Ilustrasi ubur-ubur(Magnific.com)
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem pemantauan terpadu untuk mendeteksi secara awal ancaman biologis di area pesisir, seperti ledakan populasi ubur-ubur berbisa (harmful jellyfish) dan Harmful Algal Blooms (HABs). Sistem tersebut diharapkan dapat menjadi dasar mitigasi berbasis info di wilayah pesisir nan rentan.
Penelaah Teknis Kebijakan BRIN Aria Bisri mengatakan ancaman biologis di area pesisir selama ini belum menjadi perhatian utama dalam upaya mitigasi bencana, padahal dampaknya dapat mengganggu ekosistem laut hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
"Fenomena blooming ubur-ubur dapat mengganggu operasional pembangkit listrik serta menimbulkan sengatan terhadap visitor di area pesisir. Selain itu, kejadian ini juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut nan pada akhirnya berakibat pada penurunan produksi perikanan. Wilayah pesisir urban seperti Teluk Jakarta, pesisir selatan Pulau Jawa, dan Teluk Ambon merupakan area nan rentan terhadap kejadian tersebut," ujar Aria dalam keterangan resmi, Selasa (28/7).
Melalui penelitian berjudul Pemantauan Blooming Ubur-Ubur Beracun (Harmful Jellyfish) dan Marak Alga Berbahaya (Harmful Algal Blooms/HABs) di Perairan Pesisir Urban: JellyHABS-GIS, BRIN mengembangkan sistem pemantauan nan mengintegrasikan info kualitas air, meliputi parameter bentuk dan kimia, dengan info biologi untuk mendeteksi lebih awal potensi kemunculan HABs maupun blooming ubur-ubur.
Aria menjelaskan, riset tersebut juga diarahkan pada pembangunan platform info berbasis web dan Geographic Information System (GIS) nan menyajikan info lintas parameter secara interaktif.
"Platform tersebut dirancang untuk menyajikan info lintas parameter secara interaktif sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pendukung pengambilan keputusan bagi para pemangku kepentingan dalam mitigasi akibat ekologi pesisir," katanya.
Penelitian itu menargetkan tersusunnya kerangka sistem pemantauan terpadu nan menggabungkan beragam parameter kualitas air dan info biologi, serta pembentukan pedoman info terintegrasi nan memuat hasil pemantauan lapangan, info historis, gambaran satelit, dan hasil kajian laboratorium. Basis info tersebut bakal dikembangkan untuk tiga letak prioritas, ialah Teluk Jakarta, pesisir selatan Jawa, dan Teluk Ambon.
Selain itu, BRIN juga mengembangkan prototipe platform WebsiteGIS nan memungkinkan pengguna mengakses peta kualitas air, dinamika plankton dan ubur-ubur, parameter akibat HABs maupun *blooming* ubur-ubur, serta dashboard interaktif untuk mendukung pemantauan.
"Penelitian ini juga menargetkan pengembangan prototipe platform WebsiteGIS. Melalui platform ini, pengguna dapat mengakses peta kualitas air, dinamika plankton dan ubur-ubur, parameter akibat HABs maupun blooming ubur-ubur, serta dashboard interaktif sebagai pendukung pemantauan," ujar Aria.
Ia menambahkan, pengembangan aplikasi tersebut menggunakan pendekatan vibe engineering nan memanfaatkan teknologi kepintaran artifisial (AI). Teknologi AI diterapkan sejak penyusunan kebutuhan sistem, perencanaan implementasi, pengelolaan version control, implementasi, hingga tahap pengetesan dan pengarsipan perangkat lunak. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·