Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi keamanan di ibu kota Somalia, Mogadishu, memanas setelah pasukan pemerintah dan milisi nan berkawan dengan golongan oposisi terlibat baku tembak sepanjang malam hingga Kamis (4/6/2026) pagi. Bentrokan nan terjadi di sejumlah area padat masyarakat itu menyebabkan kerusakan properti, membakar kendaraan lapis baja, melukai penduduk sipil, dan memaksa sebagian masyarakat meninggalkan rumah mereka.
Gelombang kekerasan tersebut terjadi menjelang rencana demonstrasi besar pada Kamis nan menentang keputusan Presiden Somalia, Hassan Sheikh Mohamud, untuk tetap menjabat setelah masa jabatannya berhujung bulan lalu.
Ketegangan politik di negara Tanduk Afrika itu meningkat sejak parlemen pada Maret menyetujui perubahan konstitusi nan berpotensi memungkinkan Mohamud memperpanjang masa jabatannya selama satu tahun sekaligus menunda penyelenggaraan pemilu.
Menurut keterangan sejumlah penduduk kepada Reuters, pertempuran dimulai sekitar pukul 17.00 waktu setempat pada Rabu dan bersambung hingga Kamis pagi. Ribuan personel pasukan pemerintah dikerahkan ke distrik Howlwadag dan Abdiasis di Mogadishu, wilayah nan menjadi letak bentrok dengan milisi pendukung tokoh-tokoh oposisi.
Konflik tersebut makin memanas setelah mantan Presiden Somalia, Sharif Sheikh Ahmed, menuduh pasukan pemerintah menyerang kediamannya.
Ahmed, nan memimpin Somalia pada periode 2009 hingga 2012, mengatakan rumahnya menjadi sasaran operasi militer pemerintah. Ia juga menuduh pemerintahan Mohamud telah melakukan perubahan konstitusi secara tidak sah.
"Pasukan pemerintah mengepung dan menyerang rumah saya. Saya tidak pernah takut dengan serangan garang mereka, saya bakal melawan balik," kata Ahmed dalam sebuah video nan diunggah di akun FB miliknya pada malam hari.
Tuduhan terhadap pemerintah juga datang dari mantan Perdana Menteri Somalia, Hassan Ali Khaire.
Dalam unggahan di platform X, Khaire menuduh pasukan pemerintah menggunakan persenjataan berat, termasuk senjata antitank dan drone, di area nan padat penduduk.
Khaire juga menuduh pemerintah melancarkan serangan militer nan ditujukan untuk membunuh dirinya dan Ahmed.
Ia mengatakan pemerintah telah mengarahkan "serangan militer nan berkepanjangan dan tanpa pandang bulu" nan bermaksud menyerang dirinya dan mantan presiden tersebut.
Sementara itu, penduduk nan berada di letak menggambarkan situasi nan mencekam ketika mortir dan beragam jenis senjata menghantam area permukiman.
Seorang penduduk berjulukan Ahmed Ismail mengatakan sebuah proyektil mortir menghantam rumah tetangganya dan melukai seorang ibu.
"Sebuah peluru mortir mendarat di rumah tetangga saya, melukai seorang ibu. Sebuah rumah besar di dekat kami juga terbakar, mortir dan senjata lainnya mendarat di sana," kata Ismail kepada Reuters pada Kamis pagi.
Ia menggambarkan gimana penduduk sipil menjadi korban di tengah pertempuran antara kedua pihak.
"Di depan rumah kami, saya memandang seorang laki-laki terluka dan digendong. Warga sipil terus melarikan diri dari perang, saya memandang mereka melangkah sembari menggendong anak-anak dan mengutuk kedua golongan nan bertikai," ujarnya.
Kesaksian serupa juga datang dari penduduk lain berjulukan Mohamud Farah. Ia mengatakan milisi nan berkawan dengan oposisi sukses membakar sedikitnya dua kendaraan lapis baja milik pasukan pemerintah selama bentrok berlangsung.
Kekerasan terbaru ini kembali menyoroti rapuhnya stabilitas politik dan keamanan Somalia nan selama lebih dari tiga dasawarsa bergulat dengan bentrok berkepanjangan.
Negara tersebut mengalami kekacauan sejak runtuhnya rezim penguasa otoriter Mohamed Siad Barre pada 1991. Sejak saat itu, Somalia menghadapi beragam bentrok bersenjata, pertikaian antarklan, serta lemahnya pemerintahan pusat.
Selain bentrok politik internal, Somalia juga terus menghadapi pemberontakan nan telah berjalan nyaris dua dasawarsa oleh golongan militan al-Shabaab nan berafiliasi dengan jaringan al-Qaeda.
Perkembangan terbaru di Mogadishu memicu kekhawatiran internasional. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Mogadishu mengecam kekerasan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan nan tidak bertanggung jawab.
Dalam unggahan di X, Kedutaan Besar AS menyebut kekerasan itu sebagai tindakan sembrono.
"Para pemimpin Somalia dari semua pihak mempunyai tanggung jawab untuk menjaga stabilitas dan menyelesaikan perbedaan melalui cara-cara damai," demikian pernyataan kedutaan.
Pemerintah Inggris juga menyampaikan keprihatinan atas situasi nan berkembang di Somalia.
London menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan perbincangan guna menyelesaikan perbedaan politik. Pemerintah Inggris menegaskan bahwa kekerasan nan terjadi tidak dapat diterima.
(luc/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·