Obligasi Dolar Perdana Danantara Laku Keras, Pesanan Tembus Rp 82 T

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Surat utang nan diluncurkan Danantara Investment Management mencatatkan respons positif dari pasar finansial global. Pada penjualan perdana obligasi dolar AS-nya, unit di bawah BPI Danantara ini sukses menarik pesanan lebih dari US$ 1,5 miliar alias sekitar Rp 26,94 triliun (asumsi kurs Rp 17.961/dolar) pada Kamis (11/6) kemarin.

Penjualan perdana obligasi dolar AS ini merupakan 'ujian' krusial bagi Danantara untuk memandang minat penanammodal asing terhadap aset-aset Indonesia. Terlebih di tengah kekhawatiran penanammodal bakal penurunan nilai rupiah, kebijakan populis Presiden Prabowo Subianto nan menyantap banyak anggaran, dan peran Danantara nan semakin meluas dalam perekonomian.

Menurut lembar persyaratan (term sheet) nan dilihat Reuters pada Jumat (12/6) pagi ini, Danantara sukses menjual obligasi 5 tahun dan obligasi 10 tahun masing-masing senilai US$ 750 juta alias Rp 13,47 triliun. Nilai permintaan penanammodal ini tercatat jauh melampaui sasaran total penghimpunan biaya awal nan dipatok sekitar US$ 500 juta dari masing-masing obligasi nan diterbitkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tingginya minat penanammodal memungkinkan perusahaan meningkatkan ukuran publikasi sekaligus menurunkan tingkat imbal hasil (yield) akhir. Di mana saat ini obligasi 5 tahun dihargai dengan imbal hasil 5,35% dan obligasi 10 tahun diberi imbal hasil 5,95%.

Sementara itu, hingga Kamis malam kemarin penawaran ini tercatat sukses menarik pesanan lebih dari US$ 4,6 miliar alias setara Rp 82,62 triliun, berasas pembaruan kitab pesanan nan dilihat Reuters.

"Permintaan tersebut memungkinkan perusahaan untuk menurunkan imbal hasil akhir sebesar 35 pedoman poin dari pedoman nilai awalnya. Satu pedoman poin adalah seperseratus dari satu poin persentase (0,01%)," tulis Reuters dalam laporannya.

Dana hasil publikasi obligasi bakal digunakan oleh Danantara Investment Management untuk kebutuhan korporasi umum, termasuk investasi dan pembiayaan kembali (refinancing) utang nan sudah ada.

"Obligasi tersebut diperkirakan bakal diterbitkan pada tanggal 18 Juni di bawah program obligasi jangka menengah (medium-term note) dunia senilai US$ 5 miliar," papar Reuters lagi.

Sejumlah bank nan bertindak sebagai joint bookrunner dan joint lead manager dalam transaksi ini antara lain Citigroup, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered.

(igo/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance