Omah Wayang, Rumah Para Dalang Bekas 'Istana' Koruptor

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Kawasan Kraton Yogyakarta tak pernah kandas memberikan suasana magis budaya Jawa. Tepat di salah satu perspektif lingkungan Jero Beteng, ada sebuah gedung berpagar hitam nan mengundang mata melirik.

Sebuah gunungan wayang berukuran besar terpajang anggun dengan perpaduan warna-warni memikat. Di bagian bawahnya, terukir sebuah nama sederhana: Omah Wayang.

​Menjelajah ke dalam gedung tradisional bernuansa Jawa ini layaknya melangkah ke dalam ruang waktu nan menghidupkan rasa kagum terhadap kebudayaan lokal.

Dinding putihnya dihiasi lukisan mural Wayang Beber tradisional, menampilkan sosok-sosok bergaya wayang kulit Jawa klasik, motif pohon kehidupan gunungan, hingga deretan aksara Jawa nan elok.

​Di tembok nan lain, tersusun rapi foto para tokoh krusial di kembali layar pewayangan tanah Yogyakarta. Mulai dari Ki Regut Widi Prayitno, sang pelestari wayang golek menak hingga sang maestro wayang kulit, Ki Timbul Hadiprayitno, nan dulu menjadi favorit Presiden Soeharto dan Gus Dur.

Tak hanya itu, layar putih (kelir) dan seperangkat gamelan komplit tertata rapi siap mengiringi irama pertunjukan.

​

Asal Usul ​Omah Wayang

Namun di kembali atmosfer seni nan kental, gedung berarsitektur Jawa seluas 573 meter persegi di atas lahan 226 meter persegi tersebut rupanya menyimpan masa lampau kelam.

​Omah Wayang dulunya adalah salah satu "istana" milik mantan Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol Djoko Susilo. Rumah senilai Rp 4,47 miliar ini disita oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah sang pemilik terjerat kasus korupsi pengadaan simulator surat izin mengemudi (SIM) pada 2011.

​Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 537 K/PID.S/2014, aset tersebut resmi menjadi peralatan rampasan negara. Awalnya, KPK melalui Direktorat Pelacakan Aset Pengelolaan Barang dan Eksekusi (Labuksi) mencoba menjualnya lewat lelang publik. Namun, lantaran tak kunjung mendapat peminat, jalur hibah pun ditempuh.

​"Akhirnya dari pihak Pemprov DIY mengusulkan permohonan hibah kepada KPK," ungkap Suryo Sularso, Jaksa Direktorat Labuksi KPK.

​

Melalui sistem Penetapan Status Pengguna (PSP) dan persetujuan dari DJKN Kementerian Keuangan, rumah tersebut resmi dihibahkan kepada Pemprov DIY pada 2019. Penyerahan ini menjadi bukti konkret pemulihan aset negara (asset recovery) agar bisa kembali memberi nilai faedah nan nyata bagi masyarakat.

​Pemerintah Provinsi DIY merespons hibah tersebut dengan kesungguhan tinggi. Meskipun gedung ini bukan cagar budaya, nilainya terangkat berkah style arsitektur Jawa nan menyatu sempurna dengan area Cagar Budaya Keraton. Ditambah lagi, laman terbuka nan luas menjadikannya tempat nan sangat ideal untuk menggelar panggung seni.

​"Bahasa mudanya punya markas gitu ya. Punya tempat kumpul di mana di situ berjalan dialog, silaturahmi, pertukaran pengetahuan, keterampilan, termasuk pagelaran wayang secara rutin," tutur Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi.

​Tanpa mengubah tata letak antar ruang secara signifikan, proses pembaharuan dan rehabilitasi bentuk dilakukan secara hati-hati hingga akhirnya Omah Wayang resmi berdiri pada tahun 2022. ​ ​Kini, Omah Wayang telah menjadi jantung baru bagi ekosistem pewayangan di Yogyakarta. Kolaborasi aktif dijalin berbareng tiga organisasi utama, ialah Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI), wayang kulit Pepadang, dan wayang Sukrakasih. Setidaknya tiga kali dalam sebulan, pagelaran wayang digelar secara rutin dan terbuka untuk publik.

​

Impian Panjang Seniman

Bagi para seniman dan pegiat wayang, kehadiran Omah Wayang adalah jawaban atas angan panjang. Ketua PEPADI DIY, Edi Suwondo, mengenang gimana usulan mempunyai markas berbareng ini sebenarnya sudah diperjuangkan sejak rentang 2017–2018.

​Keberadaan ruang bentuk ini terbukti memicu gelombang regenerasi nan positif. Menariknya, banyak dalang anak dan remaja bermunculan di Yogyakarta saat ini nan bukan berasal dari garis keturunan dalang.

​"Sekarang di Jogja banyak dalang anak dan remaja nan multitalenta, bisa wayang kulit dan golek. Kalau nan seangkatan saya malah kalah sebenarnya," ujar Edi dengan rasa bangga.

​Dari sebuah simbol penyalahgunaan kekuasaan, Omah Wayang sekarang beralih bentuk menjadi ruang perjumpaan seni, tempat nilai-nilai luhur diwariskan, dan bukti nyata gimana masa lampau nan kelam bisa dilahirkan kembali menjadi warisan budaya nan berfaedah bagi generasi mendatang.

Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑