Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso merespons perubahan perilaku berbelanja di Pasar Asemka, Jakarta barat. Pasar Asemka nan dulu sempat sunyi pengaruh perdagangan online sekarang justru kembali ramai diserbu para reseller online.
Budi memastikan perkembangan perdagangan digital nan sebelumnya sempat dikhawatirkan menggerus pasar fisik, sekarang justru mulai melangkah berdampingan dengan perdagangan offline.
Budi mengatakan, pemerintah bakal mendorong pola perdagangan hybrid alias omnichannel, di mana pedagang tetap mempunyai toko bentuk tetapi sekaligus memanfaatkan kanal digital untuk berjualan.
"Nah kita kan, iya hybrid. Kan sering saya sampaikan kita itu kan ada omnichannel ya, hybrid. Jadi temen-temen itu selain Belanja online bukan berfaedah juga meninggalkan offlinenya. Jadi nan offline itu kan juga bisa jualan secara online. Dia punya tokonya, dia punya tempat, tetapi dia juga bisa online," kata Budi saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, model perdagangan tersebut tidak hanya bertindak bagi pedagang pasar tradisional alias pusat grosir. Pelaku upaya nan sepenuhnya berdagang secara online tanpa mempunyai toko bentuk juga menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
"Ada nan online khusus, dia nggak punya tempat, kan juga banyak. Artinya nggak punya toko. Mungkin di rumah alias di gudangnya. Nah semuanya itu kita kombinasikan menjadi program hybrid. Termasuk nan di mal, department store kan sekarang banyak nan memakai program hybrid, omnichannel. Jadi dua-duanya kita dorong," ujarnya.
Pernyataan Budi ini menjadi relevan dengan perubahan nan terjadi di Pusat Grosir Asemka. Kawasan nan sempat terpukul oleh masifnya perdagangan online sekarang justru mulai mendapatkan pembeli baru dari ekosistem digital.
Barang-barang impor dari China dengan nilai murah meriah di Pasar Asemka, Jakarta, Rabu (14/6/2023). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Barang-barang impor dari China dengan nilai murah meriah di Pasar Asemka, Jakarta, Rabu (14/6/2023). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Salah satu pedagang Asemka, Nina, mengatakan kondisi pasar mulai kembali ramai sekitar setahun terakhir. Menurutnya, banyak konten di TikTok nan menampilkan produk-produk di Asemka ikut menarik pembeli, termasuk kalangan Generasi Z (Gen Z).
"Iya dulu sempat kan kita sepi, sampai ngadu ke Pak Zulhas ya dulu (Menteri Perdagangan) nya. Sekarang mulai ramai lagi sekitar setahun ini, pas banyak konten-konten di TikTok," kata Nina saat ditemui CNBC Indonesia di Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, Selasa (8/9/2026).
Fenomena nan terjadi sekarang berbeda dengan kondisi pada 2023 lalu. Kala itu, pedagang Asemka sempat mengeluhkan sepinya pembeli akibat semakin masifnya penjualan online, terutama melalui TikTok. Omzet pedagang apalagi disebut turun hingga 70%.
Pedagang juga mengeluhkan persaingan nilai lantaran sejumlah peralatan di platform online dapat dijual lebih murah dibandingkan nilai grosir di pasar fisik.
Namun, perkembangan tersebut perlahan berbalik. Media sosial nan sebelumnya dianggap sebagai ancaman justru menjadi salah satu pintu masuk konsumen ke Asemka.
Produk nan viral di media sosial membikin calon pembeli datang ke Asemka untuk memandang peralatan secara langsung, sekaligus mencari nilai grosir. Sebagian dari mereka apalagi datang dengan tujuan menjadi reseller dan kemudian menjual kembali peralatan tersebut melalui kanal online.
Saat CNBC Indonesia menyusuri area Asemka, sejumlah toko terlihat menawarkan produk nan mengikuti tren media sosial, mulai dari slime, squishy, gantungan karakter, blind box, hingga beragam aksesori rambut.
"Banyak Gen Z datang nyari peralatan nan viral. Jepitan bintang nan kayak Naykilla (penyanyi), itu paling banyak dicari sekarang," ujar salah satu pedagang.
Perubahan pola ini juga dirasakan oleh Amira, seorang reseller bulu mata palsu. Ia mengaku awalnya mengetahui Asemka dari TikTok ketika sedang mencari bulu mata untuk kebutuhan pernikahan kakaknya.
"Ya saya tau awalnya dari TikTok, terus 3 bulan lampau itu mau nyari bulu mata buat nikahan kakak saya, eh rupanya saya malah dapat supplier nan oke, sekalian saja saya survey-survey, sampai sekarang saya sudah jualan bulu mata," kata Amira.
Setelah menemukan pemasok di Asemka, Amira mulai mengambil peralatan untuk dijual kembali secara online. Ia menyebut modal pembelian bulu mata berada di kisaran Rp67.000-Rp120.000 per lusin.
"Lumayan ya omzetnya, saya modal beli di sini itu kayak Rp67.000-Rp120.000 selusin, itu saya bisa jual lagi per pack nya jadi Rp25.000. Lumayan banget. Saya tinggal rebranding dikit, tapi sudah oke penjualan," ujarnya.
Dengan demikian, pola nan terbentuk di Asemka sekarang bukan lagi semata-mata persaingan antara pasar bentuk dan perdagangan digital. Pasar grosir justru menjadi sumber pasokan bagi pelaku upaya online, sementara media sosial berfaedah sebagai etalase nan mengarahkan calon reseller untuk datang mencari barang.
Di sisi lain, Mendag Budi belum memberikan nomor pasti mengenai seberapa besar kontribusi reseller online terhadap perdagangan saat ini.
"Kalau angka-angkanya kita cek dulu ya, saya pastikan dulu," kata Budi.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]
40 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·