Aries Fadhilah (sketsa gambar menggunakan AI)(Dok Metro TV)
SEMAKIN bertambah usia, saya memilih untuk tidur daripada melek menahan kantuk demi menyaksikan laga Piala Dunia. Dulu, demi Piala Dunia, begadang semalam suntuk bukan perkara besar. Sekarang, setelah seharian bekerja, kasur jauh lebih menggoda daripada layar televisi. Apalagi pertandingan dimainkan awal hari waktu Indonesia.
Tetapi ada satu pengecualian. Selama Lionel Messi tetap mengenakan seragam langit biru-putih Argentina, saya tetap sanggup melawan kantuk. Kebetulan laga Argentina vs Cape Verde di fase gugur, berjalan pada Sabtu pagi waktu Indonesia.
Saya nan biasanya kembali tarik selimut setelah salat subuh, kali ini memlih tetap terjaga. Bukan semata lantaran Argentina adalah juara dunia, melainkan lantaran saya mau menikmati salah satu pesepak bola terbaik sepanjang sejarah memainkan sihirnya. nan membikin saya memperkuat melek adalah langkah Messi membikin sepak bola tampak begitu sederhana sekaligus bagus dan membuatnya 8 kali diganjar penghargaan Ballon d’Or, pemain terbaik sejagat.
Di setiap turnamen besar selalu ada dua cerita. Cerita tentang tim besar nan mau mempertahankan kejayaan, dan cerita tentang negara mini nan datang tanpa beban. Saya selalu menyukai keduanya. Sebagian Anda mungkin ingat dengan kisah Kamerun di Piala bumi 1990. Mereka mengalahkan juara memperkuat Argentina 1-0 di penyisihan grup, saat itu Argentina tetap diperkuat Maradona. Saat itu, sejarah mencatat Kamerun akhirnya menjadi negara Afrika pertama nan lolos ke perempat final Piala Dunia.
Argentina adalah kisah tentang tradisi sepak bola nan kental. Negeri berpenduduk sekitar 47 juta jiwa nan melahirkan nama-nama besar seperti sang legenda Diego Maradona, Lionel Messi, hingga generasi pemain nan menghuni liga-liga terbaik Eropa.
Sebaliknya, Cape Verde adalah kisah tentang mimpi. Negara kepulauan di lepas pantai Afrika Barat itu hanya dihuni sekitar 600 ribu penduduk. Jumlahnya apalagi tidak sebesar masyarakat satu kota besar di Indonesia.
Namun, sepak bola membikin mereka berdiri sejajar dengan negara-negara besar. Di lapangan, ukuran negara menjadi tidak lagi penting. nan menentukan hanyalah keberanian, disiplin, dan keyakinan.
Itulah kenapa saya selalu menyukai cerita-cerita seperti Cape Verde. Tim nan datang bukan untuk menjadi pelengkap, tetapi untuk membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal luas wilayah negara ataupun jumlah penduduk.
Kalaupun akhirnya Cape Verde kudu mengakui kelebihan tim sekelas Argentina, kekalahan itu saya percaya tetap menyisakan kebanggaan. Sebab, bagi negara kecil, lolos ke panggung terbesar bumi saja sudah menjadi kemenangan nan bakal dikenang bertahun-tahun. Anak-anak bakal tumbuh dengan mimpi baru. Dunia akhirnya tahu bahwa ada sebuah negara berjulukan Cape Verde.
Lalu, saya membayangkan Indonesia. Bayangkan jika suatu hari Merah Putih betul-betul tampil di Piala Dunia. Mungkin jalanan bakal lebih lengang saat Timnas bermain. Mungkin perdebatan politik bakal berakhir sejenak. Mungkin linimasa media sosial bakal dipenuhi foto-foto Garuda, bukan saling serang di media sosial. Untuk beberapa jam, kita bakal mempunyai satu identitas nan sama: Indonesia.
Sepak bola memang tidak bakal menurunkan nilai di pasar. Tidak bakal menguatkan rupiah alias mengatrol IHSG. Tidak pula langsung menciptakan lapangan kerja. Namun, sepak bola punya keahlian nan jarang dimiliki perihal lain: membikin jutaan orang melupakan sejenak beban hidup dan merasa bangga menjadi bagian dari sebuah bangsa.
Sampai hari itu betul-betul datang, kita tetap menjadi penonton nan setia. Bersyukur siaran Piala Dunia bisa dinikmati cuma-cuma di televisi milik Pemerintah.
Mungkin memang begitulah nasib sebagian dari kita. Ketika negara lain sibuk menghitung kesempatan lolos ke babak berikutnya, kita tetap sibuk menghitung apakah listrik, internet, dan kopi cukup sampai peluit panjang berbunyi.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·