NasDem Minta BGN Putus Kontrak SPPG yang Kerap Bermasalah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta -

Anggota Komisi IX DPR sekaligus Ketua DPP NasDem Irma Suryani Chaniago meminta Badan Gizi Nasional (BGN) tak hanya memberikan hukuman suspend kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) nan bermasalah dalam penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dia mengatakan SPPG nan berulang kali bermasalah hingga menakut-nakuti keselamatan layak diputus kontraknya.

"Jika sudah menakut-nakuti nyawa dan sudah beberapa kali bermasalah sebaiknya diputus kontraknya," kata Irma kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Irma mengatakan SPPG nan tidak memenuhi standar kudu segera disuspend. Menurutnya, SPPG nan bermasalah tak boleh dibiarkan lantaran bisa menjadi persoalan serius di kemudian hari.

"Saya minta BGN suspend SPPG nan tidak sesuai standard, lantaran bakal menjadi peledak waktu dan tidak boleh pandang bulu punya siapa pun SPPG tersebut," ujarnya.

Irma juga meminta BGN bergerak sigap untuk mengganti SPPG nan tidak memenuhi persyaratan dengan SPPG lain nan telah memenuhi standar. Menurutnya, SPPG nan telah memenuhi persyaratan bisa mengambil alih pelayanan dari SPPG nan bermasalah.

"Sementara BGN kudu kerja sigap juga, SPPG nan sudah bangun 100% dengan syarat nan terpenuhi, laik higienis, luas SPPG, IPAL dan mempunyai jurumasak nan tersertifikasi serta lingkungan SPPG nan bersih harusnya bisa mengganti kan SPPG nan tidak sesuai persyaratan dan sudah beraksi lebih dari satu tahun (minimal mereka sudah kembali modal)," tuturnya.

Diketahui, ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, diduga keracunan setelah menyantap menu MBG. BGN menyebut jumlah santri nan keracunan mencapai 512 orang.

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN) Ketut Sumedana mengungkap penyebab ratusan santri tersebut keracunan setelah menyantap menu MBG. Ketut mengatakan ada kelalaian pada standard operating procedure (SOP) pendistribusian MBG.

"Itu lantaran ketidakdisiplinan daripada SPPG dan pendistribusian. Jadi semestinya itu loading 4 jam selesai dari masak langsung dibagikan. Tapi faktanya di lapangan lebih dari 4 jam," kata Ketut kepada wartawan, Kamis (3/9).

"Nah itulah nan menyebabkan keracunan, lantaran MBG ini kan nggak pakai pengawet. Jadi mudah dia basi. Mudah bakterinya sigap berkembang," lanjutnya.

Selain di Sidoarjo, peristiwa keracunan MBG juga terjadi SMAN 1 Lasem (Smanel). Sebanyak 750 siswa dan pembimbing diduga keracunan menu MBG.

Dilansir detikJateng, Kamis (3/9), aktivitas belajar mengajar (KBM) dihentikan lebih sigap gara-gara peristiwa itu. Para siswa dipulangkan. Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, menjelaskan para siswa dan pembimbing mengalami mual dan diare sekitar pukul 09.00 WIB.

"Akhirnya saya menyuruh agar tiap kelas didata nan mengalami diare itu. Setelah didata ada 20-31 orang dalam satu kelas. Sampai 33 kelas itu total 725 anak nan diare dan pembimbing ada 25 orang. Kalau total jumlah siswa itu ada 1.174, pembimbing 95 orang," jelas Juhartutik.

(amw/lir)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News