Nepal Waspadai Banjir Susulan

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Nepal dan Tibet diterjang banjir bandang. Pemerintah Nepal memperingatkan penduduk bakal kemungkinan banjir susulan.

Dilansir AFP, Minggu (30/8/2026), pihak berkuasa di Nepal memperingatkan kemungkinan banjir baru pada hari Minggu (30/8). Otoritas mendesak penduduk di distrik nan terkena banjir untuk tetap waspada setelah permukaan air naik di Sungai Bhotekoshi.

Peringatan banjir dikirim ke ponsel penduduk sepanjang Minggu (30/8) pagi saat tim penyelamat bekerja untuk membersihkan jalan raya utama nan menghubungkan Kathmandu. Daerah Kathmandu adalah salah satu wilayah nan paling parah terkena akibat banjir luar biasa pada hari Rabu (26/8).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di kota Galchhi, sekelompok penduduk mencari tempat nan lebih tinggi di jembatan terdekat dan menyaksikan sungai mengalir deras. Orang-orang menunjuk ke bebatuan besar nan hanyut ke hilir selama banjir sebelumnya, sementara nan lain nan berdiri di jembatan gantung di atas air diperingatkan dengan peluit.

Ilmuwan: Banjir Dahsyat di Nepal Dipicu Proses Puluhan Tahun

Sementara itu, intelektual percaya air bah nan menerjang Nepal dan Tibet bermulai ketika sebagian gletser beserta lereng gunung di bawahnya runtuh.

Di puncak Langtang Lirung setinggi 7.000 meter di perbatasan Nepal-Tibet, sebagian lereng gunung ambrol dan menyeret sebagian gletser bersamanya.

Massa es, batu, dan puing nan terbentuk menghantam Sungai Lhende Khola di bawahnya dan terus membesar sebelum menerjang hilir di distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading di Nepal.

Jeffrey Kargel, intelektual Planetary Science Institute, menghitung aliran material menempuh 22 kilometer pertama dengan kecepatan rata-rata 193 km/jam, mencapai dasar lembah kurang dari tujuh menit.

Permukaan sungai di lembah nan terdampak dilaporkan naik hingga sembilan meter dalam separuh jam.

Ini bukan pertama kali musibah melanda area nan sama. Banjir Juli 2025 menewaskan sembilan orang setelah hujan deras menyebabkan Sungai Lhende dan Bhote Koshi meluap.

Pegunungan sekitar Langtang mengalami pemanasan dengan laju luar biasa nan mengubah area itu sehingga menurut ilmuwan, membikin musibah seperti ini makin mungkin terjadi.

Penelitian Bethan Davies, guru besar glasiologi Newcastle University, menunjukkan wilayah di atas 4.000 meter di tangkapan air Langtang menghangat sekitar lima kali lebih sigap dibandingkan rata-rata dunia sejak 1960-an. Tren tersebut semakin tajam satu dasawarsa terakhir.

Salah satu penyebabnya adalah mencairnya salju dan es nan kemudian memperlihatkan batuan berwarna gelap di bawahnya. Batuan gelap menyerap lebih banyak panas sehingga mempercepat pemanasan gunung.

Menurut Ella Gilbert, intelektual suasana British Antarctic Survey, laju hilangnya es dari gletser di Himalaya berlipat dobel sejak tahun 2000.

"Kita tahu pemanasan suasana membikin gletser di Himalaya jadi tidak stabil. Ketika stabilitas gletser terganggu, keruntuhan mendadak dapat terjadi dan memicu tragedi seperti ini," paparnya.

Dr. Davies juga menyoroti mencairnya permafrost, lapisan tanah nan biasanya tetap membeku sepanjang tahun untuk menjaga lereng gunung tetap kokoh. "Permafrost seumpama 'lem' perekat batu-batuan," katanya.

Ketika tanah menghangat dan "lem" tersebut mencair, lereng curam seperti di atas Langtang Lirung semakin tidak stabil.

The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan menyusutnya gletser, salju, dan permafrost membikin area pegunungan bumi makin tak stabil. Peristiwa seperti di Nepal diperkirakan kian sering seiring menghangatnya iklim.

Meski demikian, mahir belum menghubungkan musibah ini secara langsung dengan perubahan iklim. "Kemungkinan besar ada kombinasi beragam aspek berkedudukan dan kita tahu bahwa semuanya diperparah perubahan iklim," kata Dr. Gilbert.

Korban Tewas Jadi 750 Orang

Dilansir AFP, Minggu (30/8/2026), jumlah korban tewas akibat banjir Nepal dan Tibet bertambah menjadi 750 orang. Sementara itu, ribuan korban lainnya tetap hilang.

Hingga kini, tim penyelamat di Nepal dan China tetap berupaya mencari ribuan orang nan lenyap setelah banjir bandang dan longsor menerjang area Himalaya. Banjir tersebut membawa material berupa air, lumpur, batu, dan es nan menyapu sejumlah desa.

Operasi pencarian dan pengamanan juga berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi para korban selamat dari wilayah terdampak. Kerusakan prasarana membikin akses menuju sejumlah letak sulit, sementara persediaan makanan dan air mulai menipis.

Upaya pencarian korban lenyap turut terkendala cuaca jelek dan kekhawatiran terjadinya banjir susulan. Hujan nan tetap mengguyur wilayah terdampak meningkatkan akibat bagi tim penyelamat.

Material es dan lumpur nan terbawa banjir juga membentuk sejumlah waduk lumpur. Salah satu susunan tersebut menjadi ancaman bagi petugas nan tetap melakukan pencarian korban di wilayah terdampak.

Otoritas Nepal sebelumnya menyerukan seluruh tim penyelamat untuk segera beranjak ke letak nan aman. Imbauan itu disampaikan setelah muncul info mengenai kemungkinan jebolnya salah satu waduk di sisi wilayah Tibet.

Saksikan info selengkapnya hanya di program detikPagi jenis Senin (31/8/2026). Nikmati terus menu sarapan info unik detikPagi secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube dan TikTok detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.

"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"

(vrs/vrs)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑