Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih setelah angkatan laut Iran menyatakan telah melepaskan tembakan rudal ke arah kapal perang Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. Kantor buletin semi-pemerintah Iran, Fars, melaporkan dua rudal telah menghantam kapal perang tersebut di dekat pelabuhan Jask nan merupakan pintu masuk strategis jalur pelayaran dunia.
Pihak angkatan laut Iran menegaskan, mereka sukses mencegah kapal perang "Amerika-Zionis" memasuki wilayah Selat Hormuz dengan memberikan peringatan nan sigap dan tegas. Tindakan ini dilakukan sebagai respons atas pergerakan militer AS nan dianggap melanggar pemisah wilayah kedaulatan mereka.
"Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata asing, terutama Angkatan Darat AS nan agresif, bakal diserang jika mereka beriktikad mendekati dan memasuki Selat Hormuz," tegas Ali Abdollahi, kepala komando terpadu pasukan Iran.
Ali Abdollahi juga menambahkan, keamanan Selat Hormuz sepenuhnya berada di tangan Iran. Ia menegaskan bahwa setiap jalur perlintasan kapal kudu dikoordinasikan secara ketat dengan angkatan bersenjata mereka.
"Kami telah acapkali mengatakan bahwa keamanan Selat Hormuz ada di tangan kami dan bahwa jalan kondusif bagi kapal-kapal perlu dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata," kata Ali Abdollahi dalam pernyataan resminya.
Merespons klaim serangan tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) langsung mengeluarkan sanggahan resmi dan menyatakan tidak ada kapal Angkatan Laut AS nan terkena serangan rudal. Seorang pejabat senior AS juga dengan segera menepis laporan mengenai hantaman rudal tersebut meski situasi di wilayah Teluk dilaporkan sangat mencekam.
Presiden Donald Trump sendiri sebelumnya menyatakan bakal memandu keluar kapal-kapal nan terjebak di Teluk akibat perang AS-Israel melawan Iran nan telah berjalan selama dua bulan. Langkah ini diambil lantaran banyak kapal komersial nan tidak bisa bergerak akibat blokade.
"Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami bakal memandu kapal mereka dengan kondusif keluar dari perairan terbatas ini, sehingga mereka dapat dengan bebas dan bisa melanjutkan upaya mereka," tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social.
Rencana pengamanan ini muncul lantaran banyak awak kapal nan mulai kehabisan stok makanan dan persediaan logistik lainnya di tengah blokade nan ketat. Sebagai informasi, Iran telah memblokir nyaris semua pengiriman di Teluk nan mengakibatkan terputusnya seperlima pengiriman minyak bumi hingga memicu lonjakan nilai minyak sebesar 50%.
CENTCOM menyatakan dukungannya terhadap misi pengamanan ini dengan mengerahkan 15.000 personel militer dan lebih dari 100 pesawat tempur serta kapal perang. Laksamana Brad Cooper selaku komandan CENTCOM menegaskan bahwa misi pertahanan ini sangat krusial bagi stabilitas pasar.
"Dukungan kami untuk misi pertahanan ini sangat krusial bagi keamanan regional dan ekonomi dunia lantaran kami juga mempertahankan blokade angkatan laut," kata Laksamana Brad Cooper dalam sebuah pernyataan.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·