Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis daya parah nan mencakup kelangkaan bahan bakar, pemadaman listrik, hingga krisis air bersih telah melumpuhkan Libya selama lebih dari enam minggu. Rentetan krisis nan saling berangkaian ini tak hanya menghancurkan aktivitas ekonomi warga, tetapi juga memicu gelombang demonstrasi nan berujung pada kekerasan di beragam wilayah.
Mengutip Xinhua, Kamis (3/9/2026), antrean panjang kendaraan tampak mengular di luar stasiun pengisian bahan bakar di ibu kota Tripoli di tengah suhu panas nan mendekati 40 derajat Celcius. Ahmed Al-Sharif (49), seorang pengemudi truk, terpaksa kudu menunggu dua hingga tiga hari hanya untuk mendapatkan solar.
Masalah ini diperparah oleh melonjaknya nilai solar di pasar gelap nan mencapai 8 dinar Libya alias sekitar US$1,26 (Rp22.302) per liter, melonjak lebih dari 50 kali lipat dari nilai subsidi resmi.
"Jika saya membeli solar di pasar gelap, saya tidak bakal bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan pendapatan dari pekerjaan sehari-hari setelah membayarnya," ucapnya.
Pemadaman listrik nan berjalan lebih dari 10 jam sehari juga menghantam keras sektor bisnis. Khaled Ibrahim (32), pemilik supermarket di Tripoli timur, menyebut bahwa matinya mesin pendingin telah membikin barang-barang bekunya membusuk dan air dingin tak lagi tersedia bagi pelanggan.
"Ini adalah musim terburuk bagi saya, dan saya tidak dapat memperkuat dalam kondisi seperti ini," paparnya.
Krisis ini apalagi merembet ke sistem perairan setelah terganggunya operasi Great Man-Made River, jaringan pipa akuaduk raksasa nan memasok air tawar ke sebagian besar wilayah Libya. Rafaa Zaid, pemilik kafe di Tripoli tengah, terpaksa kudu menutup total bisnisnya akibat kekeringan ini.
"Setiap hari nan berlalu tanpa membuka kafe berfaedah kerugian lain, tapi apa nan bisa saya lakukan? Saya tidak bisa bekerja tanpa air," ungkapnya.
Laporan Libya Herald pada akhir Agustus mencatat bahwa pemadaman listrik nan meluas ini telah memicu demonstrasi berujung kekerasan, di mana penduduk memblokir jalan dengan membakar ban hingga membarikade gedung-gedung pemerintah menggunakan puing-puing. Menanggapi kekacauan tersebut, Ketua Perusahaan Listrik Umum Libya (GECOL) Bashir Al-Marash berjanji bahwa krisis listrik ini bakal berhujung dalam dua minggu ke depan.
Di sisi lain, ahli bicara Brega Petroleum Marketing Company, Ahmed Al-Masallati, menyoroti halangan suplai nan berasal dari aspek eksternal.
"Krisis global, dan khususnya gangguan pengiriman di Selat Hormuz serta akibat krisis daya global, telah menunda kehadiran beberapa pengiriman bahan bakar ke Libya," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa penurunan produksi di kilang Zawia akibat pemadaman listrik dan masalah keamanan domestik turut memperburuk pasokan lokal. Meskipun Libya mempunyai persediaan minyak mentah terbukti terbesar di Afrika, negara ini sangat berjuntai pada impor produk olahan lantaran keterbatasan infrastruktur. Pakar daya dari Universitas Omar Al-Mukhtar, Tariq Al-Tarhouni, menilai akar masalah di negara tersebut sangat kompleks.
"Krisis listrik Libya bukan sekadar krisis pembangkitan listrik, melainkan krisis dalam pengelolaan seluruh sistem energi," tegasnya.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·