ilustrasi(Magnific)
ANAK nan mengalami gangguan belajar spesifik, seperti disleksia, memerlukan intervensi terstruktur agar bisa membangun sistem koping nan efektif. Dengan support nan tepat, halangan tersebut tidak menjadi penghalang bagi anak untuk mencapai sasaran pembelajaran nan setara dengan kawan sebayanya di sekolah.
Penegasan tersebut disampaikan oleh master ahli anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial konsultan, dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp. T.K.P.S.(K), dalam seminar daring nan diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (15/9).
"Jadi targetnya sama, gimana anak ini bisa mencapai sasaran pembelajaran nan sama dengan teman-temannya," ujar dr. Farid.
Pendekatan Pembelajaran Terstruktur
Menurut dr. Farid, gangguan belajar spesifik seperti disleksia merupakan kondisi nan berkarakter menetap, bukan gangguan nan dapat lenyap sepenuhnya. Kendati demikian, kondisi ini dapat diatasi melalui penerapan strategi belajar nan selaras dengan kebutuhan spesifik anak.
Intervensi nan diberikan perlu dirancang secara intensif dan sistematis sesuai jenis kesulitan belajar nan dihadapi. Sebagai contoh konkrit:
Anak dengan disleksia dapat dibantu melalui penerapan metode pembelajaran fonik secara sistematis.
Pelatihan dekoding serta support intensif untuk melatih kelancaran membaca secara bertahap.
Keberhasilan penanganan gangguan belajar spesifik sangat berjuntai pada terciptanya lingkungan pendukung nan kondusif, baik di rumah maupun di sekolah:
- Peran Orangtua di Rumah: Orangtua dapat membantu anak menyelesaikan tugas akademik dengan memecah materi besar menjadi langkah-langkah mini nan lebih sederhana, memanfaatkan media pendukung visual alias audio, serta senantiasa memberikan apresiasi atas setiap upaya belajar nan ditunjukkan anak.
- Peran Guru di Sekolah: Pendidik dapat mengidentifikasi pola kesulitan sejak awal serta menerapkan intervensi berupa penyesuaian metode pembelajaran, baik secara perseorangan maupun kelompok.
- Intervensi Tenaga Profesional: Apabila tantangan belajar tetap berpihak pada kesulitan setelah langkah-langkah awal dijalankan, orangtua dan pembimbing dianjurkan berkoordinasi untuk membawa anak menjalani asesmen medis dan psikologis.
Tenaga kesehatan ahli mempunyai kapabilitas untuk melakukan pemeriksaan akurat, mengidentifikasi kondisi penyerta, menyusun rencana intervensi klinis, hingga memantau perkembangan anak secara berkala. Melalui sinergi erat Aantara keluarga, lembaga sekolah, dan tenaga profesional, anak dengan gangguan belajar spesifik diyakini bisa mengatasi tantangan akademiknya serta mengoptimalkan potensi diri secara maksimal.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·