Pakar UGM: Erupsi Gunung Api Bersamaan Secara Ilmiah Dimungkinkan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 Erupsi Gunung Api Bersamaan Secara Ilmiah Dimungkinkan Pakar Vulkanologi UGM Prof. Agung Harijoko(MI/Agus Utantoro)

AHLI vulkanologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agung Harijoko, memberikan penjelasan ilmiah mengenai kejadian sejumlah gunung api aktif nan mengalami erupsi secara bersamaan. Menurutnya, kondisi tersebut sangat mungkin terjadi mengingat Indonesia mempunyai 127 gunung api aktif, namun dia menekankan bahwa setiap gunung mempunyai sistem magmanya masing-masing.

Dalam obrolan Pojok Bulaksumur berjudul “Menghadapi Indonesia nan Rawan Bencana: Apakah Kebijakan-Kebijakan Kita Sudah Siap?” di Gedung Pusat UGM, Rabu (9/9), Prof. Agung menjelaskan pengelompokkan gunung api di Indonesia nan terbagi menjadi tiga tipe:

  • Tipe A: Gunung api nan pernah erupsi sejak tahun 1600.
  • Tipe B: Gunung api aktif namun tidak mempunyai riwayat erupsi sejak 1600.
  • Tipe C: Gunung api nan tidak menunjukkan aktivitas erupsi tetapi tetap mempunyai indikasi aktivitas vulkanik.

Ia menyebut bahwa saat ini pemerintah melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memfokuskan pemantauan berkepanjangan pada gunung api jenis A. Meski erupsi berbarengan dimungkinkan, Prof. Agung menegaskan bahwa erupsi satu gunung tidak secara otomatis memicu gunung lainnya.

“Bisa (erupsi bersamaan). Sangat bisa, lantaran mereka punya sistem sendiri-sendiri,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa erupsi dipicu oleh peningkatan tekanan di dapur magma, misalnya akibat suplai magma baru nan melampaui kekuatan batuan penutup.

Tantangan Megathrust dan Teknologi Peringatan Dini

Selain ancaman vulkanik, obrolan tersebut juga menyoroti akibat gempa bumi dan tsunami. Kepala BMKG periode 2017-2025, Dwikorita Karnawati, menjelaskan dinamika Lempeng Indo-Australia nan menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Terkait ancaman megathrust, dia menegaskan bahwa letak potensi gempa dapat dipetakan, namun waktunya tidak dapat diprediksi secara akurat.

“Megathrust bisa diprediksi lokasinya secara spasial, tapi dari segi kapan itu tidak akurat. Jadi waktunya nan tidak bisa diprediksi,” tegas Dwikorita. Ia meminta masyarakat kritis terhadap info nan menyebut tanggal pasti terjadinya gempa besar.

Dwikorita juga mengungkapkan tantangan teknologi penemuan awal di Indonesia. Meskipun Indonesia mempunyai kapabilitas mengembangkan sistem serupa Jepang alias Taiwan, hambatan utama terletak pada prasarana komunikasi. Penggunaan sinyal GSM untuk info seismograf seringkali tidak optimal di gedung-gedung alias wilayah terisolir.

Catatan Mitigasi: Dua segmen megathrust di Indonesia nan energinya belum terlepas dan perlu menjadi perhatian serius adalah segmen Siberut (Sumatra Barat) dan Selatan Selat Sunda.

Anggaran Mitigasi 

Pemerhati kebijakan manajemen musibah UGM, Dr. Bevaola Kusumasari, menyoroti ketimpangan alokasi anggaran bencana. Menurutnya, anggaran seringkali lebih besar dialokasikan untuk tahap respons lantaran hasilnya lebih terlihat secara visual, sementara tahap mitigasi dan preparasi sering terabaikan.

“Jarang sekali orang menganggarkan duit banyak untuk tahap mitigasi. nan paling terlihat itu adalah tahap respons,” ujar Bevaola. Ia menekankan pentingnya penerapan SOP agar tidak sekadar menjadi arsip di atas kertas, melainkan menghasilkan perlindungan nyata bagi masyarakat.

Bevaola juga mengapresiasi mulai berjalannya koordinasi lintas lembaga, seperti penggunaan info BMKG oleh Kementerian Perhubungan dalam pengambilan keputusan operasional airport saat terjadi aktivitas Anak Krakatau. Namun, dia mengingatkan bahwa edukasi masyarakat tetap menjadi kunci utama, terutama dalam mengubah paradigma musibah dari sekadar "nasib" menjadi akibat nan bisa dimitigasi melalui kesiapsiagaan. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia