OJK Catat IHSG Terkoreksi 19,5 Persen hingga April 2026, Ini Penyebabnya

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Rohman Wibowo , Jurnalis-Selasa, 05 Mei 2026 |20:07 WIB

OJK Catat IHSG Terkoreksi 19,5 Persen hingga April 2026, Ini Penyebabnya

OJK Catat IHSG Terkoreksi 19,5 Persen hingga April 2026, Ini Penyebabnya (Foto: Okezone)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 19,55 persen sepanjang periode Januari hingga April 2026. Faktor eksternal seperti ketidakpastian dunia menjadi pemantik pelemahan pasar finansial dunia, nan turut berakibat pada IHSG.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menekankan pada akhir April 2026, IHSG bertengger di level 6.956,80. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 1,3 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan merosot 19,55 persen secara tahun melangkah (year to date/ytd). Menurutnya, laju pasar saham di dalam negeri tetap memperlihatkan tren nan bergerak meskipun berada di bawah tekanan aspek eksternal.

"Pasar saham domestik pada April 2026 tetap terlihat bergerak dinamis, sejalan dengan tingginya ketidakpastian dunia dan berlanjutnya volatilitas pasar finansial secara global," tuturnya dalam konvensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Hasan menjelaskan bahwa esensial ketahanan dan likuiditas pasar modal nasional tetap berada dalam kondisi nan terjaga. Parameternya dapat ditilik dari rendahnya nomor rata-rata spread bid-ask, nan tercatat sebesar 1,33 kali sepanjang bulan April 2026.

Berbeda dengan pasar saham, performa pasar obligasi dalam negeri justru menunjukkan tren penguatan. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) terpantau naik 0,74 persen secara bulanan, sehingga mencapai level 436,38 pada penutupan April 2026.

Kenaikan tersebut dipicu oleh penurunan rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 3,9 pedoman poin secara mtm. Selain itu, optimisme terhadap instrumen obligasi domestik juga terlihat dari tindakan beli bersih (net buy) oleh penanammodal asing di pasar SBN nan mencapai Rp8,8 triliun secara month to date hingga posisi 29 April 2026.

Kondisi positif juga meliputi industri pengelolaan investasi. Tercatat, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa biaya menyentuh nomor Rp711,89 triliun pada April 2026, alias mengalami pertumbuhan sebesar 2,32 persen secara bulanan dan naik 5,41 persen secara tahun berjalan.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com