Orang Ini Nyaris Jadi Wakil Menteri, Ternyata Intel Israel

Sedang Trending 16 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Sistem intelijen Israel dikenal sangat terstruktur dalam menggali info dari pihak lawan. Salah satu kasus nan paling terkenal adalah seorang pemasok Mossad nan sukses menyamar sebagai pengusaha Arab sukses di Suriah. Identitas aslinya terungkap setelah dia membocorkan rahasia militer penting, nan berujung pada balasan meninggal secara terbuka.

Informasi nan diberikan pemasok tersebut mempunyai peran besar dalam kekalahan negara-negara Arab saat menghadapi peperangan melawan Israel. Sosok nan melakukan penyamaran andal itu adalah Eli Cohen, nan menjalankan misinya dengan nama samaran Kamel Amin Thaabet.

Cohen sebenarnya lahir dan besar di Mesir sebelum akhirnya pindah ke Israel pada 1954 lantaran direkrut oleh Mossad. Ia kemudian ditugaskan untuk menyusup ke Suriah dengan berpura-pura menjadi pengusaha tekstil berjulukan Kamel guna mendekati kalangan pemerintahan setempat.

Dalam skenario, Kamel merupakan laki-laki nan lahir dan besar di Suriah. Namun, pada 1949 dia pindah ke Argentina berbareng family dan memulai upaya tekstil dari negara Latin tersebut.

Lewat jaringan upaya inilah, Kamel diharuskan Mossad berkenalan dengan para petinggi Suriah demi mendapat info rahasia. Perlu diketahui, sejak berdiri pada 1948, Israel selalu mendapat kecaman negara-negara Arab, termasuk Suriah.

Dengan menyusupkan mata-mata, Israel diharapkan bisa selangkah lebih maju dan mengantisipasi langkah garang ke Suriah. Maka, dimulailah tindakan spionase Kamel sebagai pengusaha tekstil kaya raya pada 1960.

Menyusup ke Suriah

Dalam kitab Our Man in Damascus, Elie Cohn (1971) diketahui, langkah pertama Kamel untuk masuk ke Suriah adalah lewat atase militer Suriah di Argentina, ialah Jenderal Amin al-Hafez.

Kepada al-Hafez, Kamel mengutarakan keinginannya pulang kampung ke Suriah. Sebagai pengusaha kaya, dia mengaku mau membantu membangun kampung halamannya. Terlebih situasi di Suriah sangat buruk. Korupsi merajalela.

Sebagai jenderal nan sangat nasionalis, hati al-Hafez terketuk. Dia kemudian membawa Kamel ke Suriah dan memperkenalkannya kepada kolega-kolega sebagai pengusaha baik hati.

Pertemanan Kamel nan awalnya hanya satu orang berkembang pesat menjadi beberapa orang. Semuanya adalah orang ternama nan berada di lingkaran kekuasaan dan militer. Lewat jaringan kekuasaan inilah, Kamel berbisnis tekstil dan kemudian melesat sebagai salah satu pengusaha ternama di Suriah.

Samantha Wilson dalam Israel (2011) menceritakan, elite Suriah dikenal kegemaran berpesta. Pertukaran info seringkali dilakukan di celah kelowongan dansa dan mabuk. Kebiasaan inilah nan lantas dimanfaatkan Kamel.

Kamel sering mengadakan pesta dan mengundang elite-elite Suriah. Dari sini dia makin dikenal hingga sukses masuk ke lingkaran kekuasaan. Semua dilakukan tanpa seorang pun tahu Kamel adalah mata-mata Israel.

Terciduk

Tahun 1963, kawan baik nan membawa Kamel ke Suriah, ialah Amin al-Hafez, sudah menjadi presiden. Al-Hafez sangat percaya Kamel adalah pengusaha nan bakal membantunya membangun Suriah.

Maka, dia pun sering diajak sang presiden ke lokasi-lokasi strategis dan rahasia. Pada titik inilah, Kamel mengetahui tempat rahasia militer, jumlah tentara dan alutsista, serta rencana militer Suriah terhadap Israel.

Semua info kemudian dikirim lewat kode morse ke Israel di malam hari. Semua ini dilakukannya selama tiga tahun lebih.

Pada saat bersamaan, kepercayaan Presiden Suriah kepada Kamel makin besar. Dia mendapat tawaran sebagai Wakil Menteri Pertahanan Suriah. Dalam kitab Our Man in Damascus, Elie Cohn (1971) disebut, ketika mendapat tawaran ini Kamel ragu dan takut.

Setelah berkomunikasi dengan Mossad, sang intel mantap menerima tawaran. Namun, belum sempat dilantik, Kamel melakukan kesalahan fatal.

Pada malam hari di tahun 1965, Kamel ketahuan mengirim kode morse oleh pasukan Suriah. Saat itu, militer Suriah sudah mendapat info ihwal seorang mata-mata nan membocorkan rahasia negara.

Maka, mereka melakukan investigasi dan tak disangka mata-mata tersebut adalah sosok calon Wakil Menteri Pertahanan Suriah, ialah Kamel Amin Thaabet.

Presiden al-Hafez marah besar. Sebab akibat tindakan spionase Eli Cohen namalain Kamel, Suriah kudu menanggung kekalahan setiap bertempur musuh Israel

Sejak saat itulah, Kamel ditangkap dan disiksa setiap hari tanpa henti. Orang-orang Suriah nan dekat dengan Kamel turut disikat. Mereka dianggap mempermalukan negara.

Hidupnya pun berhujung pada 18 Mei 1965. Dia dihukum gantung di depan publik. Mayatnya dibuang dan tak pernah kembali ke Israel. Meski sudah wafat, info rahasia terlanjur bocor.

Lagi-lagi akibat tindakan Kamel, Israel bisa mengetahui rinci letak rahasia militer selama dua tahun ke depan, khususnya Perang Enam Hari pada Juni 1967. Kebocoran info inilah nan membikin Israel menang sekalipun dikeroyok negara-negara Arab.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News