Nikah Bukan Lagi Tujuan Utama?

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Foto: Pexels/Rizki Koto

Menikah tetap sering dianggap sebagai penanda seseorang telah "berhasil" memasuki fase kehidupan nan baru. Pertanyaan seperti, "Kapan nikah?" alias "Usianya sudah cukup, kok belum menikah?" tetap sering terdengar dalam beragam kesempatan. Tanpa disadari, pertanyaan-pertanyaan tersebut membentuk dugaan bahwa menikah adalah tujuan nan kudu dicapai oleh setiap orang.

Namun, langkah pandang itu mulai berubah, terutama di kalangan generasi muda. Bagi banyak orang, menikah bukan lagi sasaran utama nan kudu dikejar secepat mungkin, melainkan salah satu pilihan hidup nan dipertimbangkan dengan matang. Perubahan ini bukan berfaedah generasi muda anti terhadap pernikahan, tetapi mereka semakin menyadari bahwa membangun rumah tangga memerlukan kesiapan nan jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi tuntutan usia alias tekanan sosial.

Salah satu penyebabnya adalah kondisi ekonomi. Biaya hidup nan terus meningkat membikin banyak orang memilih memprioritaskan pendidikan, karier, alias kestabilan finansial sebelum memutuskan menikah. Mereka mau memastikan bahwa keputusan tersebut tidak hanya didasarkan pada perasaan, tetapi juga kesiapan untuk menjalani tanggung jawab jangka panjang.

Selain aspek ekonomi, perkembangan media sosial ikut memengaruhi langkah masyarakat memandang pernikahan. Melalui media sosial, orang dapat memandang beragam realitas kehidupan rumah tangga, baik nan membahagiakan maupun nan penuh tantangan. Hal ini membikin banyak orang lebih realistis dalam memandang pernikahan. Mereka tidak lagi memandang pernikahan sebagai akhir dari perjalanan hidup, melainkan awal dari tanggung jawab baru nan memerlukan komitmen dan kerja sama.

Sayangnya, perubahan langkah berpikir ini sering kali disalahartikan. Tidak sedikit nan menganggap generasi muda terlalu pemilih, takut berkomitmen, alias terlalu sibuk mengejar karier. Padahal, memilih untuk menunda menikah bukan berfaedah menolak pernikahan. Justru, keputusan tersebut dapat menjadi corak tanggung jawab agar tidak memasuki pernikahan tanpa kesiapan emosional, mental, maupun finansial.

Menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup sudah tidak lagi relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Seseorang tidak bisa dinilai sukses alias kandas hanya lantaran status pernikahannya. Setiap orang mempunyai kondisi, prioritas, dan garis waktunya masing-masing. Ada nan siap menikah di usia muda, ada pula nan baru merasa siap setelah mempunyai kestabilan hidup. Tidak ada satu standar nan dapat diberlakukan untuk semua orang.

Yang lebih krusial adalah gimana setiap perseorangan bisa menjalani hidup dengan bertanggung jawab, menghargai pilihannya sendiri, dan menghormati pilihan orang lain. Sudah saatnya kita berakhir memandang pernikahan sebagai tanggungjawab nan kudu segera dipenuhi. Menikah adalah keputusan besar nan layak diambil ketika seseorang betul-betul siap, bukan ketika lingkungan menganggap waktunya telah tiba.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan