Nilai Tukar Petani Turun, Biaya Produksi Naik Lebih Cepat dari Harga Jual

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Petani menanam padi di Aceh, Senin (19/5/2025). Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai tukar petani (NTP) pada April 2026 mengalami penurunan tipis dibandingkan bulan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah kenaikan nilai nan diterima petani nan tetap lebih rendah dibandingkan kenaikan biaya nan kudu mereka keluarkan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan dinamika tersebut mencerminkan tekanan pada kesejahteraan petani dalam periode tersebut.

“Nilai tukar petani alias biasa disebut dengan NTP pada April 2026 tercatat sebesar 125,24 alias turun 0,09 jika dibandingkan dengan Maret 2026,” kata Ateng dalam konvensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (4/5).

Penurunan NTP dipicu oleh ketimpangan antara kenaikan indeks nilai nan diterima petani dengan indeks nilai nan dibayar. Meski pendapatan petani mengalami peningkatan, laju kenaikannya tidak bisa mengimbangi biaya produksi dan konsumsi nan juga meningkat.

Petani menanam padi di Aceh, Senin (19/5/2025). Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP

“Penurunan NTP terjadi lantaran itu lantaran indeks nilai nan diterima oleh petani ini naik sebesar 0,16 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan peningkatan indeks nilai nan dibayar oleh petani sebesar 0,24 persen,” ungkapnya.

Sejumlah komoditas tercatat menjadi penopang kenaikan nilai nan diterima petani, antara lain kelapa sawit, gabah, karet, dan tomat. Namun, tidak semua subsektor mengalami perbaikan. Subsektor hortikultura justru mencatat penurunan paling dalam, sehingga menjadi penekan utama NTP secara keseluruhan.

“Kalau kita cermati subsektor NTP-nya, subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP sebesar 5,31 persen lantaran tadi ya indeks nilai nan diterima oleh petani turun sebesar 4,99 persen sedangkan indeks nilai nan dibayar oleh petani naik sebesar 0,33 persen,” tutur Ateng.

Penurunan pada subsektor hortikultura dipengaruhi oleh melemahnya nilai sejumlah komoditas utama seperti cabe rawit, cabe merah, kol kubis, dan bawang merah. Selain hortikultura, subsektor peternakan serta perikanan, baik tangkap maupun budidaya juga mengalami penurunan NTP.

Di sisi lain, beberapa subsektor tetap menunjukkan perbaikan. Tanaman pangan dan perkebunan rakyat menjadi penopang dengan mencatat kenaikan NTP pada April 2026.

“Nah sedangkan subsektor nan mengalami kenaikan NTP pada bulan April tahun 2026 ialah subsektor tanaman pangan dan tanaman perkebunan rakyat. Masing-masing mengalami peningkatan NTP sebesar 0,43 persen dan juga 1,62 persen,” katanya.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan