Pasar Modal Anjlok, Benarkah Kepercayaan Investor Turun? Ini Penjelasan Ekonom Senior

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Pasar Modal Anjlok, Benarkah Kepercayaan Investor Turun? Ini Penjelasan Ekonom Senior Warga memantau pergerakan saham melalui gawainya usai pembukaan perdagangan saham 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/1/2026)(ANTARA FOTO/Galih Pradipta/YU)

EKONOM senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini menilai merosotnya pasar modal Indonesia belakangan ini. Ia menilai kepercayaan investor turun. 

Diberitakan, Indeks nilai saham campuran (IHSG) turun dari level 9.200 menjadi 5.900, menurut Didik, merupakan sesuatu nan serius. Saham perbankan seperti BCA juga turun nilainya lebih dari 50% lantaran penanammodal asing kabur.

"Substansi krusial di kembali angka-angka tadi adalah masalah trust (kepercayaan) nan belum datang di pasar," kata Didik nan juga Rektor Universitas Paramadina dalam keterangan nan dikutip, Minggu (7/6).

Didik mengatakan Bank Indonesia (BI) nan bertanggung jawab pada sektor moneter sudah mengguyur pasar. Namun, penanammodal tidak bergeming. 

"Tetap saja pasar saham jatuh dan nilai tukar tetap melemah. Trust sudah jauh lebih krusial dan lebih mendasar daripada angka," ujar Didik.

Angka Pertumbuhan tak Buruk

Menurutnya, angka-angka pertumbuhan Indonesia tidak terlalu buruk, begitu juga nomor parameter perdagangan. Namun lantaran kepercayaan jatuh, katanya, penanammodal pergi. 

Sebaliknya, lanjut Didik, banyak negara mempunyai defisit anggaran alias utang nan tinggi tetapi mata uangnya tetap kuat. Hal itu lantaran penanammodal percaya pada kredibilitas pemerintah dan institusinya.

"Jadi, kepercayaan kudu dibangun dan kudu ada sikap sense of crises terhadap keadaan," tegasnya.

Ia mengatakan saat ini pasar menunggu kebijakan ekonomi konsisten dan bisa dipercaya, termasuk adanya kepastian norma di negeri ini di mana investasi dan kewenangan privat dilindungi.

Didik mencontohkan saat dirinya menjadi personil Tim Nasional Reformasi Presiden Habibie di bagian ekonomi (SK Presiden), kerakyatan nan sehat mulai dibangun. Kemudian tahanan politik dilepas, bank sentral nan independen dihadirkan, undang-undang monopoli dibuat untuk melawan monopoli dan oligarki.

"Hasilnya, nilai tukar menjadi kuat dari Rp16.800 menjadi Rp6.500 per dolar AS," ujarnya.

Di sisi lain, pasar juga bakal memandang secara perincian gimana kebijakan fiskal. Didik menekankan bahwa anggaran pendapatan dan shopping negara (APBN) adalah arsip kepercayaan dan pengelolaannya bakal membentuk persepsi pasar.

Jika APBN dikelola tidak hati-hati, shopping negara meningkat tanpa kendali, banyak program baru dengan kebutuhan biaya besar tidak dievaluasi, pasar tidak bakal percaya dan condong menjauh dari Indonesia.

"Pasar bakal percaya jika pengelolaan APBN terukur, terkendali dan prosesnya dijalankan dengn baik dan sahih di parlemen, penerimaan andal dan defisit terukur," jelasnya. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia