Ilustrasi(magnifik)
FLU sering dianggap sebagai penyakit ringan nan bisa sembuh sendiri. Namun, pada sebagian orang, infeksi influenza dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti pneumonia hingga memerlukan perawatan di rumah sakit.
Karena itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa obat antivirus dapat menjadi pilihan pengobatan bagi pasien tertentu, terutama mereka nan berisiko tinggi mengalami komplikasi.
CDC menegaskan bahwa obat antivirus bukan obat nan dijual bebas. Seluruh obat ini hanya dapat digunakan berasas resep tenaga kesehatan.
Pengobatan juga bekerja paling baik jika dimulai dalam waktu dua hari sejak indikasi flu muncul. Penanganan lebih awal dapat membantu mengurangi keparahan gejala, mempercepat pemulihan sekitar satu hari, sekaligus menurunkan akibat komplikasi seperti pneumonia.
Bahkan pada pasien nan dirawat di rumah sakit, terapi antivirus nan dimulai lebih lambat tetap dapat memberikan manfaat.
Pilihan Obat Antivirus Menurut CDC
CDC merekomendasikan beberapa jenis obat antivirus nan dapat digunakan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan pertimbangan dokter.
Oseltamivir
Oseltamivir tersedia dalam corak kapsul maupun cairan. Obat ini menjadi salah satu antivirus nan paling sering digunakan untuk mengobati influenza dan dapat diberikan pada beragam golongan usia sesuai indikasi medis.
Zanamivir
Zanamivir diberikan melalui perangkat inhalasi. Namun, CDC tidak merekomendasikan obat ini bagi penderita asma alias penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) lantaran dapat memicu gangguan pernapasan.
Peramivir
Peramivir diberikan melalui infus oleh tenaga kesehatan. Obat ini umumnya digunakan pada kondisi tertentu nan memerlukan penanganan medis di akomodasi kesehatan.
Baloxavir Marboxil
Baloxavir merupakan obat minum dosis tunggal untuk influenza tanpa komplikasi pada golongan usia tertentu. Namun, CDC menyebut obat ini tidak dianjurkan untuk ibu mengandung maupun menyusui lantaran info keamanan nan tetap terbatas.
Pengobatan Antivirus Sesegera Mungkin
Selain jenis obatnya, CDC menekankan bahwa waktu pemberian terapi merupakan aspek penting. Antivirus sebaiknya dimulai sesegera mungkin setelah indikasi muncul, idealnya dalam 48 jam pertama.
Meski demikian, pasien dengan penyakit berat alias golongan berisiko tinggi tetap dapat memperoleh faedah meskipun pengobatan dimulai lebih lambat.
Tidak Semua Penderita Flu Membutuhkan Antivirus
CDC menjelaskan bahwa sebagian besar orang dengan flu ringan dapat pulih dengan rehat nan cukup, mencukupi kebutuhan cairan, dan mengurangi aktivitas hingga kondisi membaik.
Sebaliknya, orang nan mengalami indikasi berat, dirawat di rumah sakit, alias mempunyai akibat tinggi seperti ibu hamil, lansia, anak kecil, serta penderita penyakit kronis dianjurkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan apakah terapi antivirus diperlukan.
Antibiotik juga tidak dapat digunakan untuk mengobati influenza lantaran penyakit ini disebabkan oleh virus, bukan bakteri.
Sumber: Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·