Orang Dewasa, Sumber Krisis Integritas

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Orang Dewasa, Sumber Krisis Integritas (Dok. Pribadi)

BELAKANGAN, kita menyaksikan remaja menghalalkan beragam langkah demi validasi—mulai dari membikin konten nan merendahkan disabilitas, memalsukan penelitian akademik, hingga menganggap nge-vape sebagai penanda eksistensi. Kita, orang dewasa, condong menyalahkan dan menghujat mereka. Namun, sebelum telunjuk kita telanjur menuding, sudah saatnya menatap diri sendiri dan lingkungan sekitar nan setiap hari mengelilingi mereka.

Saat ini, masyarakat mengedepankan pengesahan melalui media sosial. Jumlah like, pengikut, dan klik menjadi mata duit nilai diri. Sherman dkk (2016) membuktikan bahwa like berfaedah sebagai support sosial nan terukur sehingga perilaku seperti nge-vape nan mendapat banyak like condong dimaknai sebagai perilaku nan diterima dan didorong untuk dilanjutkan. Tidak hanya media sosial, kepintaran buatan (AI) turut memperparah krisis. Jika dulu pengesahan hanya dari konten visual, sekarang AI memungkinkan siapa pun tampak produktif tanpa proses nan jujur. Kofinas dkk (2025) menemukan bahwa karya AI susah dibedakan dari karya manusia, memicu penggunaan jalan pintas demi validasi. Integritas pun menjadi korban.

Ketiga kasus di awal tulisan ini menunjukkan satu kesamaan: gairah untuk diakui, meski dengan langkah nan merendahkan diri sendiri maupun orang lain. Keinginan untuk dilihat memang manusiawi, tetapi menjadi masalah ketika dia dijadikan tujuan dan ditempuh dengan langkah nan tidak mulia. Padahal, jika kita renungkan, obsesi terhadap pengakuan ini bukanlah buatan anak-anak, melainkan gambaran logika orang dewasa: logika bahwa nilai diri diukur dari capaian nan terlihat dan diakui publik. Logika inilah nan membikin orangtua rela memaksakan anak dan kepala sekolah menghalalkan jalan pintas.

ORANG DEWASA YANG TIDAK SADAR MENJADI KORBAN

Untuk menjawab persoalan ini, kita kudu berani mengalihkan konsentrasi dari ‘kesalahan anak’ ke ‘luka orang dewasa’. Persoalan anak sering dilihat sebagai masalah mereka semata, padahal lingkungan tempat anak berada jarang mendapat perhatian. Orang dewasa sering kali tanpa disadari menganggap bahwa mereka sudah ‘selesai’ dan tidak perlu belajar lagi. Asumsi ini berbahaya. Tidak ada anak nan terlahir haus bakal validasi. Obsesi terhadap pengakuan adalah hasil belajar. Anak menyerapnya dari struktur dan budaya nan diciptakan dan dihidupi orang dewasa di sekitarnya (Bandura, 1977).

Apa nan dirayakan dan dipamerkan orang dewasa sebagai tanda keberhasilan menjadi kurikulum tersembunyi nan mengajarkan anak apa nan ‘pantas’ dikejar dan gimana melakukannya.

Kebutuhan pengesahan orang dewasa terlihat dari orangtua nan memamerkan rapor anak sebagai tanda keberhasilan mereka, alias kepala sekolah nan memburu label ‘sekolah unggulan’. Sebagian dari mereka menghalalkan kecurangan demi validasi. Namun, mencaci mereka sebagai ‘serakah’ adalah kajian dangkal. Hasrat pengesahan lahir dari struktur dan budaya nan menekan. Orangtua memaksa anak berprestasi lantaran tekanan lingkungan nan menganggap anak tidak pandai jika tidak berprestasi. Kepala sekolah mengejar label unggulan lantaran tuntutan struktural nan menekan.

Inilah nan disebut Johan Galtung (1969) sebagai kekerasan struktural dan kultural. Orangtua dan kepala sekolah sebenarnya adalah korbannya. Situasi menjadi jelek ketika mereka tidak menyadari luka itu, lampau tanpa sadar mewariskannya kepada anak. Di ranah mana pun, pertanyaan mendasarnya sama: apa nan kita rayakan sebagai ‘sukses’?

TRANSFORMASI ORANG DEWASA

Karena mereka tidak menyadari luka itu, korban justru tanpa sengaja melanggengkan siklus dengan berubah menjadi pelaku. Situasi ini kudu dihentikan dan diubah. Untuk itu, perihal pertama nan kudu dilakukan adalah membangun kesadaran dan rasa tanggung jawab pada para orang dewasa sehingga tidak ada emosi lepas tangan lantaran merasa telah menjadi korban.

Kesadaran saja tidak cukup. Orang dewasa perlu memahami akar masalah, lampau bertindak. Dalam konsep pendidikan perdamaian kritis, kesadaran kudu disertai dengan agensi, ialah keahlian untuk bertindak guna mengubah keadaan (Bajaj, 2018).

Tugas pertama orang dewasa bukan memperbaiki sikap dan perilaku anak alias siswa, melainkan menghentikan kebiasaan orang dewasa nan berpura-pura baik-baik saja. Tugas berikutnya, para orang dewasa nan memegang kuasa, seperti kepala sekolah dan kepala keluarga, kudu ingat bahwa ada struktur di genggaman tangan mereka nan kudu dimanfaatkan secara sengaja dengan merancang struktur dan budaya nan menumbuhkan integritas.

Sebagai contoh, di rumah, kisah ‘sukses’ apa nan bakal diceritakan orangtua kepada anak? Apakah tentang anak tetangga nan sukses mendapat pekerjaan dengan penghasilan tinggi, alias juga tentang anak tetangga nan ikut menyelesaikan masalah di kampung? Di sekolah, kepala sekolah dapat menentukan apa nan bakal dirayakan di sekolah. Siswa nan memenangi lomba saja, alias juga merayakan sumbangsih siswa ketika melakukan kegiatan-kegiatan nan terlihat sederhana tapi berkontribusi pada kebaikan bersama. Orang dewasa perlu menyusun lingkungan secara sadar agar integritas betul-betul dapat tumbuh dan berkembang.

Wujud lain dari penataan ini adalah orang dewasa nan mengarahkan kehidupan di rumah, sekolah, dan masyarakat agar lebih berorientasi pada kontribusi terhadap persoalan nyata di sekitarnya. Ketika anak alias siswa secara sengaja diajak memandang keadaan di sekeliling dan berkontribusi dalam mencari solusi untuk memperbaikinya, kemauan untuk mendapat pengakuan perlahan berakhir menjadi tujuan dan berubah menjadi akibat sampingan dari kerja nan berintegritas.

Praktik membangun integritas ini tidak bisa ditunda-tunda; momentum terbaik untuk memulainya adalah di tahun aliran baru 2026/2027 untuk mengingat kembali tujuan pendidikan nan disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara, ialah menuntun segala kodrat nan ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan nan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai personil masyarakat (Dewantara, 1977).

Maka, sekolah, keluarga, masyarakat, dan negara perlu bekerja sama untuk membenahi tanah tempat anak dan siswa tumbuh agar struktur dan budaya nan ada di dalamnya bisa memfasilitasi dan mendampingi mereka dalam menumbuhkan kepercayaan diri nan murni serta integritas.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia