Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia mencatatkan debut di pasar global. Penawaran obligasi dunia perdana (global bond) Danantara mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 3 kali lipat, dengan total pemesanan penanammodal mencapai USD 4,6 miliar alias sekitar Rp 80 miliar.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengungkap tingginya minat penanammodal diperoleh setelah Danantara menggelar roadshow ke sejumlah pusat finansial dunia, mulai dari Hong Kong, Singapura, London, hingga New York.
Roadshow dilakukan setelah Danantara memperoleh ranking angsuran (rating) dari Moody’s, S&P, dan Fitch nan setara dengan sovereign rating atau ranking utang Pemerintah Indonesia.
"Danantara melakukan kunjungan ke beberapa negara sejak dimulai tanggal 3 Juni. Itu dari Hongkong, Singapura, kemudian juga ke Boston, ada nan ke London dan New York. Memang di New York itu nan saya mimpin secara langsung," kata Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6).
Awalnya, Danantara hanya menargetkan publikasi obligasi senilai USD 1 miliar. Namun tingginya minat penanammodal membikin nilai publikasi ditingkatkan menjadi USD 1,5 miliar alias Rp 26,5 miliar.
"Dari rencana 1 miliar dolar AS nan kami capai, bookbuilding nan masuk itu kurang lebih 4,6 miliar dolar AS. Sehingga memandang book building nan begitu tinggi, ada kami meng-upsize alias meningkatkan dari USD 1 miliar menjadi 1,5 miliar USD," ucap Rosan.
Berdasarkan paparan Danantara, obligasi dunia senilai USD 1,5 miliar terbagi dalam dua tenor. Sebesar USD 750 juta diterbitkan untuk tenor 5 tahun dengan kupon 5,35% dan jatuh tempo pada 2031. Sementara USD 750 juta lainnya mempunyai tenor 10 tahun dengan kupon 5,95% nan jatuh tempo pada 2036.
Rosan mengakui kondisi pasar saat publikasi obligasi berjalan tidak ideal. Saat itu pasar modal domestik tengah mengalami tekanan dan nilai tukar rupiah melemah. Bahkan sejumlah pihak memperkirakan kupon obligasi Danantara bakal berada di atas 6 persen.
Meski demikian, tingginya minat penanammodal membikin Danantara bisa memperoleh biaya pendanaan nan lebih kompetitif dari perkiraan awal.
"Karena appetite alias book building alias penawar nan masuk ke situ tinggi, akhirnya kami bisa closing nan 5 tahun di 5,35%, nan 10 tahun di 5,95%," ucap Rosan.
Di tempat nan sama, Mensesneg Prasetyo Hadi menilai penerimaan nan baik terhadap obligasi perdana Danantara menjadi bukti bahwa penanammodal asing tetap mempercayai ekonomi Indonesia.
"Berkaitan dengan masalah dunia bond bahwa rupanya itu juga kemudian membuktikan kepercayaan penanammodal baik di Amerika maupun Eropa, Asia, terhadap dunia bond nan diterbitkan oleh Danantara itu sesuatu perihal nan perlu kita syukuri," tutup Prasetyo.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·