Olivia Rodrigo baru-baru ini datang di Museum Grammy untuk berbincang berbareng sutradara Cameron Crowe. Percakapan tersebut digelar sebagai bagian dari seremoni eksibisi baru berjudul Olivia Rodrigo: “the cure” Unraveled, nan terinspirasi dari estetika kerajinan tangan dalam video musik miliknya.
Dalam kesempatan tersebut, penyanyi berumur 23 tahun itu berbagi cerita mengenai perjalanan imajinatif dan perkembangan musiknya. Salah satu nan dia soroti adalah tekanan besar nan dirasakannya ketika menggarap album keduanya, GUTS (2023).
Rodrigo mengaku sempat dihantui kekhawatiran dan keraguan setelah kesuksesan besar album debutnya, SOUR (2021). Ia kemudian berupaya melepaskan diri dari ekspektasi tersebut dan kembali menemukan kegembiraan dalam proses menulis lagu.
Lepas dari Bayang-Bayang Kesuksesan Album SOUR
Kesuksesan SOUR membikin ekspektasi terhadap karya berikutnya menjadi sangat tinggi. Album nan dirilis pada 2021 itu langsung menduduki posisi puncak Billboard 200, begitu pula GUTS nan menyusul dua tahun kemudian.
Namun, pencapaian tersebut rupanya turut menjadi beban bagi Rodrigo. Saat berbincang dengan Crowe, dia mengungkapkan bahwa proses pengerjaan album keduanya dipenuhi tekanan mental.
“Pada album kedua saya, tekanannya terasa sangat besar,” ujar Rodrigo, seperti dikutip Billboard.
Ia mengaku mengalami banyak kekhawatiran dan keraguan selama proses imajinatif GUTS. Pengalaman tersebut berbeda dengan proses pengerjaan album ketiganya, You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love, nan menurut Rodrigo justru terasa jauh lebih menyenangkan.
Lewat album terbarunya, Rodrigo merasa kembali terhubung dengan argumen awal nan membuatnya mencintai musik. Ia dapat bereksperimen dengan lebih bebas tanpa terlalu memikirkan ekspektasi maupun penilaian dari orang lain.
Kebebasan tersebut turut mengubah suasana di studio. Alih-alih terbebani oleh keharusan untuk mengulang kesuksesan sebelumnya, Rodrigo merasa lebih leluasa mengikuti hatikecil kreatifnya.
Menemukan Melankolia dalam Lagu Cinta
Meski proses imajinatif album ketiganya terasa lebih menyenangkan, Rodrigo tidak sepenuhnya meninggalkan sisi emosional nan selama ini menjadi karakter musiknya.
Ia bercerita tentang keinginannya untuk menantang diri sendiri dengan menulis lagu cinta nan betul-betul positif. Namun, dalam prosesnya, dia menyadari bahwa karya-karya nan paling kuat justru sering kali mempunyai sedikit unsur kesedihan alias kerentanan.
Pemikiran tersebut kemudian menjadi salah satu pendapat di kembali titel album You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love.
Menurut Rodrigo, lagu cinta nan paling menyentuh tidak selalu menggambarkan kebahagiaan secara utuh. Ada sisi rapuh, rasa takut, alias sesuatu nan sedikit “retak” di dalamnya nan justru membikin sebuah lagu terasa lebih manusiawi.
“Saya rasa itulah argumen kenapa album ini diberi titel You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love,” jelasnya.
Pendekatan tersebut memungkinkan Rodrigo mengeksplorasi cinta dari perspektif nan lebih kompleks. Kebahagiaan dan kesedihan tidak lagi ditempatkan sebagai dua perihal nan bertentangan, tetapi dapat datang secara berbarengan dalam sebuah pengalaman emosional.
Melawan Perfeksionisme dalam Proses Kreatif
Dalam perbincangannya dengan Crowe, Rodrigo juga membagikan pandangannya mengenai perfeksionisme dalam menulis lagu. Menurutnya, seorang penulis lagu tidak perlu takut menghasilkan karya nan jelek selama terus mencoba dan menulis.
Rodrigo mengatakan bahwa dia kerap menemukan satu baris lirik nan menarik dari lagu-lagu nan akhirnya tidak dirilis. Potongan tersebut kemudian dapat menjadi titik awal untuk menciptakan lagu lain.
“Saya pikir perfeksionisme tidak bakal membantu Anda saat sedang menulis lagu,” ujarnya.
Ia menilai proses imajinatif semestinya memberikan ruang untuk bereksperimen, termasuk menghasilkan banyak draf nan pada akhirnya tidak digunakan. Bagi Rodrigo, justru dari proses tersebut sering muncul buahpikiran nan layak dikembangkan.
Waktu nan dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap lagu pun bisa sangat berbeda. Rodrigo mencontohkan honeybee yang dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat, sementara stupid song membutuhkan sekitar satu separuh tahun hingga betul-betul dirasa selesai.
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·