“Panjebar Semangat”, Kini Masih Eksis Lho

Sedang Trending 5 jam yang lalu
Majalah Panjebar Semangat sekarang sudah tersedia dalam jenis digital. (Foto: Tangkapan Layar Mohamad Jokomono)

Panjebar Semangat merupakan media berkata Jawa nan menggunakan ragam alias tingkat tutur dominan ngoko lugu. Sedari awal penerbitannya pada 2 September 1933, sang inisiator, ialah Soetomo (30 Juli 1988 - 30 Mei 1938), alumnus School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) nan resmi menjadi master pada 1911 itu, memang meneguhkan prioritas penggunaan ragam tutur tersebut.

Tujuan memprioritas penggunaan bahasa Jawa ngoko lugu tersebut, menurut master Soetomo, agar pesan-pesan perjuangan dan buletin nan tersaji lebih mudah tercerna dalam pemahaman masyarakat pembaca dari semua kalangan dan lapisan sosial. Ada rubrik-rubrik ikonik nan senantiasa menyertai kehadiran Majalah Panjebar Semangat sejak masa awal-awal, ialah “Cerkak” (Crita Cekak/Cerita Pendek [Cerpen]) dan “Taman Geguritan” (Taman Puisi).

Kedua rubrikasi tersebut menjadi media untuk melestarikan dan meningkatkan muruah estetika bahasa dan karya sastra Jawa. “Taman Geguritan” mencatatkan diri kehadirannya sebagai sarana publikasi para sastrawan untuk geguritan modern semenjak masa awal penerbitannya. Demikian pula rubrik “Cerkak” nan ikonik dan sudah ada sejak Prakemerdekaan.

Dan, “Crita Sambung” tidak ketinggalan. Salah satunya nan terkenal dan termasuk awal, ialah “Sandhal Jinjit Ing Sekaten Solo” karya Sri Soesinah nan datang di Majalah Panjebar Semangat mulai Edisi Nomor 44 Tahun III, 2 November 1935. Di tengah-tengah kemeriahan pasar malam, cerita ini memotret pergulatan jiwa protagonis, M.R. Widati, nan menolak perjodohan paksa, manakala kuasa family tetap begitu kuat dalam menentukan pasangan hidup bagi anak perempuan. Ini perlawanan terhadap norma sosial nan tetap dominan pada masa itu.

Kalau pada uraian sebelumnya terdapat statemen bahwa Majalah Panjebar Semangat memprioritaskan bahasa Jawa ngoko lugu, untuk cerkak, crita sambung, geguritan, dan surat pembaca, penggunaan ragam bahasanya sangat variatif, bisa dengan krama inggil alias krama madya tergantung pada style penulisnya. Misalnya dalam cerkak, perbincangan pegawai bawahan kepada CEO dalam sebuah perusahaan tentu tidak pas jika terucapkan dengan ngoko lugu. Pastilah dalam konteka ini ragam krama inggil lebih sesuai dengan konteksnya. Dan, CEO tentu meresponsnya dengan ragam tuturan ngoko.

Dari Lembaran Koran

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Panjebar Semangat pada jenis publikasi perdananya pada 2 September 1933, berbentuk lembaran surat kabar nan boleh terbilang begitu sederhana dan terdiri atas empat halaman. Membutuhkan waktu dua tahun lima hari, ialah pada jenis terbitan 7 September 1935, untuk mengubah format fisiknya mewujud sebagai majalah. Jumlah halamannya pun bertambah menjadi enam belas.

Pada jenis perdana 2 September 1933, kendati formatnya tetap berupa lembaran koran, gelombang penerbitannya memang sudah berada di dalam ranah perancangan sebagai media cetak mingguan. Sesuai dengan bentuk barangnya nan berupa lembaran surat kabar tersebut, nama nan terpakai adalah surat berita mingguan (weekblad). Adapun nama nan tercantum sebagai kop identitas media, ialah Weekblad Djawa Oemoem Panjebar Semangat.

Penguatan semangat nasionalisme, menyebabkan istilah asing seperti weekblad secara berangsur mengalami pergeseran ke istilah lokal di kalangan para tokoh pers Indonesia. Kata bahasa Jawa pun, ialah kalawarti, nan berfaedah buletin nan terbit secara berkala pun menyulihinya dan menjadi pilihan nan relevan untuk mempertegas jati diri sebagai pendukung pelestarian budaya dan bahasa Jawa. Manakala pada 7 September 1935 bertranformasi menjadi majalah, spirit inilah nan mengemuka. Majalah Kalawarti Mingguan Panjebar Semangat selanjutnya terasa lebih fasih tereja zaman.

Demikianlah, tatkala format fisiknya mengalami perubahan menjadi jilidan majalah, pengelolaan rubrikasinya kian menemukan rengkuh pengelolaan nan jauh lebih tertata rapi. Sejumlah rubrik legendaris telah mengada sejak masa awal dan menjadi jagoan daya tarik tersendiri bagi eksistensi Majalah Panjebar Semangat. Antara lain, rubrik ikonik itu, “Cerkak”, nan menjadi wadah bagi sastrawan Jawa mengekspresikan kebutuhan estetikanya terutama dalam menulis cerita pendek. Bahkan, tercatat sebagai pionir kebangkitan Sastra Jawa Gagrag Anyar (Modern).

Selanjutnya ada Rubrik “Taman Geguritan” untuk mengkanalisasi gelora hati dan jiwa para penyair alias personil masyarakat lainnya dalam menyikapi kehidupan dengan langkah nan bijak. Kemudian membagikannya lewat untaian kata-kata nan tidak mengkerdilkan pandangan bahwa hidup ini memang semestinya berada pada tilikan kacamata dengan lensa optimisme. Tentu saja pilihan ekspresi nan puitis sangat legal perealisasiannya.

Dalam upaya untuk merawat jalinan komunikasi dan hubungan nan baik dengan khalayak pembaca, Majalah Panjebar Semangat menyediakan Rubrik “Layang Saka Warga”. Semacam surat pembaca nan memberikan kesempatan masyarakat dari beragam wilayah untuk saling berbagi pemikiran serta mungkin respons terhadap kondisi sosial nan memantik keprihatinan alias perhatian serius mereka.

Satu lagi rubrik nan boleh terbilang legendaris dan juga menjadi bagian dari hidangan khas, ialah “Alaming Lelembut”. Ghost story. Bahkan ini nan paling ikonik dan tua. Berkisah mengenai misteri alias hal-hal supranatural. Khalayak pembaca sangat menggemari rubrik ini, lantaran merupakan aspek nan sarat dengan jamahan kultur mitologi Jawa.

Struktur rubrik nan upaya pelangsungan keberadaannya sangat memperhatikan dengan saksama dan jeli terhadap selera serta kebutuhan sebagian besar khalayak pembacanya. Berikut pemakaian bahasa Jawa ragam ngoko lugu terutama untuk sajian berita-beritanya. Dengan sedikit kompromi untuk ragam tuturan lainnya, seperti krama inggil dan krama madya, di Rubrik “Cerkak”, “Crita Sambung”, dan “Layang Saka Warga”. Semuanya tetap membawanya melangkah dengan dinamika langkahnya mulai masa kolonial Belanda hingga era digital dewasa ini.

Imam Soepardi

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Selain master Soetomo, ada seorang tokoh lagi nan turut bahu-membahu memberikan roh kehiduoan terhadap Majalah Panjebar Semangat. Dia adalah Imam Soepardi (10 Mei 1904 - 25 Juli 1963). Seorang mantan pembimbing (alumnus Normaalschool pada 1925 dan pernah mengajar pada 1926 - 1930 di wilayah Puger, Jember), penulis, dan tokoh pers. Majalah ini pernah berakhir terbit selama tujuh tahun dari masa pendudukan Jepang (1942 - 1945) dan bersambung hingga Perang Kemerdekaan (1945 - 1949).

Pada awal 1949, Imam Soepardi akhirnya dapat merapat kembali di Surabaya. Sebelumnya situasi keamanan di kota tersebut begitu tidak kondusif sehingga membahayakan tokoh-tokoh nasionalis dan wartawan pejuang. Mereka terpaksa melakukan pengungsian dan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari represi politik alias militer selama perang berkecamuk. Imam Soepardi sendiri memilih Kediri alias Malang agar tetap menjadi penyintas.

Manakala ketegangan militer dan politik sudah menunjukkan tanda-tanda kian mereda, dekat menjelang pengakuan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949, pada akhirnya Imam Soepardi dapat menapakkan kaki ke Surabaya dengan lebih nyaman. Fokus utamanya ketika itu adalah menghidupkan kembali Majalah Panjebar Semangat. Berkat upaya kerasnya, media berkata Jawa tertua di wilayah penutur bahasa Jawa itu pun sukses kembali naik cetak dan terbit pada 1 Maret 1949.

Kiprah Imam Soepardi setelah itu menjadi sangat sentral. Dia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi dan sekaligus Direktur Utama majalah tersebut. Dokter Soetomo telah berpulang ke rahmatullah pada 30 Mei 1938. Dengan demikian, struktur kepemimpinan Pascakemerdekan dan setelah vakum akibat kecamuk perang, tumpuan utamanya berada pada Imam Soepardi.

Tak pelak lagi, jenis perdana Pascakemerdekaan nan menemukan tonggak waktu pada 1 Maret 1949 berada dalam catatan sejarah sebagai momen emosional dan sekaligus krusial bagi perjalanan Majalah Panjebar Semangat. Kali ini, setelah mengalami vakum sejumlah tahun, media berkata Jawa ini datang dengan performa raut nan kritis, agitatif. Serta, tentu saja tetap loyal mengedepankan sebagai ragam dominan bahasa Jawa ngoko lugu nan egaliter.

Adapun konten nan terhidang pada jenis perdana ini begitu kental dengan aroma perjuangan, laporan seputar kiprah pergerakan nasional pada masa itu. Berikut sertaan kritik nan tajam terhadap keping-keping sisa kekuatan kolonial Belanda dengan ambisi kemauan dan segenap reka daya upaya melakukan percobaan untuk menguasai kembali Indonesia.

Sejak awal kebangkitannya itu, sejumlah rubrik ikonik tetap datang mengisi halaman-halamannya. “Pergerakan” tergolong rubrik utama nan tajam dan berani. Mencakup laporan unik serta laporan buletin politik nasional kala itu. Salah satu buletin nan mencuatkan kepopulerannya pada awal publikasi ketika melaporkan tindakan pembubaran paksa dari abdi negara kepolisian kolonial di Turen, Malang atas pertemuan antara para pemimpin Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Mohammad Hatta pada paruh pertama bulan September 1933. Aparat keamanan itu sebutannya Veldpolitie (Polisi Lapangan) nan menerima perintah dari Politieke Inlichtingen Dienst (PID). Dinas Intelijen Politik Kolonial.

Rubrik ikonik lainnya nan juga tetap muncul setelah kebangkitan kembali itu, ialah “Kulak Warta - Adol Proengon” (Mencari buletin dan Mengabarkannya). Ini merupakan rubrik informatif dan edukatif nan mengulas pelbagai jenis pengetahuan umum, mulai dari perkembangan bumi pers, ulasan politik termutakhir, hingga sorotan terhadap masalah ekonomi.

Lalu ada Rubrik “Pojok Jenaka”. Ada sejumlah jejeran redaksi nan menulisnya. Ada Mbah Djamino, pseudonim dari Toto Soedarto (jurnalis senior Majalah Panjebar Semangat). Ada Sinyo Kanthi, nama samaran Mochamad Ali (adik kandung Imam Soepardi). Dan, tidak jarang juga di-handle Imam Soepardi himself lewat pseudonim Seboel, Besoet, alias Senggring.

Humor satire dalam bahasa Jawa untuk menyentil kondisi sosial politik nan mengundang respons perhatian insan pers. Terkadang, terutama tulisan Mbah Djamino, juga memaparkan wejangan kehidupan dari perspektif pandang generasi tua untuk anak-anak muda pada masa itu dengan nada candaan nan bermaksud positif (guyon parikena).

“Kabar Donya” alias “Kabar Anyar” juga tercatat sebagai rubrik ikonik setelah era kebangkitan pada 1 Maret 1949. Menjadi kanal untuk menyebarluaskan rangkuman berita-berita krusial dari beragam wilayah dan luar negeri, agar masyarakat Jawa tidak seperti katak di dalam tempurung. Akan tetapi, juga dapat mengetahui dan mengikuti perkembangan peristiwa nan berjalan di bumi luar.

Penerbitan kembali setelah mengalami masa vakum tidak sejenak itu, segera mendapat sambutan hangat nan luar biasa dari masyarakat penutur bahasa Jawa, terutama di kalangan mereka nan melek huruf pada waktu itu. Sebab, Majalah Panjebar Semangat menjadi salah satu dari tidak banyak media lokal nan istikamah menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

Dari rentang 1 Maret 1949 hingga tutup usia pada 25 Juli 1963, Imam Soepardi mengambil peran dobel nan signifikan dalam kelangsungan publikasi Majalah Panjebar Semangat.

Sebagai pemimpin redaksi adalah tanggung jawabnya menentukan arah pemberitaan, kebijakan media Pascakemerdekaan. Sebagai kepala utama/pemimpin usaha, pengelolaan bisnis, percetakan, dan pendistribusian berdikari hingga peningkatan tiras penjualan menjadi bagian dari ranah penanganannya pula.

Imam Soepardi juga tetap mengisi sejumlah rubrik. Selain “Pojok Jenaka”, juga mengisi “Sinambi Kalane Nganggur” (Sambil Mengisi Waktu Senggang).

Kenangan Masa Kecil

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Saya pribadi mempunyai kenangan masa mini dengan Majalah Panjebar Semangat. Itu terjadi ketika tetap sekolah dasar. Saya mulai suka mencari bahan-bahan referensi ketika kelas III (1974). Nah, sejak bisa membaca itu, saya sering main di tetangga belakang rumah di Salatiga, Jawa Tengah. Kerap kali menyikat lenyap komik-komik silat nan tertumpuk di meja tamu. Asyik membaca berlama-lama.

Atau, jika sedang berjamu ke rumah Eyang Putri (ibu dari Ayah) di Srondol, Kota Semarang, saya tidak pernah jenuh menelusuri tumpukan koleksi pustaka, bisa berupa kitab alias majalah, di lemari penyimpanan. Di tempat inilah saya berjumpa dengan beberapa eksemplar Majalah Panjebar Semangat terbitan kisaran tahun 1950-an hingga 1960-an.

Ada satu rubrik nan menarik perhatian saya. Namanya “Opo Tumon”. Dalam bahasa Indonesia bisa berfaedah “Apa Pernah Menemui” alias “Bagaimana Mungkin”. Pernyataan ini merupakan ekspresi keheranan, ketidakpercayaan, alias bisa juga sindiran terhadap suatu kejadian nan menurut dugaan si penuturnya termasuk ke dalam kategori tidak masuk akal, aneh, alias tidak wajar. Rubrik ini berupa cerita bergambar.

Pada era 1950-an hingga 1960-an, “Opo Tumon” biasanya tersaji dengan komik strip pendek nan terdiri atas empat gambar alias panel. Format visual empat panel ini demikian terkenal kala tersebut. Menceritakan segmen demi segmen dengan bubble perbincangan nan jenaka. Bisa juga berupa kejadian tidak masuk logika nan menimpa para karakternya. Atau peristiwa konyol nan mengundang tawa. Rubrik ini masuk ke dalam kategori lelipur (hiburan).

Kisah-kisah nan terilustrasikan sebagai deretan gambar nan bernarasi itu, bisa berupa cuatan keganjilan, kisah nyata nan unik, alias kejadian kocak nan merupakan hasil kiriman dari para pembaca. Kepada pembaca nan pengalaman neko-nekonya itu diangkat ke Rubrik “Opo Tumon” bakal diberikan bebungah seperti laiknya honorarium.

Pada kisaran tahun 1950-an hingga 1960-an itu Majalah Panjebar Semangat mempunyai ilustrator berjulukan Prijo Djatmiko (ejaan sekarang: Priyo Jatmiko). Ilustrator legendaris ini berjasa menghidupkan visual beragam rubrik selama puluhan tahun dari era awal hingga pertengahan perjalanan sejarah media cetak berkata Jawa itu. Goresan ilustrasinya nan begitu khas, klasik, menjadi identitas visual nan terpatri sebagai memori kolektif generasi pembaca pada zamannya.

Karya-karya Prijo Djatmiko juga datang untuk menghidupkan khayalan pada rubrik “Cerkak” alias “Crita Sambung”. Peletak fondasi langkah menggambarkan karakter manusia Jawa secara jenaka namun tetap santun (terutama dalam Rubrik “Opo Tumon”) lewat goresan hitam putihnya, menempatkan posisinya sebagai maestro legendaris nan mengawali tradisi seni visual dan animasi di Majalah Panjebar Semangat.

Dekade 1950-an menjadi salah satu periode nan begitu krusial dalam perjalanan karya ilustrasinya. Setelah tidak terbit selama tujuh tahun akibat gejolak politik dan militer di Tanah Air, Majalah Panjebar Semangat kembali datang ke tengah-tengah khalayak pembacanya pada 1 Maret 1949. Melangkah ke dasawarsa 1950-an, tirasnya meningkat secara menggembirakan hingga menyentuh nomor puluhan ribu eksemplar.

Pada masa keemasan ini, karya Prijo Djatmiko nan berupa sketsa, karikatur, berikut ilustrasi cerita, menjadi bagian dari hidangan karya jurnalistik nan banyak pembaca dari pelbagai wilayah dapat menikmatinya. Goresan hitam putihnya kala itu sangat mendapat pengaruh dari transisi masyarakat dari era kolonial menuju era kemerdekaan.

Yang paling menampak tegas dari goresan hitam putih seorang Prijo Djatmiko lewat karakter laki-laki paruh baya nan mengenakan blangkon berikut kain jarit sebagai corak ekspresi visualnya tentang sosok rakyat jelata nan abangan sebagaimana tertuang ke dalam Rubrik “Opo Tumon”. Hal ini sesungguhnya merupakan rekaman visual sosiologis masyarakat Jawa pada tempo tersebut.

Nah, di sinilah letak kenangan masa mini saya terhadap Majalah Panjebar Semangat, terutama terbitan tahun 1950-an hingga 1960-an nan saya temukan di lemari kitab Ayah. Saat itu, saya nan tetap kelas III di SD Kutawinangun IV Salatiga, mengira bahwa Prijo Djatmiko adalah karakter laki-laki paruh baya nan mengenakan blangkon serta berjarit itu.

Saya nan saat itu tetap 10 tahun, telah mengacaukan identitas Prijo Djatmiko sebagai ilustrator cerita bergambar di Rubrik “Opo Tumo” dengan mengiranya sebagai salah seorang karakternya. Kalau terkenang perihal itu, saya jadi malu sendiri.

Kondisi Dewasa Ini

Ilustrasi kreasi Gemini 3 AI.

Dewasa ini, Majalah Panjebar Semangat konsisten terbit 50 laman tiap edisinya. Tidak lagi hanya mengandalkan jenis cetak, tetapi juga sudah tersedia jenis digitalnya (E-Magz) lewat situs resmi panjebarsemangat.id, agar lebih mudah berada dalam jangkauan pengaksesan beragam kalangan. Kedua jenis tersebut telah distandardisasi. Untuk pengguna jenis digital kadang memperoleh sisipan khusus, seperti “Nayarana”, laman untuk anak-anak. Hanya tidak selalu datang di tiap edisi.

Majalah nan berkantor redaksi di Jalan Bubutan Nomor 87 Surabaya, tepat berdampingan dengan makam sang pendirinya, master Soetomo, tetap kokoh menjadi pemasok pelestari budaya Jawa. Rubrik ikonik nan menarik kegemaran dari banyak khalayak pembaca, seperti cerita pendek, cerita bersambung, tulisan budaya, dan kisah misteri tetap terawat dengan baik sebagai konten nan berada dalam kategori “terus berkelanjutan”.

Hingga dewasa ini Majalah Panjebar Semangat masih mempunyai pedoman pembaca nan loyal. Kendatipun telah mengalami disrupsi digital, dia tetap memperoleh support khalayak pembaca setia nan berkekuatan finansial pula untuk memperpanjang eksistensinya dengan berlangganan dari masyarakat Jawa di Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, ataupun masyarakat Jawa di perantauan alias apalagi di luar negeri seperti Suriname.

Di samping Majalah Panjebar Semangat, terdapat pula media berkata Jawa lain nan tetap sukses sebagai penyintas hingga kini, ialah Majalah Djaja Baja (Surabaya, berdiri pada 1945) dan Majalah Djaka Lodhang (Yogyakarta, berdiri pada 1971). Para fans dapat menemukan dan membelinya lewat platform lokapasar, seperti Shopee alias Tokopedia. Kedua media tersebut belakangan ini pun sudah mempunyai jenis digital masing-masing. ***

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan