PRESIDEN ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) nobar movie Children of Heaven.(Dok. MI)
PRESIDEN ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berbareng Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menghadiri aktivitas nonton bareng (nobar) movie Children of Heaven di Jakarta Selatan, Jumat (20/6). Dalam kesempatan tersebut, AHY mengungkapkan bahwa SBY beberapa kali meneteskan air mata saat menyaksikan movie nan mengisahkan perjuangan dua kerabat dari family sederhana itu.
AHY, nan duduk berdampingan dengan SBY sepanjang pemutaran film, mengatakan kisah dalam Children of Heaven mengingatkan ayahnya pada masa mini nan penuh keterbatasan di Pacitan. Menurut AHY, SBY pernah mau mempunyai sepatu, tetapi kondisi ekonomi family saat itu tidak memungkinkan.
"Tadi Pak SBY sesekali meneteskan air mata sembari mengingat masa mini beliau, juga pernah mau sekali punya sepatu lantaran beliau suka olahraga, aktif main voli, berlari, naik gunung, ke pantai berbareng kawan-kawannya, tapi tidak kesampaian lantaran orang tua beliau juga tidak mampu," ujar AHY dalam sambutannya usai pemutaran film.
Acara nobar nan diinisiasi Kuda Biru Project itu turut dihadiri 212 anak dari enam panti didikan di Jabodetabek. Mereka diajak menyaksikan movie nan mengangkat kisah Ali dan Zahra, kakak beradik nan kudu berbagi sepasang sepatu demi tetap bisa berguru di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Film Children of Heaven nan diadaptasi dari karya sineas Iran itu mengisahkan perjuangan seorang anak laki-laki berjulukan Ali nan kehilangan sepatu adiknya, Zahra. Karena kondisi ekonomi family nan tidak memungkinkan untuk membeli sepatu baru, keduanya terpaksa bergantian menggunakan satu pasang sepatu demi tetap bisa bersekolah.
SBY Disebut Merasa Dekat dengan Kisah Film
AHY menjelaskan bahwa latar belakang kehidupan SBY membikin sang ayah dapat merasakan secara langsung emosi nan disampaikan dalam movie tersebut.
Ia menceritakan, SBY lahir dan tumbuh di Pacitan nan pada masa itu mempunyai beragam keterbatasan. Kondisi geografis nan tandus serta kehidupan masyarakat nan sederhana membikin banyak family hidup dalam kekurangan.
"Pak SBY, Presiden Republik Indonesia nan keenam, anak tunggal dari Pacitan, sebuah wilayah nan juga penuh dengan tantangan. Medannya alias geografisnya juga bebatuan, tanahnya tandus, dan masyarakat ketika itu juga hidupnya sangat sederhana, apalagi banyak nan berkategori miskin dan tidak mampu," ujar AHY.
Karena itulah, saat menyaksikan perjuangan Ali nan memahami kondisi ekonomi keluarganya dan tetap berupaya membantu sang adik, AHY menilai SBY seolah kembali mengenang masa kecilnya sendiri. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·