1 persen, kita juga sudah mendeliver free float 15 persen," ujarnya saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (8/7/2026).
Irvan menjelaskan bahwa bursa telah mengimplementasikan sejumlah agenda transformasi integritas pasar modal nan juga sempat menjadi perhatian penyedia indeks global. Antara lain transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen, granularity jenis investor, hingga tanggungjawab free float sebesar 15 persen dengan masa tenggang tiga tahun.
"Kami tetap terus melakukan review dan terus berkomunikasi dengan dunia index provider. Dalam perihal ini adalah dengan MSCI juga, dan dengan FTSE. Jadi atas pengumuman S&P DJI pagi ini, terus terang kami bakal berbincang dengan S&P sebagaimana kami berbincang dengan MSCI dan juga dengan FTSE selama ini" kata Irvan.
Selain itu, BEI juga telah merilis daftar High Shareholder Concentration (HSC) untuk memantau saham-saham dengan kepemilikan nan terkonsentrasi, sebuah langkah nan diadaptasi dari praktik regulator di Hong Kong (SFC).
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·