Niko Prayoga
, Jurnalis-Senin, 07 September 2026 |06:15 WIB

Ngeri! Abu Vulkanik Tak Terlihat dan Tak Berbau tapi Bisa Bikin Iritasi Mata Hingga Penyakit Paru (Foto: Okezone)
JAKARTA — Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak selalu dapat dilihat alias dicium, tetapi paparan partikel dan gas nan terkandung di dalamnya dapat memicu beragam gangguan kesehatan. Dampaknya dapat dirasakan mulai dari iritasi mata dan saluran pernapasan hingga meningkatkan akibat penyakit paru jika paparan berjalan dalam jangka panjang.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, dalam unggahan di akun Instagram-nya, mengingatkan bahwa ancaman musibah letusan gunung berapi tidak hanya berasal dari lava alias awan panas.
Abu vulkanik nan membumbung tinggi dan terbawa angin kerap dianggap sebagai debu biasa. Padahal, material tersebut dapat mengandung partikel dan gas nan rawan bagi kesehatan. Masyarakat pun diimbau tidak meremehkan paparan abu vulkanik selama erupsi berlangsung.
“Perhatian! Partikel dan gas nan rawan bagi kesehatan dari abu vulkanik ini banyak nan tidak terlihat dan tidak berbau,” kata dr. Adam.
Kandungan Abu Vulkanik
Menurutnya, abu vulkanik dapat mengandung beragam gas dan senyawa kimia, mulai dari karbon dioksida (CO₂), sulfur dioksida (SO₂), hidrogen klorida (HCl), hidrogen sulfida (H₂S), radon (Rn), hidrogen fluorida (HF), hingga masam sulfat (H₂SO₄).
Karena sebagian partikel dan gas tersebut tidak mempunyai aroma unik maupun bentuk nan mudah dikenali, keberadaannya dapat diabaikan hingga menimbulkan gangguan kesehatan. Paparan abu vulkanik dapat memengaruhi sejumlah organ tubuh, mulai dari indikasi ringan hingga gangguan nan lebih serius.
Di antaranya sebagai berikut:
- Mata: Mengalami iritasi, kemerahan, dan terus berair.
- Hidung dan saluran pernapasan: Memicu bersin, iritasi saluran napas, hingga penumpukan lendir berlebih.
- Kepala: Menimbulkan sensasi pusing, keliyengan, hingga nyeri kepala.
- Saluran pencernaan: Dapat menyebabkan mual, muntah, dan nyeri perut.
- Paru-paru: Dapat menyebabkan laju pernapasan meningkat hingga memicu keluhan sesak napas.
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·