Nekat Pakai BBM Tak Sesuai Rekomendasi di Mobil Hybrid, Ini Dampaknya pada Mesin!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Nekat Pakai BBM Tak Sesuai Rekomendasi di Mobil Hybrid, Ini Dampaknya pada Mesin!

Nekat Pakai BBM Tak Sesuai Rekomendasi di Mobil Hybrid, Ini Dampaknya pada Mesin! (Ilustrasi/Dok Okezone)

JAKARTA – Pengguna mobil hybrid diminta untuk selalu menggunakan bahan bakar minyak (BBM) sesuai rekomendasi pabrikan. Langkah ini sangat krusial agar komponen mesin tidak mengalami gangguan serius akibat penggunaan jenis BBM nan tak sesuai spesifikasi.

Kenaikan nilai sejumlah jenis BBM belakangan ini memang berpotensi menambah beban biaya operasional kendaraan. Namun, beranjak ke BBM berbobot oktan lebih rendah demi menekan pengeluaran justru menjadi ancaman besar bagi kesehatan mesin kendaraan.

1. Risiko Mesin Ngelitik (Knocking)

Mesin mobil modern, khususnya teknologi hybrid, dirancang mempunyai rasio kompresi tinggi. Pada lineup mobil hybridToyota misalnya, rasio kompresi mesin berada di atas 13:1, sehingga memerlukan bahan bakar dengan nilai Research Octane Number (RON) minimal di atas 90 alias sesuai standar pedoman pabrikan.

Bahan bakar dengan nilai oktan lebih rendah mempunyai sifat lebih mudah terbakar. Pada mesin hybrid modern, BBM beroktan rendah berisiko terbakar sendiri sebelum busi memercikkan api sesuai siklus kerja mesin. Kondisi ini memicu terjadinya knocking atau mesin mengelitik.

Proses pembakaran tidak sempurna akibat oktan rendah bakal membikin mesin kehilangan tenaga (power loss). Suara mengelitik ini umumnya makin terdengar jelas saat mobil membawa muatan penuh, menyalip kendaraan lain, alias saat melintasi jalan menanjak. Dalam jangka panjang, kejadian ini bakal mempercepat kerusakan komponen di dalam ruang bakar.

2. Penumpukan Kerak dan Pemborosan BBM

Dampak jelek lainnya adalah munculnya deposit kotoran alias kerak di dalam ruang bakar nan menempel dan mengganggu keahlian komponen. Selain itu, suhu di ruang mesin bakal melonjak akibat beban kerja komponen nan tidak ideal.

Hal ini berujung pada penurunan performa kendaraan. Alih-alih hemat, pengemudi condong menginjak pedal gas lebih dalam untuk mengejar tenaga, nan justru membikin konsumsi bahan bakar menjadi makin royal serta mempercepat ausnya komponen internal mesin.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑