Pantau MLSC Yogyakarta, Satoru Mochizuki Tekankan Pembinaan Dini Sepak Bola Putri

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Pantau MLSC Yogyakarta, Satoru Mochizuki Tekankan Pembinaan Dini Sepak Bola Putri Ilustrasi(MI/ARDI TERISTI)

Ratusan pesepak bola putri usia awal kembali memeriahkan gelaran MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Yogyakarta Seri 1 2026–2027. Turnamen nan diinisiasi oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation berbareng MilkLife ini berjalan pada 15 hingga 20 September 2026, bertempat di Lapangan Tridadi dan Lapangan Sidomoyo, Sleman.

Kehadiran Pelatih Tim Nasional Putri Indonesia, Satoru Mochizuki, menjadi sorotan utama dalam arena tersebut. Pelatih asal Jepang ini turun langsung memantau bibit-bibit potensial nan berlaga. Menurutnya, kejuaraan seperti MLSC merupakan wadah krusial dalam membangun ekosistem sepak bola putri nan solid di tanah air.

“Turnamen seperti ini luar biasa. Dampaknya bisa besar bagi perkembangan sepak bola putri,” ujar Satoru Mochizuki saat ditemui di Stadion Tridadi, Sleman, Sabtu (19/9).

Masa Golden Age dan Kemampuan Teknik

Satoru menekankan bahwa pengenalan sepak bola sejak awal sangat menentukan kualitas pemain di masa depan. Ia menyebut usia di bawah 13 hingga 15 tahun sebagai masa golden age.

"Sepak bola adalah olahraga dengan kaki. Ketika anak-anak sudah terbiasa menyentuh bola sejak kecil, keahlian mereka bakal berkembang pesat. Melatih mereka nan sudah mengenal bola sejak awal bakal jauh lebih mudah," tambahnya.

Senada dengan perihal tersebut, Perwakilan Bakti Olahraga Djarum Foundation, Satria Chandra Wiguna, mengapresiasi semangat kompetitif para peserta. Ia berambisi atmosfer positif di Yogyakarta ini dapat mengakselerasi perkembangan sepak bola putri di wilayah tersebut.

Inklusivitas dan Regenerasi Atlet Nasional

MLSC sekarang beralih bentuk menjadi aktivitas sosialisasi sepak bola bagi anak perempuan. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya jumlah siswi nan mendaftar ke Sekolah Sepak Bola (SSB) dan berlatih berbareng pemain putra tanpa rasa canggung. Lapangan nan dulu didominasi anak laki-laki sekarang menjadi ruang ekspresi nan setara.

“Tidak didominasi lagi oleh anak-anak putra seperti era dulu. Inilah bukti nyata inklusivitas olahraga dan kesetaraan kelamin di lapangan hijau,” tegas Satria.

Dampak nyata dari pembinaan berkepanjangan ini sudah mulai terlihat. Saat ini, tim U-17 putri Indonesia tengah menjalani pemusatan latihan di Yogyakarta. Tim tersebut merupakan hasil dari rantai pembinaan panjang melalui MLSC dan Liga HPSL, nan membuktikan bahwa kejuaraan usia awal efektif melahirkan regenerasi atlet nasional.

“Ini menjadi motivasi bagi kami dan semoga menginspirasi pihak swasta lain untuk ikut bekerja-sama mengembangkan sepak bola putri. Kami percaya kemajuan bangsa bisa terwujud jika olahraga maju,” lanjut Satria.

Kategori Pertandingan dan Skill Challenge

Selain pertandingan utama, MLSC Yogyakarta Seri 1 juga menyajikan Skill Challenge untuk mengasah teknik dasar pemain, meliputi:

  • Dribbling
  • Passing & control
  • Duel satu musuh satu
  • Shoot on target
  • Adu penalti

Kompetisi ini diikuti oleh peserta dalam kategori Kelompok Usia (KU)-10 dan KU-12 dengan format 7 vs 7, serta kategori KU-8 nan dikemas dalam Festival SenengSoccer nan penuh keceriaan. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia