Warga menunjukan duit di area Jagakarsa, Jakarta, Rabu (1/7/2026).( ANTARA FOTO/Rakha Raditya Yahya/YU)
NILAI tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menunjukkan performa positif pada perdagangan Jumat pagi (10/7). Rupiah tercatat menguat sebesar 63 poin alias 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di nomor Rp18.128 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menjelaskan bahwa penguatan Rupiah ini didorong oleh sentimen global, terutama perkembangan positif dalam hubungan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi tersebut berakibat langsung pada penurunan nilai minyak bumi dan stabilitas indeks dolar.
“Rupiah pada perdagangan hari ini (10/7) diperkirakan bergerak di kisaran Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS,” ujar Rully di Jakarta, Jumat.
Sentimen Geopolitik dan Harga Minyak
Berdasarkan laporan Sputnik, militer AS memutuskan untuk menangguhkan serangan terhadap Iran seiring dengan berlangsungnya proses negosiasi diplomasi. Meskipun Washington tetap bersiaga untuk melanjutkan operasi militer jika diperlukan, komitmen terhadap jalur diplomasi memberikan angin segar bagi pasar global.
Sebelumnya, ketegangan sempat memuncak setelah militer AS melancarkan serangan udara pada Rabu (8/7), nan kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan ke pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait. Namun, sanggahan AS mengenai adanya serangan baru pada Kamis malam membantu meredakan kekhawatiran pelaku pasar.
Data Pergerakan Rupiah & Indikator Ekonomi
| Kurs Rupiah (10/7) | Rp18.065 per Dolar AS |
| Penguatan | 63 Poin (0,35%) |
| Defisit Neraca Dagang (Mei 2026) | 1,61 Miliar Dolar AS |
| Proyeksi Defisit APBN 2026 | Rp734,3 Triliun (2,85% PDB) |
| Indeks Keyakinan Konsumen (Juni) | 117,8 (Optimis) |
Tantangan dari Sektor Domestik
Meski didukung aspek global, penguatan rupiah tetap dibayangi oleh sejumlah info ekonomi domestik nan kurang menggembirakan. Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS, mengakhiri tren surplus nan telah memperkuat selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Selain itu, defisit APBN 2026 diproyeksikan melebar menjadi Rp734,3 triliun alias 2,85 persen terhadap PDB, melampaui sasaran awal sebesar 2,68 persen. Dari sisi konsumsi, Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 diprakirakan berada di level 221,6, namun tetap mengalami kontraksi 4,4 persen secara tahunan (yoy). (Ant/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·